
Ikram sudah kembali ke Jakarta, pria itu menemui sang kakek untuk meminta izin kalau sampai hari ini dirinya belum berhasil menemui Vanya, ia akan mengajak Yuki untuk bertemu dengan Kakek kalau perlu ia akan melamarnya langsung.
"Aku udah berusaha menemui mereka, tapi belum juga bertemu dengan Vanya, kalau sama Tante Ayudia udah ketemu." Ikram mencoba beralasan.
"Coba kakek lihat fotonya?" Pria tua itu mengetuk meja dengan jarinya.
Keberuntungan sepertinya sedang berpihak pada Ikram karena pria itu sudah berhasil mengambil foto Yuki saat gadis itu sedang duduk bersama Mak Aminah. Biasanya ia akan ketahuan oleh Yuki dan gadis itu langsung menghapusnya. Namun, kala itu Yuki sedang berbicara serius dengan sang emak sehingga tak menyadari saat Ikram mengambil fotonya.
Ikram pun mengeluarkan ponselnya lalu membuka menu galeri dan mencari foto yang diminta sang kakek. Fathan melihat foto yang ditunjukkan cucunya. Pria itu tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sudah jelas dia adalah Vanya, Ikram. Kamu masih sibuk mencarinya padahal dia ada di depan kamu.
"Bagaimana, Kek?" Ikram membuyarkan lamunan sang kakek.
"Baiklah, ini kesempatan terakhir kamu, Ikram. Kalau hari ini kamu tidak berhasil, Kakek izinkan kamu memilih dia." Pria tua itu pun beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan sang cucu.
Ikram tersenyum miring. "Baiklah, hari ini ketemu atau tidak dengan Vanya, aku akan tetap mengejar Yuki untuk bisa melamarnya sebagai istriku." Pria itu pun kini pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Sebelum menemui keluarga Vanya, Ikram memang akan pergi ke kantor terlebih dahulu.
Tak berselang lama Ikram sudah keluar dengan setelan kerjanya, jas berwarna hitam yang pas di tubuhnya dengan jahitan yang sangat rapi membuat pria itu terlihat lebih tampan.
Ikram pun pamit pada sang kakek dan juga maminya. Pria itu kini sudah berada kembali di dalam mobilnya. Tujuan pertamanya adalah pergi ke kantor setelah itu menemui Vanya jika ada. Kali ini pria itu tak berharap banyak bisa bertemu dengan mantan calon istrinya.
Hari sudah menjelang siang, Ikram beranjak untuk makan siang. Namun, tiba-tiba seseorang menghubunginya dan memberitahukan bahwa maminya Vanya masuk rumah sakit sehingga ia yakin kalau Vanya juga akan ada di sana.
Ikram pun mengangguk dan langsung mengakhiri sambungan teleponnya. "Baiklah mungkin sekarang waktunya untuk bertemu denganmu, Vanya Anindira."
Pria itu pun meninggalkan kantornya, lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Ayudia dirawat. Tak sulit untuk menemui wanita paruh baya itu. Ikram langsung diizinkan masuk saat pria itu mengetuk pintu kamarnya.
Namun, yang membuat Ikram terkejut adalah saat pria itu melihat gadis yang sangat ia kenali sedang mendekap tubuh Tante Ayudia. Gadis yang tadi pagi ia temui di rumah makan, gadis yang selama ini membuat hidupnya lebih berwarna.
"Yuki!"
__ADS_1
Gadis itu menoleh dan terkejut melihat pria di hadapannya. Pria berjas hitam yang entah mengapa hari ini terlihat begitu tampan.
Vanya mematung dan diam seribu bahasa.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Ayudia yang menambah kegugupan pada Vanya.
"Eh, Tante. Dia benar Yuki, kan?" Ikram berjalan mendekat ke arah ranjang Ayudia. Kali ini Ikram yakin kalau gadis di depannya adalah Yuki, toh pakaian yang digunakannya pun sama dengan tadi pagi saat dirinya pamit pulang.
Ayudia hanya terkekeh melihat kebingungan Ikram. "Dia put--" Vanya langsung menutup mulut sang mami.
"Ngapain ke sini?" tanya Vanya pura-pura bersikap biasa.
"Aku mau menjenguk Tante Ayudia. Kamu sendiri ngapain di sini?" Ikram balik bertanya.
"Aku ...."
"Vanya, Sayang katanya Ikram akan datang ke sini." Tiba-tiba Ehsan berteriak sambil menutup pintu ruangan sang istri. Saat pria paruh baya itu berbalik, terlihat Ikram sedang berdiri di antara anak dan istrinya.
Ikram menatap Ehsan dan gadis yang ia kenal dengan nama Yuki itu bergantian. "Apa? Jadi, selama ini ... ah!" Ikram mengusak rambutnya sendiri.
"Sudah ayo duduk dulu!" ucap Ayudia mencairkan suasana yang kaku.
Ehsan dan Ikram pun duduk berdampingan, sementara Vanya tetap duduk bersama sang mami. Ikram tak melepaskan pandangannya dari Vanya. Gadis yang selama ini ia cari ternyata sering berinteraksi dengan dirinya, gadis yang akan ia jadikan sebagai pengganti Vanya ternyata adalah orang yang sama.
"Sekarang kamu sudah bertemu dengan putriku, apa yang akan kau lakukan?" Ehsan mulai membuka suara.
"Sebentar Om, Ikram masih tak menyangka kalau selama ini Yuki adalah Vanya? Lalu Mak Aminah itu siapa?" Ikram menatap ke arah pria paruh baya di sampingnya lalu kembali menatap Vanya yang sejak tadi terus memalingkan wajahnya.
"Itu urusan nanti, sekarang kamu sudah bertemu dengan Vanya apa yang akan kamu lakukan?"Ehsan mengulang pertanyaannya.
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf pada Vanya juga pada Om dan Tante. Ikram memang salah karena kabur dari pernikahan saat itu." Pria itu tiba-tiba turun dari sofa lalu berlutut di hadapan Ehsan.
__ADS_1
"Ikram bersedia menerima hukuman apa pun atas semua kesalahan Ikram ...."
"Bangunlah, Nak!" Ehsan langsung menarik bahu Ikram agar kembali duduk di sampingnya.
"Tapi ... Om ...."
"Bangunlah, Ikram. Kami sudah memaafkanmu." Tiba-tiba Ayudia menyela percakapan mereka.
"Mami," pekik Vanya.
"Sudahlah, Mami nggak mau ada permusuhan lagi. Mami ingin hidup tenang bersama kalian." Ayudia berubah sendu.
"Mami ...." Vanya mendekap tubuh sang mami.
"Papi masih belum terima, bagaimanapun dia telah mencoreng nama baik keluarga kita, Mi." Ehsan kini bersuara dengan sikap keras kepalanya.
"Mami tahu, tapi sudah cukup Mami kehilangan Vanya, Pi. Sekarang kita sudah berkumpul kembali."
"Sudah Mi, Pi. Biar Mas Ikram jadi urusan Vanya saja. Vanya belum mau memaafkan dia." Akhirnya Vanya mengeluarkan pendapatnya. Gadis itu menatap sinis ke arah pria yang saat ini masih saja menatapnya.
"Aku tahu kesalahan ku sangatlah fatal, Yuki ... maksudku Vanya. Bisakah kita memperbaiki hubungan kita?" tanya Ikram.
"Untuk apa?Aku bahkan tidak ingin berhubungan denganmu, Mas." Entah mengapa Vanya masih tetap memanggil Ikram dengan sebutan 'Mas'.
"Bukannya kamu pergi dari pernikahan kita karena akan menikah dengan Mbak Olive? Lalu kenapa sekarang berusaha untuk memperbaiki hubungan?"
"Olive ... dia sudah menikah dengan orang lain." Ikram merasa geram saat mendengar nama itu disebut oleh Vanya.
"Jadi kamu menjadikan Vanya sebagai pelarian karena kekasihmu sudah menikah dengan yang lain?" bentak Ehsan yang tak terima dengan alasan Ikram.
"Bu-bukan seperti itu, Om. Maksud Ikram ...."
__ADS_1
"Sudahlah lebih baik sekarang pergi dari sini! Vanya tidak akan pernah mau bertemu denganmu lagi," usir Ehsan.
"Mas!"