Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Bertemu Kakek


__ADS_3

Fathan sudah berangkat menuju kota Bandung sejak subuh tadi. Pria itu akan menemui cucunya dan calon cucu mantunya. Pria tua itu juga sudah tahu di mana resto Ikram yang baru, sehingga ia menyuruh supirnya untuk menuju ke resto baru Ikram.


Sekitar jam tujuh pagi, Fathan sudah sampai ke kota Bandung, tetapi ia berhenti sejenak di restoran untuk sarapan pagi, sekitar tiga puluh menit, pria tua itu dan sang supir berada di restoran, setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju resto Ikram. Baru saja saja pria itu turun dari mobil dan melihat bangunan yang baru selesai di depannya, pria dengan tongkat di tangan kanannya itu pun tersenyum lalu berjalan masuk.


Namun, baru saja beberapa langkah, ia dikejutkan dengan seorang gadis yang berlari turun dari lantai atas dengan tergesa. Saat gadis itu begitu dekat, Fathan tersenyum lebar dan memanggilnya, "Vanya?"


Yuki yang terkejut dengan keberatan Fathan langsung terdiam mematung di tempatnya, ia ingin sekali berkata bahwa dirinya memang Vanya, tetapi nalarnya terlanjur sadar bahwa saat ini dirinya adalah Yuki.


"Maaf, nama saya Yuki." Yuki berkata dengan berusaha bersikap bahwa dia benar-benar orang lain dan tak mengenal Fathan.


"Yuki? Ah nama yang bagus, lalu apa yang kamu lakukan di sini, Nak?" ucap Fathan sambil terkekeh.


"Eh, itu Masnya eh ... Mas Ikram tak sadarkan diri, badannya panas banget." Gadis itu menunjuk ke lantai atas. Fathan yang mendengar itu pun. sedikit panik mendengar cucunya sakit.


Tak ditunda lagi, pria tua itu langsung menyuruh supirnya untuk membawa Ikram ke rumah sakit, tetapi saat Yuki akan pamit untuk melanjutkan pekerjaannya, Fathan menahannya dan menyuruh gadis itu untuk ikut serta. Mau tak mau Yuki pun akhirnya ikut ke mobil Fathan.


Yuki duduk di belakang menyangga tubuh tinggi Ikram yang masih terasa panas dan pria itu juga belum sadarkan diri. Karena tubuh Ikram yang berat, akhirnya Yuki membiarkan kepala pria itu berada di pangkuannya. Fathan melihat dari kaca spion dalam dan tersenyum.


Yuki sendiri tak sadar sedang diperhatikan karena dirinya ternyata sedang memperhatikan wajah Ikram dari dekat. Tampan sih, tapi sayang nggak tanggung jawab, jahat, belagu ah pokoknya nyebelin.


"Cucu Kakek memang tampan," ucap Fathan tiba-tiba yang membuat Yuki mengerjap kaget dan langsung menatap ke arah pria tua di depannya.


"Eh ... ini lho suhu tubuhnya tambah tinggi ... Pak." Yuki sedikit gugup.


"Kakek, panggil saya Kakek." Pria tua itu langsung menyela ucapan Yuki. Fathan sangat mengenal Vanya dan dia yakin bahwa gadis itu adalah Vanya, walaupun gadis itu menyembunyikan wajahnya dengan menggunakan kacamata.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, kan mau dibawa ke rumah sakit, nanti juga sembuh, biasanya dia kalau panas gini pasti sebelumnya makan makanan pedas," ucap Fathan.


Yuki jadi teringat kejadian malam tadi saat Ikram memasak mie instan dan berusaha menghabiskan mie geprek yang pedas itu.


"Dasar nakal, sudah tahu nggak bisa makan pedas, masih saja maksa." Fathan sedikit menggerutu.


Bersamaan itu, mereka sampai ke sebuah rumah sakit yang ada di kota kembang ini. Supir Fathan langsung turun dan membantu menurunkan Ikram. Beberapa perawat datang dengan membawa belankar. Ikram dibaringkan di sana dan dibawa ke UGD.


Yuki dan Fathan duduk di ruang tunggu, keduanya terlihat tenang. Pria tua itu kemudian mengajak Yuki ke resto terdekat, setelah menitipkan Ikram pada supirnya. Setelah mereka duduk di sebuah meja yang paling ujung dan suasana juga terlihat agak sepi, Fathan menatap Yuki dengan lekat. Tak berselang lama, Fathan berucap, "Maafkan Ikram, Vanya. Kakek nggak tahu kalau dia akan kabur dari pernikahan kalian."


Yuki tersentak dengan ucapan pria tua di depannya, kenapa penyamarannya tak berdampak pada Fathan. Padahal ia sudah berusaha bersikap tak acuh pada pria itu, seperti orang asing. Namun, tetap saja Fathan mengenalinya.


"Kakek punya rencana, kamu mau dengar?" usulnya. Yuki masih bergeming, ia bingung harus bersikap seperti apa.


"Tetaplah menjadi Yuki dan buat Ikram jatuh hati padamu, Nak. Kamu masih mau kan menjadi cucu Kakek?" Pria itu menatap Yuki dengan tatapan tak terbaca.


Fathan menarik tangan gadis itu, kemudian menenangkannya. "Maafkan Kakek. Kakek yakin Ikram akan mencintaimu dengan tulus jika sudah benar-benar mengenalmu."


"Orang tuamu sudah mencari mu ke mana-mana tetapi belum juga berhasil, bahkan mami mu sering sakit, Nak." Fathan mengusap lengan gadis itu yang masih terisak.


Yuki makin sakit, saat tahu bahwa maminya juga sakit memikirkannya. Kemudian, setelah dirasa agak lega, Yuki kini menatap pria tua di depannya. "Apa tawaran Kakek masih berlaku?" ucapnya.


"Oh, tentu saja, buat Ikram sadar bahwa pilihan Kakek adalah benar." Pria tua itu tersenyum lebar ke arah Yuki.


"Dengan syarat, tolong kabari mami bahwa aku baik-baik saja, dan jangan beritahu mereka tentang keberadaan ku dulu," ucap Yuki serius.

__ADS_1


"Tentu saja, itu hal gampang."


"Satu lagi ... aku tidak akan menikah dengan Mas Ikram, Kek." Yuki berkata dengan tegas.


Fathan tentu saja terkejut, tetapi pria itu yakin mungkin nanti Vanya akan memiliki perasaan yang sama.


"Tidak masalah, lakukan saja apa yang bisa membuat pemuda itu jatuh cinta." Yuki pun mengangguk, lalu mereka berdua pun langsung meninggalkan resto itu setelah mendapat kabar dari sang supir bahwa Ikram harus rawat inap untuk beberapa hari.


Saat mereka kembali ke rumah sakit, Ikram sudah mendapatkan kamarnya dan akan diantar ke sana. "Nak Yuki, karena Kakek harus kembali pulang, tolong jaga Ikram ya," ucap Fathan saat mereka sudah menempati kamar Ikram.


"Eh, saya harus bilang Mak dulu. Lagian Mas Ikram kan ada Mbak Olive, ya kan, Masnya?" Yuki menatap ke arah Ikram yang saat ini sudah sadarkan diri dan terbaring di ranjangnya.


"Semua ini gara-gara kamu, kamu yabg harus tanggung jawab, jangan bawa-bawa Olive," ketus Ikram walaupun suaranya lemah tetapi, kata-katanya tetap terdengar menyebalkan.


"Lho kok, aku?" Yuki menunjuk wajahnya sendiri.


"Iyalah, sudah dibilang aku nggak bisa makan pedas, masih aja maksa."


"Ye, yang pilih makanan itu siapa? Yang masak juga siapa?"


Perdebatan mereka membuat Fathan tersenyum. "Kalian memang serasi."


"Nggak!" Yuki dan Ikram berkata bersamaan.


"Oh ho ho, kalian memang berjodoh, baiklah Ikram, walaupun kamu gagal menikah dengan Vanya, Kakek harap kamu bisa bersama Yuki." Pria tua itu terus menggoda keduanya.

__ADS_1


"Amit-amit." Yuki mengetuk kepalanya tiga kali bergantian dengan meja nakas.


"Jangan salahkan aku kalau kamu jatuh cinta sama aku, Yuki."


__ADS_2