Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Makan Malam


__ADS_3

Ikram ingin rasanya mence*kik wanita yang ada di depannya, saat meneriakinya hantu. Padahal sudah jelas ini semua ulahnya. "Heh, saya nggak mau tahu muka ganteng saya harus balik ke semula," ucapnya sambil membuka masker dan topinya.


Yuki menahan tawanya saat tahu siapa pria di depannya. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil memperhatikan wajah Ikram yang terlihat lucu baginya. "Bagusan gini lho, Masnya."


Ikram menggertakkan giginya kesal, lalu menarik tangan Yuki dengan kasar. "Kalau kamu nggak bikin wajah saya balik ke semula, jangan salahin saya kalau terjadi sesuatu sama kamu." Ikram mengancam Yuki tepat di telinga gadis itu.


"Ish, slow aja kali. Gampang kok, ayo duduk!" Yuki menepiskan tangannya hingga terlepas dan berjalan ke salah satu meja yang ada di warung nasi itu. Mak Aminah sendiri sudah pergi ke dalam untuk menonton televisi.


Ikram mengikuti gadis itu, kemudian duduk di sana. Namun, gadis itu malah kembali pergi, hingga Ikram kembali menarik tangannya hingga Yuki limbung dan tubuhnya menimpa tubuh Ikram. "Hei!" pekik Yuki.


Ikram mengeratkan pegangannya, tanpa membiarkan gadis di pangkuannya itu kabur. "Bersihkan sekarang, kenapa malah pergi lagi!" ucap Ikram tak sabaran.


Yuki berusaha bangkit, tetapi ditahan oleh Ikram yang kini memeluk pinggang ramping Yuki. "Hei, mau dibersihin nggak sih? Aku mau ambil alatnya." Yuki menggerutu dan berusaha melepaskan diri dari Ikram.


"Jangan kabur!"


"Nggak!" Yuki pun beranjak saat Ikram melepaskan tubuh mungil gadis itu. Kemudian, Yuki masuk ke kamarnya untuk mengambil kayu putih dan kapas. Mak Aminah juga sempat bertanya tentang siapa yang datang, setelah Yuki memberi tahu Ikram yang datang, wanita paruh baya itu kembali fokus pada sinetron favoritnya.


Ikram masih duduk di tempatnya, pria itu terus menatap ke arah ruangan di mana Yuki tadi masuk, tentu saja saat Yuki keluar pandangan mereka beradu. Yuki langsung memalingkan wajahnya dan berjalan ke arahnya.


Ikram menatap benda yang dibawa oleh gadis itu. "Kamu yakin ini akan berhasil?" tanya Ikram ragu.


"Udah diem, mau dibersihin nggak?" Yuki mulai menuangkan kayu putih pada kapas. Namun, saat akan membubuhkannya ke wajah Ikram, pria itu kembali menangkap pergelangan tangan Yuki.


Yuki pun menghela nafas kesal. "Kalau gitu bersihin sendiri nih!" Ikram menggeleng dan pasrah saat cairan hangat itu menyentuh wajahnya. Ternyata benar cat yang ada di wajahnya bisa hilang, walaupun wajahnya terasa panas.


"Lagian ngapain pakai gambar di wajah saya, emang tembok di resto kurang luas?" tanya Ikram sambil tetap memejamkan matanya.


Yuki tak menjawab ia fokus membersihkan wajah pria yang entah mengapa jika dari dekat ternyata begitu tampan.

__ADS_1


Tak berselang lama, tugas Yuki pun selesai, wajah Ikram sudah kembali seperti semula. Pria itu bahkan masih tetap memejamkan matanya. Yuki kembali ke kamarnya untuk menyimpan kayu putih dan kapas tadi. Saat kembali ternyata pria itu masih juga belum membuka matanya.


"Jangan tidur di sini, Masnya!" ucap Yuki sambil melipat kedua tangannya.


"Udah selesai?" Ikram membuka pelan kedua bola matanya. "Aduh, mata saya perih banget, mana panas banget lagi."


"Cuci muka sana!" ucap Yuki santai.


Ikram pun berdiri, tetapi kembali menutup matanya, saat ia berjalan malah menabrak tubuh Yuki, sampai gadis itu kejengkang, tetapi ditahan oleh Ikram.


"Astaghfirullah, ribet amat sih! Nggak usah pegang-pegang!" bentak Yuki, lalu Ikram pun melepas dekapannya dan sukses membuat Yuki terjatuh ke lantai.


"Mas Ikram!"


"Sudah saya bilang mata saya perih, makanya bawa saya ke toilet untuk cuci muka," ucap Ikram tanpa bersalah. Yuki pun berdiri kembali dan langsung menarik tangan Ikram menuju washtafel yang ada di sana.


Ikram langsung mencuci wajahnya, tetapi malah tambah perih. Akhirnya Yuki pun menuangkan sabun cair ke tangan Ikram, agar pria itu mencucinya dengan sabun. Ikram pun menurut, ia mencuci wajahnya dengan sabun yang beraroma stroberi itu. Setelah selesai, wajahnya kini terasa adem walaupun matanya masih sedikit perih.


"Tuh!" Yuki menunjuk sabun cuci tangan yang ada di sana dengan dagunya.


"Apa?" Ikram kembali geram dengan tingkah gadis di depannya.


"Adanya itu, ya udah sih, wangi kan?" jawab Yuki sambil berjalan meninggalkan Ikram. Namun, bari saja dua langkah, Ikram kembali menarik tangannya hingga gadis itu benar-benar menubruk tubuh tegap Ikram.


Satu tangan lainnya, Ikram selipkan di pinggang ramping gadis itu. "Apa kamu sedang merayuku, Nona?" bisiknya.


Yuki yang muak dengan tingkah Ikram, tanpa aba-aba langsung menginjak kaki pria itu dengan keras hingga ia mengaduh. "Sana pulang! Aku mau istirahat." Yuki menatap nyalang ke pria di depannya yang sedang mengusap kakinya.


"Aku lapar."

__ADS_1


"Nggak ada makanan, semua sudah habis."


Ikram kemudian merajuk, dan menatap dengan penuh harap pada Yuki. "Setelah bangun dari tidur tadi, saya belum makan apa-apa," ucapnya memelas.


Yuki menarik nafasnya pelan lalu mengembuskannya, kemudian gadis itu menuju ke ruang televisi untuk menemui sang emak. Bagaimana pun juga Yuki adalah Vanya, ia tak bisa memasak apapun, bahkan untuk menyalakan kompor saja ia juga belum tentu bisa. Namun, nasib siyal sepertinya sedang kembali menimpanya, Mak Aminah sudah terlelap di atas sofa dengan memegang remot tv.


Yuki pun kembali kepada Ikram yang saat ini sedang kembali duduk di tempatnya tadi. Pria itu terlihat sedang menunggu makanannya. "Mak udah tidur, makanan udah abis semua. besok pagi aja deh."


"Perut saya lapar kaya gini juga gara-gara kamu," jawab Ikram menyebalkan.


"Kok aku?"


"Iyalah, kalau kamu nggak gambar muka saya, saya nggak mungkin melewatkan makan malam saya."


"Aku nggak bisa masak." Yuki berkata apa adanya.


Ikram memegang perutnya yang berbunyi. "Memangnya tidak ada makanan lain apa?"


Yuki pun ingat ada mie instan di lemari penyimpanan. Gadis itu lalu, pergi ke sana untuk mengambilnya. Ada beberapa varian rasa, Yuki mengambil semuanya satu-satu agar Ikram bisa memilihnya.


"Adanya ini, mau?" Yuki memberikan 5 bungkus mie instan di meja Ikram.


"Oh, tidak ini makanan tidak sehat, Yuki."


"Adanya cuma ini, kalau mau yang sehat tuh ada daun singkong mau?" cela Yuki.


"Kamu kira saya ini kambing apa?"


"Pikir aja sendiri. Jadi mau nggak? Kalau nggak udah besok aja, aku mau istirahat." Yuki berkata tak sabaran, kenapa pria di depannya ini tetap menyebalkan.

__ADS_1


Ikram pun akhirnya, memilih varian mie yang ada di depannya itu. "Aku mau dua, yang rasa soto sama ayam geprek."


"Hah?"


__ADS_2