Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Belanja


__ADS_3

Yuki salah tingkah saat mendengar penuturan Agam. "Eh, itu ...."


Agam pun tergelak melihat gadis di depannya yang jadi salah tingkah. "Abang bercanda, Neng."


Yuki pun menghela nafas lega, karena saat ini dirinya belum mau menerima seorang pria mana pun. Luka hatinya masih teramat dalam untuk hal itu.


Setelah berbincang beberapa saat, akhirnya Agam pun pamit. Kini di warung nasi itu hanya tinggal Yuki dan Mak Aminah, serta beberapa orang pelanggan yang menikmati makan siang mereka yang terlambat.


Keesokan harinya, Yuki sudah dijemput oleh Ikram pagi-pagi sekali. Gadis itu seperti biasa sedang menulis menu hari ini di banner.


"Kami sudah siap?" sapa pria jangkung itu yang sudah berdiri di belakang Yuki.


"Sebentar lagi," jawab Yuki tanpa menengok ke arah Ikram. Gadis itu sebenarnya sudah tahu siapa yang menyapanya.


Ikram melipat kedua tangannya di depan dada dan memperhatikan gadis di depannya yang sibuk menulis di banner. Tulisannya unik dan menarik sehingga setiap orang yang datang pasti ingin melihatnya. Tak berselang lama Yuki pun berdiri tegak dan tersenyum melihat hasil karyanya.


"Udah selesai?"


"Udah dong, emang nggak lihat apa?" Alih-alih menjawab dengan santai Yuki malah sedikit menggerutu. Ikram memutar bola matanya.


"Tumben nggak pakai mobil?" Yuki melihat ke arah parkiran dan tak melihat mobil pria itu.


"Bawel, ayo cepetan kamu harus kerja di tempat saya." Ikram menarik tangan Yuki tetapi ditepis oleh gadis itu.


"Sabar dong, Masnya. Bilang dulu ke Mak." Gadis itu langsung masuk dan menemui sang emak yang sedang menata makanan di meja.


"Mak ada yang harus Yuki lakuin lagi nggak?" tanya gadis itu.


"Udah beres, Neng. Tenang aja. Neng mau mulai kerja di Nak Ikram, kan?" Wanita paruh baya itu menatap anak gadisnya. Yuki hanya mengangguk. "Ya sudah sana berangkat, hati-hati ya, semangat!"

__ADS_1


Ikram yang berdiri di belakang Yuki akhirnya mengangguk ke arah Mak Aminah, lalu izin untuk membawa putrinya. "Jangan diapa-apain ya, anak gadis Mak." Wanita itu berpesan pada Ikram saat pria itu pamit pada Mak Aminah.


"Tenang saja, saya hanya menginginkan karyanya bukan orangnya." Ikram menjawab dengan tak acuh yang membuat Yuki mendelik kesal.


Lalu mereka berdua pun keluar dari warung nasi. Yuki sebenarnya ingin bertanya di mana resto yang akan dia desain, saat pria tinggi itu menarik tangannya untuk menyeberang.


Tak berselang lama mereka sudah berada di sebuah resto yang baru selesai dibangun. "Ini tempatnya," ucap Ikram lalu mengajak masuk Yuki. Gadis dengan sweater putih itu pun mengikuti Ikram menuju lantai dua.


Pantesan. nggak pakai mobil, tempatnya di sini. Tebakan aku bener kayanya kalau ini buat resto korean food.


"Kamu harus bikin ruangan ini menarik dan nyaman, ini akan jadi ruangan saya nanti." Ikram membuka pintu ruangan yang berada paling ujung di lantai dua itu, saat masuk ada jendela kaca besar di sana yang menuju ke arah jalan.


"Ini untuk restoran apa sih?" tanya Yuki sambil masuk ke ruangan besar itu.


"Restoran Korea. Jadi tenang saja konsepnya berbeda dengan warung nasi milik ibumu."


"Oke." Yuki tak melanjutkan pertanyaannya, ia malah sibuk mengelilingi ruangan itu dan di otaknya sudah tergambar apa yang harus dia lakukan dengan ruangan itu. Yuki kemudian meminta kertas dan pulpen untuk menuliskan bahan-bahan yang ia perlukan.


Tanpa sadar Ikram menarik satu ujung bibirnya ke atas, dia tersenyum.


"Hei! Malah bengong, ini list bahan yang harus dibeli, mau Masnya yang belanja atau aku?" tanya Yuki serius sambil menyodorkan kertas di tangannya.


Ikram mengambil kertas itu, lalu membacanya. "Kita belanja sekarang, ayo!" ajaknya tanpa basa-basi sambil berlalu meninggalkan Yuki.


Gadis itu pun akhirnya mengikuti Ikram, saat sampai di lantai bawah, Ikram sudah duduk manis di balik kemudi mobilnya. Pria itu menggunakan kacamata hitam. "Ayo naik!"


Yuki pun menghela nafas, lalu berjalan memutar untuk duduk di samping kemudi. Gadis itu sudah memasang sabuk pengamannya, lalu duduk dengan santai. Ikram pun langsung melajukan mobilnya menuju mal yang ada di kota Bandung ini untuk membeli semua bahan yang diperlukan.


Tidak ada percakapan sama sekali antara keduanya, Yuki sibuk dengan ponselnya. Ia sedang memposting menu hari ini di akun Warung Nasi Kadeudeuh. Selain itu juga, ada beberapa pelanggan yang memberi pesan untuk mengisi pulsa, uangnya sendiri sudah diberikan pada Mak Aminah.

__ADS_1


Tak terasa mereka sudah sampai di tujuan. Yuki langsung membuka sabuk pengamannya dan langsung membuka pintu mobilnya. Ia ingin segera menyelesaikan tugas untuk hari ini. Ikram mengikuti Yuki dari belakang saat gadis itu mulai melangkahkan kakinya menuju toko barang-barang yang dibutuhkannya.


Yuki begitu cekatan saat memilih barang-barang itu. Bahkan seleranya juga sangat bagus dan unik. Ikram merasa beruntung, pilihannya memang tepat. Yuki hanya sesekali bertanya mengenai warna kesukaan Ikram.


Setelah semua barang yang dibutuhkan terpenuhi. Ikram pun mengajak Yuki untuk makan siang terlebih dahulu, karena tak terasa acara belanja mereka memakan waktu cukup lama. "Kita makan siang dulu." Ikram berjalan lebih dulu menuju resto yang ada di sana.


"Mbak Olive-nya emang nggak akan marah, Masnya?" tanya Yuki yang saat ini sudah duduk berhadapan dengan Ikram.


"Nggak, saya tahu dia sudah mengerti keadaannya, lagian kita kan cuma klien." Ikram menjawab sambil membuka buku menu.


Tanpa disadari oleh Ikram, Yuki sengaja mengambil gambar mereka berdua. Tujuannya tentu saja untuk membuat Ikram dan Olive kembali bertengkar. Yuki pun kini memilih menu makanannya. Setelah memesan makanan masing-masing, merek kembali berbincang mengenai konsep yang akan digunakan di resto Ikram.


"Kamu pernah kuliah di mana?" tanya Ikram tiba-tiba.


"Ah, itu ... aku kuliah di perguruan tinggi swasta yang ada di sini, kenapa?"


"Saya suka barang-barang yang kamu pilih, semuanya sesuai selera saya," jawab Ikram sambil menampilkan senyuman pada gadis di depannya.


"Jangan lupa bayarannya, Masnya."


"Berapa yang kamu minta?"


Namun, belum sempat menjawab pesanan mereka datang. Ikram pun menyuruh Yuki untuk menikmati makan siangnya terlebih dahulu. Mereka pun akhirnya makan bersama dan momen itu tak disia-siakan oleh Yuki, ia kembali mengambil gambarnya dengan salah satu tangannya.


"Kalau mau foto bareng, ayo sini! Nggak usah curi-curi gitu." Ikram tiba-tiba mengambil ponsel Yuki dan beranjak dari duduknya lalu pindah duduk di samping Yuki. Pria itu lalu mengarahkan ponselnya pada merek berdua.


"Saya memang ganteng, jadi jangan malu untuk minta foto."


"Dih, nggak usah kepedean. Siapa juga yang mau foto bareng?" gerutu Yuki.

__ADS_1


"Lho, terus itu tadi untuk apa?"


"Itu ...."


__ADS_2