
Pagi ini Yuki berencana untuk menyelesaikan pekerjaannya di resto milik Ikram. Bagaimana pun keadaannya gadis itu harus tetap bersikap profesional. Yuki pamit pada sang emak. Hari ini juga akan ada karyawan baru di warung nasi itu satu orang, namanya Ica. Jadi, Yuki bisa tenang menyelesaikan pekerjaannya di resto Ikram.
Gadis itu baru saja sampai di ruangan Ikram. Gadis itu akan menyelesaikan pengecatan terlebih dahulu, yang tertunda kemarin. Barang-barang yang sudah dipesan pun sudah datang dan Yuki tinggal menatanya dengan rapi.
Saat gadis itu sedang melakukan pekerjaannya, tiba-tiba seseorang datang.
"Sedang sibuk, Neng?" ucap pria itu yang membuat Yuki seketika menegang. Beruntungnya gadis itu selalu menggunakan masker saat bekerja.
"Eh, iya. Pak Ikramnya lagi di rumah sakit, Bang eh Kang?" Yuki tergagap saat memanggil pria di hadapannya. Pria yang dulu dengan tega menjual dirinya ke rumah bordil, Jafin.
"Apa? Aku baru tahu, di rumah sakit mana?" tanya Jafin sambil berjalan mendekat ke arah Yuki. Yuki sebenarnya takut, tetapi rasa bencinya lebih banyak lagi, jadi gadis itu tetap terlihat tenang. Yuki langsung memberi tahu nama rumah sakit tempat Ikram dirawat dan ia pun izin untuk melanjutkan pekerjaannya.
Namun, alih-alih pergi Jafin malah menarik masker Yuki hingga benda itu terlepas. Yuki tentu saja terkejut dan menatap tajam ke arah pria di sampingnya. "Apa yang kau lakukan!" bentaknya.
"Ah, ternyata memang bukan, maaf. Aku sedang mencari seorang gadis. Saat melihatmu postur tubuhmu sangat mirip dengannya." Jafin meminta maaf, lalu memberikan masker baru untuk Yuki.
Kemudian pria itu pun berlalu meninggalkan Yuki.
Yuki menghela nafasnya lega, untung saja tadi dia memakai tompel palsu di dagunya. Entah mengapa perasaannya sedikit takut, kalau tiba-tiba Jafin datang dan mengenalinya. "Syukurlah, aku pakai penyamaran yang sempurna hari ini." Yuki mengusap dadanya yang benar-benar berdebar dengan kencang.
Setelah itu, Yuki melanjutkan kembali pekerjaannya. Hari ini Yuki akan menyelesaikan ruangan Ikram walaupun harus pulang malam. Gadis itu ingin segera menyelesaikan tugasnya agar tak berhubungan lagi dengan pria yang selalu membuatnya siyal itu.
Sementara itu, Jafin pergi ke rumah sakit sambil mencari seseorang. Pria itu mencari Vanya yang kabur dari rumah bordil. Jafin harus mengembalikan uang yang diberikan Mami itu. Maka dari itu, Jafin harus kembali mendapatkan Vanya agar tak mengembalikan uangnya, yang sudah ia gunakan untuk pengobatan sang ibu. "Aku tidak akan melepaskanmu Vanya. Kau harus membayar semuanya," gumam pria itu sambil memukul stir mobilnya.
Jafin baru saja sampai di rumah sakit tempat Ikram dirawat. Pria itu bertanya pada perawat di ruangan mana Ikram dirawat. Setelah mendapatkan kamarnya, Jafin langsung menuju ke sana. Pria itu, selalu menampilkan wajah ramah pada setiap orang seperti biasanya, padahal tidak engan hatinya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan ruangannya, Jafin mengetuk pintu dan seseorang membukanya, siapa lagi kalau bukan Olive. "Eh, Mbak Olive si bosnya bagaimana keadaannya?" tanya Jafin pada Olive.
"Masuk saja, Ikram baru saja selesai minum obat." Wanita itu membuka lebar pintu kamar Ikram dan membiarkan Jafin masuk.
"Apa yang terjadi, Bos?" tanya Jafin sambil duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang.
"Ah, cuma salah makan saja." Ikram menaikkan ranjangnya agar bisa duduk dengan bersandar.
"Ikram nggak bisa makan pedes, tapi maksa," sela Olive sambil menghampiri kekasihnya.
"Oh, lagian sudah tahu kenapa masih makan, Bos?" tanya Jafin sambil terkekeh.
"Ah, sudahlah, oh iya apa Yuki masih bekerja di restoku?" tanya Ikram tiba-tiba yang membuat Olive mendelik sebal.
"Oh, namanya Yuki toh, sudah dia semangat sekali bekerja bahkan saat aku datang pun, dia tak sadar. Kerjanya bagus, Bos."
"Baguslah."
Mereka pun akhirnya berbincang masalah lain, dan juga tentang alasan Jafin yang lama menghilang. Pria itu menunggu sang ibu di rumah sakit, selain itu ia juga berurusan dengan pemilik rumah bordil itu yang harus mengembalikan uang, atau membawa Vanya kembali. Namun, hal itu tak diutarakan oleh Jafin pada Ikram. Bisa bahaya jika Ikram tahu siapa Jafin sebenarnya.
Jafin tak lama di sana karena pria itu akan mencari Vanya. Kini di ruangan itu hanya ada Ikram dan Olive seperti kemarin. Ikram merasa ada yang hilang saat Yuki tak hadir di sana. Kenapa perasaan gue jadi gini sih? Ingat Ikram lo udah punya Olive.
"Hei, kamu lagi mikirin apa, Sayang?" Olive mengibaskan satu tangannya di depan wajah Ikram.
"Eh, nggak kok, Sayang. Aku cuma ingin cepet pulang, nggak enak tidur di sini." Ikram beralasan.
__ADS_1
"Kalau kamu udah sembuh, pasti pulang kok, Sayang. Makanya jangan makan pedes lagi ya!" ucap Olive sambil mengusap pipi Ikram. Pria itu pun menggenggam tangan kekasihnya.
Lain Ikram lain pula dengan keadaan Yuki. Gadis itu terus bekerja, sampai malam pun tiba. Mak Aminah bahkan menghubunginya lewat telepon karena Yuki tak kunjung pulang padahal hari sudah malam. Saat tahu alasan Yuki, Mak Aminah pun langsung mendatangi Yuki ke resto, setelah menutup warung nasinya.
Tak lupa wanita itu membawa bekal untuk Yuki dan dirinya makan. Mak Aminah sudah terbiasa makan bersama putrinya bersama-sama. Saat sampai di gedung bertingkat itu, Mak Aminah menatapnya sebentar, lalu masuk untuk bertemu dengan putrinya.
Saat sampai di lantai atas, terlihat Yuki sedang menata kursi dan meja. Baju yang digunakan gadis itu sudah basah oleh peluh.
"Ya Allah, Neng Yuki!" pekik Mak Aminah hingga membuat Yuki menoleh.
"Mak? Udah nyampe ternyata, sebentar ini sedikit lagi, Mak duduk aja dulu." Yuki berkata sambil melanjutkan pekerjaannya. Tak berselang lama, gadis itu pun berdiri tegas sambil memegangi pinggangnya. "Ah, akhirnya selesai juga."
Mak Aminah menatap nanar ke arah gadis di depannya. Gadis kuat yang pernah ia temui dan menjadi putrinya. "Udah Neng, sini makan dulu, Mak udah bawa makanan yang banyak yang enak-enak pokoknya." Mak Aminah beranjak sambil menarik tangan putrinya untuk duduk bersama. Lalu keduanya makan bersama sambil bercerita tentang kegiatan mereka hari ini.
Selalu ada canda tawa antara kedua wanita beda usia itu, keduanya selalu saling melengkapi. Rasa penat yang mereka rasakan setiap harinya selalu terganti dengan kebersamaan mereka yang harmonis.
"Neng, tahu nggak tadi ada pelanggan baru, anak cewek kayanya sih seumuran sama Neng Yuki gitu." Mak Aminah mulai bercerita setelah menelan makanannya.
"Terus?"
"Gini katanya, eh tahu nggak sih lo kalau makmum itu kan harus nurutin imam ya. Nah, gini tiap pagi laki gue tuh tiap bangun tidur main hape dong, lah gue malah nginem. Berarti gue nggak nurutin imam dong gimana tuh?" Mak Aminah bercerita sambil terkekeh geli.
"Lah iya juga ya, Mak terus gimana dong?" Yuki menatap wanita di depannya dengan serius.
"Nggak tahu ah, coba tanya reader Neng kali aja ada yang bisa jawab."
__ADS_1