
Ehsan bertanya mengenai rencana sang putri. Pria itu tidak akan memaksakan kehendaknya lagi. Vanya sudah dewasa, Ehsan yakin putrinya punya pilihan dalam hidupnya.
"Apa rencana kamu sekarang, Nak?"
"Bolehkah aku tetap membatu Mak Aminah, Pi?" ucap Vanya ragu.
"Kamu mau tinggalin Mami lagi? Nggak-nggak Vanya, sudah cukup Mami menderita kehilangan kamu kemarin, Mami nggak mau lagi." Ayudia langsung menolak mentah-mentah keinginan putrinya.
"Vanya nggak akan tinggalin Mami, Vanya janji." Gadis itu mendekap tubuh sang mami.
"Lalu bagaimana caranya?"
Vanya pun menegakkan tubuhnya, lalu gadis itu menceritakan keinginannya. "Vanya akan ke Bandung satu minggu sekali, Vanya akan membatu Mak Aminah dan juga membantu perusahaan papi. Selain itu ...." Gadis itu menatap orang tuanya bergantian.
"Kenapa, Sayang?"
"Vanya ingin memberi pelajaran pada Ikram, Pi, Mi." Gadis itu mengepalkan tangannya.
Ehsan dan Ayudia saling berpandangan. "Kamu yakin, Sayang? Biar Papi saja yang urus anak itu, tapi sayang dia belum papi ketemukan." Ehsan ikut geram saat mendengar nama Ikram daei mulut putrinya.
Vanya tersenyum. "Papi tenang saja, Vanya tahu dia ada di mana, biar Vanya balas semua yang pernah dia lakuin ke Vanya dan keluarga kita, Pi."
"Apa yang akan kamu lakukan, Nak?" Ayudia terlihat khawatir.
"Mami tenang aja, aku nggak akan melakukan hal yang melanggar hukum kok," ucap Vanya.
Ehsan hanya mengangguk, lalu menghampiri putrinya. "Papi setuju, kabari Papi kalau ada apa-apa. Papi percaya sama kamu, Sayang."
__ADS_1
Vanya pun tersenyum, lalu memeluk kedua orang tuanya. "Makasih, Mami, Papi." Vanya merasa beruntung karena diterima kembali di keluarganya. Walaupun sebenarnya memang Vanya sebenarnya tak dibuang, hanya saja karena emosi Ehsan dan Vanya pun berseteru dan semua itu terjadi karena Ikram.
Kebersamaan mereka berlangsung dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan. Bahkan Vanya juga sudah masuk ke perusahaan sang papi. Tentu saja hal itu menjadi perbincangan hangat diantara para kolega Ehsan. Bahkan keluarga Pradana pun mendengarnya. Manda dan Hanan juga tahu bahwa calon menantunya telah kembali.
Hartono ayah Olive pun tahu, ia bahkan langsung menghubungi putrinya yang masih berada di kota Bandung bersama Ikram.
Setelah mendapat kabar dari sang papi, Olive bergegas pulang bersama Ikram.
Ikram baru saja sampai di kediaman Hartono. Pria itu seperti biasa menggandeng tangan sang kekasih setelah sebelumnya gadis itu ia bangunkan.
Namun, saat membuka pintu Ikram dan Olive disambut oleh seorang pria tinggi yang cukup tampan juga. Pria itu bahkan memanggil Olive dengan sebutan 'honey' seperti pada seorang kekasih. Ikram tentu saja naik pitam saat kekasihnya dipanggil seperti itu oleh pria lain di hadapannya pula.
"Siapa dia Olive?" Ikram bertanya dengan geram.
"Dia ... dia ...." Olive menelan salivanya, gadis itu bingung harus berkata apa.
"Kenalkan aku Erik ... tunangan Olive." Pria itu mengulurkan tangannya pada Ikram.
"Ikram dengarkan aku dulu," pinta Olive saat pria itu melepaskan genggaman tangannya lalu mundur beberapa langkah.
"Aku mohon Ikram."
Namun, Ikram diam seribu bahasa, ia sangat kecewa. Kecewa pada kenyataan juga pada dirinya sendiri yang rela mengorbankan keluarganya demi wanita yang sebenarnya tak pantas untuk diperjuangkan.
"Kita sudah berakhir, Olive." Ikram berkata sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana. Pria itu memacu kendaraannya di atas kecepatan rata-rata.
Setelah kepergian Ikram, kini Olive menatap tajam ke arah Erik, tunangannya. "Apa yang kamu lakukan, Erik?" bentak Olive pada pria di hadapannya yang saat ini malah melipat kedua tangannya sambil tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Aku sudah sangat merindukanmu, Sayang. Apa ini sambutanmu?" Erik merentangkan kedua tangannya untuk menyambut gadisnya.
"Sudah aku bilang bersabarlah sebentar, kita hanya tidak bertemu selama satu minggu saja," gerutu Olive lalu duduk di sofa dengan kesal.
"Aku dengar kamu sudah telat datang bulan, apa itu artinya kamu mengandung anakku, Olive?" Erik mendekati gadisnya dan mengusap perut Olive yang masih terlihat rata.
"Kenapa kamu menggagalkan semuanya, Erik? Aku sudah berjuang agar bisa bersanding dengan Ikram dan mendapatkan semua hartanya, tapi ... kamu!" Olive murka dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya, gadis itu menangis. Olive sangat kesal dan marah.
"Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan kamu." Erik menarik tubuh Olive ke dalam dekapannya.
"Kamu sudah menghancurkan semuanya, Erik!" Olive memukul dada pria itu dengan kuat. Namun, tiba-tiba saja rasa mual kembali menyeruak dari dalam tubuhnya. Olive pun langsung melepaskan diri dari dekapan Erik. Lalu ia berlari menuju toilet. Olive memuntahkan isi perutnya kembali. Erik tentu saja khawatir, apalagi saat ini kedua orang tua Olive sedang tidak ada di rumah.
"Sayang, kamu kenapa?" Erik terus memijat tengkuk Olive dengan telaten. Tidak dapat dipungkiri Erik benar-benar sangat khawatir dengan keadaan kekasihnya. Olive yang terus mual muntah, akhirnya tak sadarkan diri. Untung saja Erik berada di dekatnya, jadi tubuhnya langsung didekap oleh Erik, kemudian pria itu tak berpikir lama, ia langsung membawa Olive ke mobilnya untuk pergi ke rumah sakit.
"Maafkan aku, Sayang. Aku mohon bangunlah! Kamu jangan membuat aku takut, Olive." Erik terus berbicara sambil mengemudikan mobilnya.
Tak berselang lama mereka sampai di rumah sakit terdekat. Olive digendong oleh Erik sambil memanggil perawat di sana. Kemudian datang seorang perawat dengan mendorong belankar, Olive pun dibaringkan di sana. Erik mengikuti Olive ke ruang UGD.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya seorang dokter datang memanggil nama Olive. Erik berdiri dan menghampiri pria berjas putih itu. "Bagaimana keadaan calon istri saya, Dok?" Erik ingin segera mengetahui keadaan Olive.
Pria berjas itu mengerutkan keningnya sejenak, kemudian ia pun mulai memberitahukan keadaan Olive. "Selamat, Anda akan menjadi seorang ayah." Dokter berkacamata itu mengulurkan tangannya.
"Apa? Jadi Olive benar-benar sedang mengandung,, Dok?" Erik tak bisa menyembunyikan kebahagiannya.
"Iya, mungkin untuk trimester pertama akan merasakan mual muntah, itu hal biasa. Baiklah silakan jika ingin menemui ibu dari calon anak, Anda." Dokter itu mempersilakan Erik untuk menemui Olive. Erik pun mengangguk dan langsung masuk, setelah dokter itu pamit.
Erik melihat Olive masih berbaring di ranjangnya. Wanita itu terlihat menatap kosong ke arah lain.
__ADS_1
"Sayang, akhirnya kita akan menjadi orang tua."
"Aku benci sama kamu, Erik!"