
Ikram sudah kembali ke kediaman Pradana setelah Vanya dengan jelas mengusirnya. Pria itu kini duduk di kursi ruang kerjanya. "Aku harus mendapatkan kamu, Vanya. Bagaimanapun caranya kamu adalah milikku."
Ikram mere*mas kertas di tangannya. "Semua ini gara-gara kamu, Olive. Aaargh!" Pria itu menjambak rambutnya sendiri. Rasa sakit masih terasa di sudut hatinya jika mengingat tentang pengkhianatan Olive. Ikram tak habis pikir, selama ini dirinya sudah ditipu oleh Olive. Padahal Ikram tulus mencintainya, atau mungkin hanya mengaguminya?
Mengingat Olive selalu membuat moodnya hancur. Akhirnya Ikram pun mengambil benda pipih di sakunya. Saat membuka layar ponselnya terlihat jelas foto Vanya terpajang di sana. Foto yang ia ambil secara diam-diam saat gadis itu sedang berbicara dengan Mak Aminah. Namun, hanya foto Vanya yang ia pasang sebagai wallpaper ponselnya.
"Aku menyesal dulu kabur dari pernikahan kita, Vanya. Andai dulu aku menuruti kakek, semuanya tak akan seperti ini." Ikram kini mencari nomor kontak milik Vanya yang masih ia beri nama dengan 'Yukiku', lalu menulis pesan untuk gadis itu.
Namun, sepertinya gadis itu belum membacanya. Ikram pun akhirnya beralih pada laptopnya. Pria itu akan mengurus beberapa pekerjaannya yang sempat tertunda.
Ikram fokus dengan pekerjaannya hingga siang pun mulai beranjak malam. Pria itu meregangkan. otot-ototnya yang terasa kaku, kemudian pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya terlebih dulu.
Sekitar sepuluh menit Ikram berada di kamar mandi, kini pria itu sedang berdiri di depan cermin dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya. Tubuhnya yang kekar terlihat jelas di pantulan cermin. Rambutnya bahkan masih setengah basah. "Mari kita bergerak cepat, Ikram. Sebelum semuanya selesai dengan penyesalan lag." Pria tampan itu berbicara pada bayangan dirinya di cermin.
Setelah itu, Ikram pun mengenakan pakaian santai dan rapi. Pria itu akan pergi malam ini. Dirasa sudah siap, pria berbaju hitam itu mengambil kunci mobilnya beserta dompet dan ponselnya.
Saat turun ke bawah, Ikram disambut oleh Manda sang mami. "Lho anak mami udah ganteng gini, mau ke mana?" tanya wanita paruh baya dengan cangkir teh di tangannya.
"Ikram mau keluar sebentar, Mi."
Hanan juga ternyata ada di sofa ruang keluarga. Pria itu sedang membaca sebuah buku seperti kebiasaannya setiap malam. Pria berkacamata itu menoleh sebentar ke arah sang putra tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu kembali menikmati aktifitasnya.
"Pi, Ikram keluar sebentar," sapa Ikram sambil menjulurkan satu tangannya untuk mencium punggung tangan pria paruh baya itu.
"Hm." Hanan menerima uluran tangan putranya dan hanya berdehem saja. Bersamaan itu, Manda juga datang dengan cangkir teh yang disiapkan untuk suaminya.
"Bagaimana kamu sudah ketemu Vanya, kan?" Tiba-tiba Hanan bertanya saat Ikram membalikan tubuhnya.
"Sudah, Pi. Ikram saat ini sedang berusaha untuk menebus kesalahan Ikram pada Vanya."
"Berusahalah dan belajar untuk bertanggung jawab." Hanan mengakhiri kalimatnya lalu meminum teh yang disajikan istrinya.
__ADS_1
Ikram hanya mengangguk, lalu pamit juga pada sang mami. Pria itu kini sudah duduk di balik kemudi. Sebenarnya, ia juga bingung harus berbuat apa. Rencananya ia akan pergi ke rumah Vanya, tetapi jika ia datang langsung dengan alasan meminta jawaban, pasti gadis itu akan menolaknya.
Namun, sebuah ide tiba-tiba terbersit di kepalanya, ia akan membeli makan malam untuk Vanya. Apalagi pria itu juga belum makan malam. Ikram akan makan malam di sebuah resto lalu membeli untuk Vanya.
Malam ini terasa menyenangkan bagi Ikram. Ia menikmati makan malamnya walaupun hanya sendirian. Sesekali pria itu melihat layar ponselnya, awalnya berharap ada balasan pesan dari gadis pujaannya, tetapi nihil hingga beranjak malam statusnya masih saja centang abu.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, pria itu pun bergegas pergi untuk menemui Vanya dengan membawa paper bag berisi makanan yang mungkin disukai oleh gadis itu karena jujur Ikram memang belum mengetahui semua tentang Vanya termasuk makanan kesukaannya.
Ikram mulai melajukan mobilnya menuju ke kediaman Vanya. Suasana malam yang cerah membuat Ikram menikmati perjalanannya walaupun kemacetan tetap menjadi rutinitas di kotanya ini.
"Vanya, Yuki, Yuki, Vanya ... ah ternyata mereka sama," gumam Ikram.
Sedikit lagi, Ikram akan sampai di kediaman Vanya. Pria itu kini memasukan mobilnya pada sebuah rumah besar milik keluarga Pradipta. Ikram disambut dengan baik oleh satpam rumah. Dengan langkah lebar, Ikram mulai memasuki rumah Vanya. Bi Sumi asisten rumah tangga Vanya menyambutnya dengan ramah. Wanita paruh baya itu bilang kalau Vanya masih berada di kamarnya sejak siang tadi.
"Bolehkan saya menemuinya, Bi?"tanya Ikram. Bi Sumi terlihat ragu tetapi akhirnya mengangguk dan mengantar Ikram ke lantai atas menuju kamar Vanya.
Saat sampai di sana, ternyata Ikram tak diterima dengan baik, pria itu bahkan langsung diusir oleh Vanya secara tidak langsung. Sakit, tentu saja itu yang Ikram rasakan, tetapi perasaan sakit ini tak sebanding dengan apa telah ia perbuat pada gadis itu. Akhirnya Ikram pun hendak pulang. Namun, saat pria itu sampai di parkiran untu menaiki mobilnya. Sebuah mobil yang sangat ia kenal masuk melewati gerbang.
Benar, itu memang Fathan. Pria tua itu turun dengan bantuan tongkat di tangannya. Wajahnya bahkan tak terkejut saat melihat keberadaan Ikram. Pria berjas putih itu berjalan melewati sang cucu.
"Kakek, ini Ikram," ucap pria itu, ia yakin bahwa sang kakek mengenalinya tetapi mengapa tak menyapanya.
"Kakek tahu."
Sementara itu, di dalam rumah Vanya baru saja turun ke lantai bawah setelah menceramahi Bi Sumi untuk tidak menerima tamu malam hari apalagi Ikram.
Baru saja, gadis itu menyentuh lantai bawah, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Vanya!"
"Kakek?" Vanya terkejut dengan kehadiran pria tua itu. Namun, tak berselang lama ia pun menyambut sang kakek dan mengajaknya duduk di sofa.
__ADS_1
"Kakek ke sini sama Mas Ikram?" tanya gadis itu setelah meminta Bi Sumi menyiapkan minuman hangat untuk Fathan.
"Jadi, Ikram sudah bertemu denganmu, Vanya?" Pria itu terkekeh.
"Kakek yang ngasih tahu, kan? Nggak asyik ah," rajuk Vanya.
"Eh, bukan kakek. Ikram malah akan mengenalkan Yuki pada kakek, kalau tidak bertemu dengan kamu." Kini pria tua itu tertawa lepas, saat mengingat cucunya akan mengenalkan Vanya sebagai Yuki pada dirinya.
"Buat apa dikenalin? Emangnya aku mau gitu, Mas Ikram itu selalu ngerecokin Vanya, Kek."
"Buat jadi calon istrinya, apa lagi?"
"Apa?"
"Sepertinya kali ini Ikram memang serius, Nak. Cobalah pertimbangkan. Kamu juga akhirnya akan menjadi cucu kakek sesungguhnya."
"Mas Ikram tuh ngejar aku karena dia patah hati sama mbak Olive, kan? Vanya nggak mau cuma jadi pelarian dia doang, Kek."
Ternyata percakapan mereka didengar jelas oleh Ikram karena pria itu kembali masuk ke dalam rumah Vanya secara diam-diam.
"Kita lihat saja kalau benar Ikram menjadikanmu pelarian maka kakek yang akan mengurusnya." Pria tua menganggukkan kepalanya.
"Vanya takut menyakiti mami, papi lagi, Kek. Vanya belum bisa melupakan semuanya."
"Berbahagialah, Nak. Jika Ikram memang bukan yang terbaik, kakek doakan kami mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Ikram dan bisa bertanggung jawab." Fathan mengusap pucuk kepala gadis di sampingnya.
Sedekat itu mereka, bahkan aku pun tak bisa lebih akrab dengan kakek. Pantas kakek memilih dia untukku. Maafkan aku, kek. Ikram janji akan menjadikan Vanya sebagai istri Ikram. Terima kasih telah memberikan Ikram kesempatan untuk mendapatkan Vanya kembali, Ikram akan berusaha.
Ikram pun berbalik hendak meninggalkan kediaman Vanya. Namun, siyalnya ia tak melihat saat berbalik hingga menyenggol vas hiasan yang ada di sana hingga terjatuh dan pecah.
"Mas Ikram?"
__ADS_1