Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Lolos dari Bahaya


__ADS_3

Vanya tak menyangka bahwa Jafin ternyata pria yang jahat. Wanita itu tentu saja sangat ketakutan saat dirinya dibawa ke sebuah rumah bordil. Walaupun Vanya termasuk gadis yang polos, tapi dia tidak bodoh, ia tahu tempat seperti apa yang saat ini ia dan Jafin kunjungi.


Vanya memutar otak agar bisa lepas dari Jafin dan rumah laknat itu. Namun, Jafin benar-benar iblis, ia pergi meninggalkan Vanya begitu saja setelah mendapatkan uang yang ia inginkan.


Vanya sudah berada dekat jendela, ia menggertak pria tua yang saat ini ingin menerkamnya.


"Jika mendekat selangkah lagi, aku akan melompat dari sini!" Vanya mengancam. Namun, satu kakinya malah terpeleset jatuh, hingga tubuh gadis itu limbung dan akhirnya terpelanting jatuh.


"Tidak!" Vanya berteriak saat kini tubuhnya tergantung di sana dengan kedua tangannya memegang erat pada tepi jendela.


"Tolong!" Vanya berteriak panik, tetapi pria tua itu bukannya membantu, ia malah menatap Vanya dengan ketakutan.


"Sial! Aku ke sini untuk bersenang-senang bukan menyaksikan orang bunuh diri," umpat pria tua itu sambil terus berlari ke arah pintu.


Sementara itu, Vanya masih menahan tubuhnya dengan kedua tangannya yang sudah mulai tak kuat. "Jika, aku harus mati, setidaknya aku terhindar dari perbuatan laknat ini."


Karena sudah tak tahan lagi menopang tubuhnya, akhirnya kedua tangannya pun terlepas, dan tubuh gadis itu pun terjun ke bawah. Vanya menutup matanya dan berdoa meminta ampun atas semua dosa-dosanya. Namun, saat tubuh itu akan jatuh ke aspal, tiba-tiba sebuah mobil bak datang dengan muatan bahan-bahan makanan.


Vanya yang menutup matanya rapat-rapat tak merasakan apa pun. Apakah mati sesingkat ini? Gadis itu tak berani membuka matanya, ia takut bertemu malaikat Munkar dan Nakir.


Sampai akhirnya, gadis itu benar-benar terlelap.


Vanya berlari menyusuri hutan yang sangat gelap. Seorang pria bertubuh tinggi besar terus mengejarnya. "Mami, aku nggak mau dijual, mami tolong Vanya," gumam gadis itu sambil terus berlari.


Sampai akhirnya, ia bersembunyi si sebuah pohon besar. Namun, baru saja ia melangkah mundur, tiba-tiba seseorang membekapnya dari belakang


**


Di kediaman Pradipta

__ADS_1


Ehsan sedang menghubungi anak buahnya yang ditugaskan untuk mencari sang putri.


"Bagaimana bisa kalian belum menemukan putriku, hah!" Pria paruh baya itu terlihat frustrasi mendengar kabar bahwa anak buahnya kembali kehilangan jejak putrinya.


Ayudia semakin murung, dan tak mau berbicara dengan suaminya beberapa hari ini. Wanita itu sangat merindukan putri kesayangannya. "Semua ini gara-gara Mas Ehsan, jika kamu bisa menahan amarahmu, putriku tidak akan hilang seperti ini!" Ayudia tiba-tiba berteriak saat mendengar bahwa Vanya belum juga ditemukan.


Mereka juga sudah melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib, tetapi masih belum mendapatkan kabar. Ayudia sudah putus asa, tetapi ia tetap berdoa agar putrinya dijauhkan dari bahaya.


Ehsan menghampiri sang istri yang duduk di sofa kamarnya. "Maafkan aku, Sayang. Aku akan berusaha keras untuk menemukan putri kita," ucap Ehsan sambil menggenggam tangan istrinya.


"Vanya itu selalu mendapatkan semuanya, dia tak pernah hidup susah, sekarang dia berada di luar entah bagaimana keadaannya?" Ayudia menatap lekat suaminya.


Ehsan mengangguk dan mengusap pipi istrinya yang basah.


"Kenapa kamu membiarkan putriku hidup terlunta-lunta di luar sana, Mas? Kenapa?" bentak Ayudia.


"Kalau saja waktu itu kamu membiarkan dia memakai mobil dan fasilitasnya, aku tak akan setakut dan sekhawatir ini," geram Ayudia.


"Kamu harus menemukan Vanya, Mas. Hanya dia yang kita punya ...." Ayudia kembali terisak.


"Aku berjanji, akan menemukan putri kita dan membawanya pulang ke rumah ini." Ehsan mengusap punggung istrinya dan menciumi pucuk kepala istrinya.


Malam pun sudah semakin larut, Ayudia akhirnya terlelap karena lelah terus menangis. Sementara, Ehsan terus menghubungi setiap orang yang mungkin bisa dikunjungi oleh putrinya. Namun, semuanya nihil, tak ada yang dikunjungi oleh Vanya satu pun dari kerabat dan saudaranya, bahkan teman-teman Vanya pun tak ada yang tahu di mana gadis itu berada.


Sampai akhirnya, ia menghubungi Hanan untuk mencari tahu bagaimana perkembangan pencarian putranya yang tidak bertanggung jawab itu.


Suara sambungan telepon berbunyi, tetapi tak kunjung diterima oleh si pemilik ponselnya.


"Apakah pria itu sudah tidur jam segini?" gerutu Ehsan, lalu kembali menghubungi Hanan. Namun, kali ini sambungan teleponnya langsung diangkat oleh seseorang.

__ADS_1


"Apakah kau bisa tidur nyenyak, Hanan?" Ehsan kembali menggerutu, tetapi gerutuan itu dijawab oleh suara seorang perempuan.


"Maaf, Mas Ehsan ... suamiku sedang koma di rumah sakit," jawab istri dari Hanan.


"Apa?" Ehsan terkejut mendengar kabar buruk ini.


"Iya, Mas. Suamiku mengalami kecelakaan saat mencari putra dan putri kita ...." Manda mulai terdengar terisak.


Ehsan memejamkan matanya, mendengar kenyataan pahit yang dialami oleh sahabatnya itu. "Di rumah sakit mata Hanan dirawat?"


"Kami di Bandung, Mas Hanan dirawat di Rumah Sakit ...." Tiba-tiba sambungan teleponnya terputus, ternyata ponsel milik Ehsan kehabisan baterai.


"Ah, ****!" umpat Ehsan. Karena sibuk menghubungi semua orang, ia lupa mengisi baterai ponselnya.


"Lebih baik aku istirahat dan besok aku akan menghubungi Hanan kembali." Pria itu pun menuju nakas dan mengisi baterai ponselnya, lalu mulai naik ke ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah.


Keesokan paginya, Ehsan bangun kesiangan, pria itu tak mendapati sang istri di sampingnya. Ia pun langsung beranjak dan mengucek matanya yang masih perih.


"Kamu begadang lagi ya, Mas?" Ayudia menyapa suaminya sambil membawa teh hangat.


"Iya, aku tidur terlalu malam, aku ... ah aku mandi dulu sebentar." Ehsan turun dari ranjangnya, hendak ke kamar mandi. Sebelumnya ia mencium kening istrinya lama.


Ayudia hanya mengangguk dan membiarkan suaminya mandi terlebih dahulu. Wanita itu lalu kembali ke sofa dan menatap langit yang terlihat begitu cerah hari ini. "Di manapun kamu berada, Mami berdoa semoga kamu selalu sehat dan dijauhkan dari marabahaya, aamiin." Doa sama yang selalu dipanjatkan oleh Ayudia setiap pagi untuk putrinya.


"Aamiin." Tiba-tiba saja Ehsan sudah berada di belakang Ayudia dan mengamini doa istrinya.


"Hari ini, aku mau ke Bandung, Hanan mengalami kecelakaan ...."


"Apa? Kalau gitu aku ikut, Mas." Ayudia langsung beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Bersiaplah, aku akan menunggumu di bawah."


Sekitar pukul 08.00 pagi mereka berangkat ke Bandung menuju rumah sakit di mana Hanan dirawat. Manda sudah memberitahukan rumah sakitnya saat Ehsan kembali menghubungi nomor Hanan, saat sarapan tadi. Ehsan tidak mengendarai mobilnya sendiri, ada sopir yang mengemudikan mobil mereka selama perjalanan menuju kota kembang itu.


__ADS_2