Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Kecelakaan


__ADS_3

Hanan harus bisa menemukan sang putra bagaimanapun caranya. Pria paruh baya itu hari ini akan pergi ke luar kota, kota yang mungkin dikunjungi oleh sang putra.


"Kamu harus membayar semunya Ikram," geram Hanan sambil mengeratkan pegangannya pada stir mobil hingga ruas-ruas jarinya memutih.


Tanpa disadari pria itu sudah melajukan mobil di atas kecepatan rat-rata.


Hanan terus memacu mobilnya di jalanan yang cukup ramai bahkan ia berpapasan dengan  mobil sedan warna putih, Namun, nahas sebuah mobil hitam yang ada di belakang mobil putih itu melaju dengan kecepatan tinggi juga hingga sesuatu yang tak diinginkan  pun terjadi.


"Awas!"


Braaak!


Mobil Hanan dan mobil Hanan beradu dan membuat keduanya terbalik. kecelakaan dua mobil itu disaksikan oleh pemilik mobil putih yang tak lain adalah Ikram dan Olive sang kekasih.Suara klakson mobil saling brsahutan di malam itu, krena kecelakaan itu kemacetan pun terjadi.                      


"Ikram aku takut, mungkin saja kalau kita masih di sana mobil kita yang akan mengalami kecelakaan itu." Olive brsandar pada bahu sang kekasih yang tetap melajukan mobilnya. Namun, enth perasaan apa yang membuat pria itu merasa sedih dan sakit, hingga akhirnya Ikram pun memutar balik mobilnya untuk melihat kecelakaan tadi.


"Kamu mau ke mana, Sayang?" Olive kembali duduk tegak saat kekasihnya memutar balik mobilnya. Namun, tak ada jawaban apapun dari pria itu.


Saat sampai ke tempat kejadian, Ikram langsung turun saat beberapa polisi lalu lintas dan ambulans sudah berada di sana. Ikram ingin menerebos masuk ke sana saat garis polisi sudah dipasng. Seorang polisi berbadan tinggi dan agak berisi itu mencegah Ikram. Namun, dengans egala cara pria itu membujuk polisi agar diizinkan untuk masuk.


Saat melihat plat nomor yang tertera di mobil berwarna silver, Ikram makin yakin dengan perasaannya. "Saya ingin memastikan bahwa yang berada dalam mobil silver itu bukan papi saya, Pak." Ikram sedikit membentak polisi yang saat ini memegangi keda lengannya.


"Apakah Anda mengenal salah tu korbannya?" Ikram mengangguk dan kemudian berhasil masuk melewati garis polisi itu.


Pria bertubuh tinggi itu, berlari ke arah mobil yang diyakini sebagai milik sang papi. Ikram memeriksa semuanya dan saat melihat ke kursi kemudi, terlihat pria paruh baya yang  sangat mirip dengannya itu duduk terbalik dengan darah yang mengalir dari kepalanya.


"Papi!" Ikram mencoba membuka pintu mobilnya yang terbalik itu. "Pi, ini Ikram, papi!" Pria itu terus berteriak sambil berusaha membuka pintu mobilnya.

__ADS_1


Beberapa polisi dan petugas medis menghampiri Ikram dan ikut membantu mengeluarkan korban dari mobil terbalik tersebut.


Sekitar satu jam, akhirnya polisi dan petugas medis berhasil mengeluarkan Hanan. Pria dengan luka di kepala itu langsung dibaringkan di belankar dan dimasukan ke dalam ambulans. Ikram langsung menuju mobilnya dan bergegas melajukannya untuk mengikuti ambulans yang membawa sang papi.


"Ada apa , Ikram?" Olive yang tidak tahu msalahnya masih bersikap biasa saja dan bertanya pada kekasihnya. Namun, tiba-tiba saja Ikram membntaknya. "Diam!"


"Sayang, kamu bentak aku?" Olive yang sebelumnya selalu diperlakukan lembut oleh Ikram langsung terpancing emosi. Ikram makin mengetarkan pegangannya pada stir mobil dengan rahang yang sudah mengetat.


"Kamu ini kenapa, Ikram?" Olive kembali berujar dengan berteriak.


"Diam, Olive!" Sekali lagi Ikram membentak kekasihnya tanpa melihat ke arah wanita itu.


Akhirnya, wanita itu pun terdiam sambil terus terisak karena menangis. Padahal baru beberapa hari ini ia merasa menjadi seperti ratu, tetapi tiba-tiba kekasihnya membentaknya tanpa alasan.hening terus menemani mereka sampai akahrnya mobil putih itu pun sampai di rumah sakit.


Olive terkejut saat kekasihnya membawa dirinya ke rmah sakit. Tanpa berkata sepatah katapun, Ikram langsung keluar dan pergi meninggalkan kekasihnya.


Karena penasaran Olive pun mengikuti Ikram dari belakang. Wanita itu setengah berlari untuk mengejar langkah kekasihnya yang lebih lebar dari dirinya.Ikram sudah ikut mendorong blankar sang papi b bersama perawat lain. 


"Mi ...." Ikram tak melanjutkan ucapannya karena sang mami sudah memberondongnya dengan beberapa  pertanyaan.


"Ikram baik-baik saja, Mi. Papi ...." Pria itu kembali terdiam saat ingin mengabari keadaan sang papi.


"Ada apa dengan Papi? Di sedang mencari kamu, Nak. Pulanglah biar papi cepat pulang." Terdengar suara Manda yang membujuk sang putra.


Ikram menarik nafasnya dalam sebelum kembali mengabari bahwa dirinya saat ini sedang bersama sang papi. "Ikram sudah bertemu papi, Mi. Tapi ...."


"Tapi apa, Ikram. Papi marahin kamu?" Manda menebak apa yang akan dilakukan suaminya pada sang putra.

__ADS_1


"Papi di rumah sakit, Mi. Papi ... kecelakaan." Akhirnya Ikram bisa mengutarakan maksudnya pad sang mami.


"Apa kamu bilang?" Manda terdengar histeris dan mulai menangis. "Di mana kalian? Mami akan ke sana."


"Kami di Bandung, Mi. Besok saja Mami ke sini. Sekarang sudah malam, Ikram khawatir." Ikram mencoba menenangkan sang mami.


"Semua gara-gara kamu, Ikram. Kalau sampai terjadi apa-apa sama papi kamu ...." Sambungan telepon pun terputus. Ternyata ponsel Ikram kehabisan baterai.


Pria itu kini duduk di kursi yang tersedia di sana. Olive bahkan masih berada di sana dengan mata merah karena menangis.


"Maafin aku, aku nggak tahu kalau pra itu adalah papi kamu, Sayang."


Ikram masih diam, pria itu menyandarkan kepalanya pad tembok sambil memejamkan matanya. Pikirannya kalut, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada sang papi.


Ikram terus menunggu kabar dari dokter mengenai keadaan sang papi. Sementara Olive sudah terlelap di kursi dengan posisi duduk.


"Semua ini gara-gara perjodohan siyalan itu. JIka saja kakek nggak maksa gue buat nikahin gadis manja itu … semuanya nggak akan terjadi." Ikram mengepalkan tangannya. Pria itu menyalahkan semuanya pada Vanya.


Tak berselang lama seorang berjas putih itu keluar sambil memanggil keluarga dari korban bernama Hanan. Ikram segera berlari dan menghampiri pria berkaca mata itu.


"Bagaimana keadaan papi saya, Dok?" Ikram bertanya dengan tak sabar.


"Maaf, terjadi banyak pendarahan di otak papi Anda. Jadi kita harus segera melakukan operasi."


"Lakukan yang terbaik untuk kesembuhan papi saya, Dok," ucap Ikram.


"Baiklah, kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien. Silakan selesaikan dulu administrasinya dan tandatangani surat izinnya." Dokter itu menyuruh Ikram untuk mengikuti salah satu perawat wanita yang akan mengurus semua administrasinya.

__ADS_1


Ikram pun mengeluarkan dompetnya dan menyelesaikan semua administrasinya, pria itu juga menandatangani surat persetujuan melakukan operasi.


"Cepet sembuh lagi, pi. Ikram mau papi menyaksikan pernikahan Ikram dengan Olive."


__ADS_2