Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Permulaan


__ADS_3

Olive marah saat sang kekasih mendapat telepon dari wanita lain, apalagi Ikram sampai menyebutkan namanya. Nama yang asing di telinga Olive.


"Sayang, dia orang yang mau desain resto aku di Bandung itu," bujuk Ikram saat gadisnya terus cemberut.


"Kenapa harus cewek sih, Kram? Kan banyak kenalan kamu yang desain interior juga," gerutu Olive sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Ikram menggaruk kepalanya yang tak gatal, Olive memang gadis keras kepala sama dengan dirinya, sehingga sangat sulit dibujuk kalau sedang marah seperti ini. "Masa kamu nggak percaya sama aku? Aku bahkan rela pergi dari pernikahan aku sendiri buat pergi bersama kamu, Olive," ucap Ikram pasrah.


Olive berbalik dan menatap kekasihnya. "Oke, kalau gitu aku mau ketemu dia sekarang."


"Tapi ...."


"Tapi apa? Kamu nggak mau ajak aku karena dia lebih cantik daei aku, kan?" Olive kembali mengomel, rasa cemburunya benar-benar sudah memuncak.


"Oke-oke, kita temui dia sekarang, terus mami kamu?"


"Mami banyak yang jagain, kamu tenang aja," ucap Olive kemudian berlalu menuju kamarnya. Gadis itu akan mengganti pakaiannya dan memoles wajahnya dengan make up agar terlihat lebih cantik lagi.


Ikram sendiri duduk kembali di sofa sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Pria itu kembali membuka ponselnya dan menulis sesuatu di sana. Ikram menunggu Olive cukup lama, gadis itu memang sangat lama jika sudah berdandan.


Tak berselang lama, Olive pun keluar dengan pakaian branded-nya. Wajahnya juga terlihat lebih segar, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai begitu saja. Ikram menatap lama kekasihnya, lalu tersenyum. "Cantik banget sih." Ikram beranjak dan hendak menggandeng tangan kekasihnya, tetapi sepertinya Olive masih marah, gadis itu langsung menepisnya dan berjalan mendahuluinya.


Ikram pun pasrah, lalu mengikuti kekasihnya dari belakang. Setelah pamit pada orang rumah. Ikram dan Olive pun masuk ke dalam mobil Ikram. Olive yang duduk di samping kemudi langsung memasang sabuk pengamannya, tanpa dibantu oleh Ikram. Gadis itu masih terlihat marah dan tak ingin menatap Ikram.


Haish cewek kalau udah ngambek gini, biasanya harus diajak shoping. Ikram pun mulai melajukan mobilnya kembali ke kota kembang. Pria itu sesekali mengajak ngobrol kekasihnya, tetapi hanya ditanggapi dengan anggukkan dan gelengan saja.


Akhirnya hanya hening yang menemani mereka, Olive sibuk dengan ponselnya, sementara Ikram fokus menyetir. Perjalanan menuju Warung Nasi Kadeudeuh terasa begitu lambat karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Setelah menempuh perjalanan yang membosankan itu, akhirnya Ikram memarkirkan mobilnya di Warung Nasi Kadeudeuh. Beruntung saat mereka sampai para pengunjung hanya sedikit, mungkin karena memang sudah lewat jam makan siang. Namun, sayang orang yang Ikram cari sedang tidak ada di tempat, gadis itu sedang berbelanja.

__ADS_1


Mak Aminah, yang sudah mengenal Ikram pun menyapa dengan ramah. Namun, tiba-tiba Olive menjawab dengan ketus dan bertanya mengenai gadis bernama Yuki yang telah menjadi pelakor.


Tentu saja Mak Aminah mengerutkan keningnya bingung, bagaimana bisa anak gadisnya menjadi pelakor, padahal sehari-hari mereka selalu bersama. Wanita paruh baya itu pu. jadi berpikir negatif kepada anak angkatnya. Apa mungkin Neng Yuki pura-pura terlantar, padahal dia sebenarnya seorang perebut suami orang?


Namun, untuk memastikannya, ia pun langsung menghubungi putrinya dan menyuruhnya segera pulang. Beruntung ternyata gadis itu juga memang menuju arah pulang.


"Nak Ikram sama Neng ...."


"Olive."


"Ya, Neng Olive duduk dulu saja, sebentar lagi juga Neng Yuki sampai." Wanita paruh baya itu tetap bersikap ramah pada tamunya.


Tak berselang lama, terdengar suara motor berhenti di halaman warung nasi. "Tolong turunin dan bawa ke dalam barangnya ya, Bang." Terdengar suara gadis yang sedang ditunggu itu berbicara.


Ikram dan Olive beranjak saat Yuki datang dengan membawa dua kantong kresek hitam di tangannya. Kemudian, memberikannya pada sang emak. "Tuh ada tamu, kalian ngobrol di dalam aja ya," ucap Mak Aminah.


Yuki pun mengangguk dan kini menghampiri Ikram dan Olive. Penampilan Olive memang cantik, tetapi full make up, sementara Yuki gadis itu, terlihat cantik alami dengan bibir mungilnya yang berwarna pink. Mungkin gadis itu hanya menggunakan bedak tipis dan lipglos saja.


"Ada apa, Masnya?" Yuki berkata dengan sedikit dibuat manja.


"Lo jangan godain calon suami gue ya!" Tiba-tiba Olive membentak Yuki sambil menarik tangan Ikram.


"Santai dong, Mbaknya. Gue cuma nanya doang."


"Kenapa kamu membatalkan kesepakatan kita, Yuki?" Akhirnya Ikram membuka suara.


Yuki menatap Ikram sejenak, lalu tersenyum. "Nggak deh, Masnya. Aku akan terima kok. Aku akan tetap bantu desain restonya tenang aja," ucap Yuki.


Ikram menaikkan satu alisnya."Lalu kenapa tadi menghubungiku dan bilang kalau kamu nggak mau?"

__ADS_1


"Ah, tadi cuma ngetes nomor ponsel aja sih, bener sama Mas Ikram atau bukan," jawab Yuki santai dan sebutan Mas Ikram sukses membuat Olive kembali meradang.


"Kamu seneng banget kayanya dipanggil Mas sama dia?" Olive mendelik ke arah kekasihnya.


"Sayang dengerin aku, dia itu bukan siapa-siapa aku, kita bahkan baru kenal hari ini," jelas Ikram.


Yuki tersenyum miring melihat perdebatan pasangan kekasih di depannya. Ini baru permulaan Ikram, tunggu permainanku selanjutnya.


"Oke, kalau gitu kapan aku bisa mulai kerja, Mas Ikram?" sela Yuki saat muak melihat adegan di depannya.


"Mulai besok, dan jika sampai kamu tak melakukan semuanya dengan baik, lihat saja apa yang akan terjadi dengan warung nasi ini. Paham?" ucap Ikram dengan nada dingin.


"Oke, maaf ya Mbaknya, mulai besok sepertinya Mas Ikram akan lebih sering bertemu dengan aku."


"Kamu!"


"Udah, Sayang. Lebih baik kita pulang. Nggak akan ada yang bisa gantiin posisi kamu." Ikram mencegah Olive saat gadis itu hendak beranjak dan menyerang Yuki.


Setelah mendapatkan kesepakatan, Ikram dan Olive pun pergi dari sana. Setelah kepergian pasangan itu, kini Mak Aminah dan Agam yang menatap Yuki dengan penuh pertanyaan. "Siapa dia sebenarnya, Neng Yuki?" tanya Mak Aminah.


"Yuki juga nggak tahu, Mak. Kan dia pelanggan Mak." Yuki masih bersikap biasa saja.


"Neng beneran bukan perebut suami orang, kan?" Mak Aminah menatap intens ke arah anak gadisnya.


"Astaghfirullah, Mak. Nggak, nggak mungkin aku ngerusak rumah tangga orang lain. Daripada gitu mendingan nggak nikah dah."


"Eh, amit-amit jangan gitu pamali."


"Sama Abang aja, Neng. Abang mah ridho lahir bathin kalau Neng Yuki mau nikah sama Abang." Tiba-tiba Agam menyela percakapan antara ibu dan anak itu.

__ADS_1


"Eh."


...****************...


__ADS_2