
Jafin baru saja kembali ke rumahnya, tetapi pria itu tak melihat sang ibu di tempatnya. Suster yang menjaganya pun hilang entah ke mana. Pria itu mulai panik dan mencari keberadaan sang ibu.
Rasa khawatir mulai menjalar di seluruh tubuhnya saat pria itu tak kunjung menemukan sang ibu. Hingga akhirnya Jafin kembali memasuki mobil lalu pergi meninggalkan halaman rumah.
"Ibu pergi ke mana?" Jafin terus bergumam sampai pada sebuah jalan raya yang dipenuhi kerumunan orang membuat Jafin tutun dari mobil.
"Ada apa nih, Pak?" tanya pria itu pada seorang pria yang berada di antara kerumuman itu.
"Ada kecelakaan, Mas. Korbannya ibu berkursi roda katanya," jawab pria itu sambil berusaha menerobos masuk.
Jafin terkesiap saat mendengar kursi roda. Dengan susah payah akhirnya pria tinggi itu berhasil masuk di antara kerumuman orang-orang. "Ibu!" pekik pria itu saat melihat wanita paruh baya itu sudah tergeletak di aspal dengan dar*ah yang bersimbah.
Tak menunggu lama Jafin langsung mengangkat tubuh sang ibu menuju mobilnya. Sementara orang-orang yang berkerumun sudah mengamankan pelaku. Seorang pemuda yang menyetir mobil dalam keadaan mabuk sehingga kecelakaan pun terjadi.
Pria berpenampilan rapi itu terus merutuki nasibnya yang serasa makin siyal setelah menjual gadis yang ditemukannya di jalanan waktu itu. Gadis bernama Vanya yang sengaja ia jual untuk mengobati sang ibu, tetapi ternyata setelah mendapatkan uang yang diminta, Jafin mendapat kabar bahwa Vanya kabur dengan dan sorang wanita yang ia panggil Mami itu meminta uangnya dikembalikan.
Alih-alih mendapatkan keuntungan justru ia berbalik memiliki hutang banyak pada Mami. Karena sebagian uangnya telah ia pakai untuk pengobatan sang ibu di rumah sakit. Malam ini, saat dirinya baru saja sampai ke rumahnya setelah pergi ke resto milik Ikram di Bandung, justru ia mendapati sang ibu tak ada di rumah begitu juga dengan suster yang selama ini menjaganya.
Seolah semesta masih belum berdamai dengan dirinya, ia harus menelan pil pahit mengetahui fakta bahwa sang ibu mengalami kecelakaan karena wanita itu menyebrang sendirian ke jalan raya tanpa didampingi oleh suster atau yang lainnya menurut saksi mata.
__ADS_1
"Semua ini gara-gara kamu, Vanya! Aku bersumpah akan membalas semuanya." Jafin berteriak memukul stir mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Pria itu tanpa sadar telah mengeluarkan air matanya saat menuju rumah sakit. Keadaan sang ibu begitu memprihatinkan. Sesekali Jafin mengusap lengan sang ibu yang ia dudukkan di samping kemudi dengan jok yang direndahkan.
Tak berselang lama mobil hitam itu pun sampai ke tujuan dengan gegas pria itu turun dari mobilnya dan menggendong sang ibu. Seorang petugas langsung mendorong blankar saat Jafin berteriak meminta bantuan.
Tubuh wanita paruh baya itu diletakan di brankar lalu dimasukan ke UGD. Jafin menunggu di ruang tunggu saat seorang pria berseragam putih menahannya untuk masuk.
Saat pria itu akhirnya menyerahkan semuanya pada dokter, ia teringat pada suster yang selama ini menjaga sang ibu. Kemana perginya suster itu?
Kemudian ia pun mengeluarkan ponselnya dan coba menghubungi nomor milik suster sang ibu. Namun, sayang nomornya tidak bisa dihubungi. "Apa mungkin dia kabur? Kalau ia aku tidak akan. melepaskan kalian!" geram Jafin sambil mengepalkan satu tangannya.
Sementara itu, di tempat lain seorang wanita berbaju putih-putih terlihat berlari ke arah sebuah rumah yang berada di gang sempit. "Aku harus segera pergi dari kota ini, aku nggak mau sampai ditangkap pria gila itu." Wanita itu segera masuk ke sebuah rumah sederhana. Dengan terburu-buru wanita itu mengemasi semua barangnya ke dalam tas.
"Maafkan aku, Bu. Ana sudah nggak sanggup menjadi suster ibu. Pak Jafin makin hari makin menyeramkan. Ana nggak mau sampai harus menjadi korban selanjutnya." Wanita itu terus berbicara sendiri sampai akhirnya ia mendapatkan bus tujuannya. Dengan langkah cepat ia memasuki bus dan duduk di jok kedua dekat dengan jendela.
Ana bernafas lega setelah mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Wanita itu mengingat kejadian beberapa jam sebelumnya. Sore tadi Ana seperti biasa sedang mengajak Bu Maria, ibu dari Jafin untuk berkeliling di taman.
Namun, tiba-tiba ia mendapat telepon dari sang ibu di kampung kalau bapaknya sedang dirawat di rumah sakit dan harus segera dioperasi.
__ADS_1
Jadwal gajian juga masih lama karena seminggu lalu ia baru saja menerima gaji dan tak mungkin untuk meminta kasbon pada Jafin. Apalagi saat ini, Jafin sering uring-uringan dengan masalahnya, bahkan sesekali ia mengancam Ana jika berbuat macam-macam.
Setelah mendapatkan kabar tak mengenakan itu akhirnya Ana pun mengajak pulang Bu Maria. Wanita itu akan pamit pulang untuk melihat keadaan sang bapak. Namun, saat sampai di rumah Bu Maria melarang Ana untuk pergi dengan terus menggelengkan kepalanya.
Lalu wanita itu pun akhirnya mencoba membujuk Bu Maria dengan meminta imbalan lebih. Wanita paruh baya itu memiliki banyak perhiasan di kamarnya, Ana pun menginginkan itu untuk pengobatan sang bapak. Ana pun menceritakan semuanya pada Bu Maria. Mereka memang dekat, seperti layaknya ibu dan anak. Maria pun menunjuk satu laci di meja riasnya di kamar. Kemudian Ana mengangguk dan membuka benda itu, perhiasan mahal banyak sekali di sana. Maria pun memberi isyarat agar Ana mengambilnya semaunya.
Ana pun mengambil beberapa perhiasan milik Bu Maria dan berterima kasih pada wanita itu. Namun, sekali lagi ponsel Ana berdering, sang ibu diminta pihak rumah sakit untuk segera mengambil keputusan. Akhirnya Ana pun mengatakan pada sang ibu agar menyetujui operasinya.
Rasa panik mulai menyergap wanita itu kala isak tangis sang ibu juga kedua adiknya terdengar lewat sambungan telepon. "Maafkan aku, Bu. Ana harus pulang. Ana nggak mau kehilangan bapak." Wanita itu bergumam.
Akhirnya Ana pun mengemasi barangnya dan pergi lewat pintu belakang setelah mengunci pintu depan tempat Bu Maria menunggu putranya. Sambil membawa perhiasan yang diberikan majikannya, Ana hendak ke toko perhiasan dahulu untuk menjualnya. Wanita itu terkejut dengan harga yang ditawarkan pemilik toko. Harga yang cukup fantastis bagi seorang Ana.
"Alhamdulillah, makasih, Bu. Mudah-mudahan uang ini cukup untuk operasi bapak. Ana pasti akan kembali nanti."
Wanita itu kini memejamkan matanya sambil mendekap tasnya yang berisi uang sangat banyak. Perasaannya tak karuan setelah pergi meninggalkan Bu Maria sendirian di rumah, apalagi ia juga tak memberi tahu Jafin.
"Apakah Bu Maria baik-baik saja?" gumam Ana kemudian bus pun melaju.
"Berhenti!"
__ADS_1
Happy reading guys
Terima kasih buat kalian semua yang ternyata masih antusias sama cerita aku. Maaf banget akhir-akhir ini aku lagi riweh sama bocah yang udah nggak bisa diem, jadi jarang main hp, apalagi buat ngetik. Tenang aja aku akan tetap lanjutin sampai tamat kok.