Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Pulang


__ADS_3

Hari ini jadwal kepulangan Ikram dari rumah sakit, setelah satu minggu pria itu dirawat. Olive duduk di samping Ikram di belakang, mobil Olive dikemudikan oleh supirnya.


"Hari ini kamu mau pulang ke rumah atau ke hotel, Kram?" tanya gadis itu sambil bergelayut manja pada lengan Ikram seperti biasanya.


"Aku mau ke resto saja, sambil lihat bener nggak kerjanya tuh cewek," jawab Ikram yang sebenarnya ingin sekali bertemu dengan gadis itu. Ikram merasa rindu pada ocehan gadis itu yang selalu membantahnya.


Olive mendelik sebal mendengar jawaban Ikram. "Kamu kangen sama tuh pelakor? Aku ini cewek kamu, Ikram, kamu lupa?" Olive melepas gandengannya pada lengan kekasihnya. Ikram menarik tangan kekasihnya dengan cepat. "Bukan gitu, Sayang. Aku cuma mau lihat dia kerja profesional nggak?"


Olive pun akhirnya luluh, saat pandangan mata Ikram yang seperti langit malam itu menatap ke manik mata Olive. Kini keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Sementara itu, Yuki baru saja menyelesaikan tugasnya yang terakhir di lantai bawah. Mungkin besok atau lusa resto Ikram sudah bisa dibuka.


"Ah, akhirnya selesai juga. Besok aku bebas!" Yuki melompat girang dengan kedua tangan ke atas.


Bersamaan itu, terdengar suara seseorang memanggilnya. "Yuki!"


Gadis itu pun refleks menoleh ke sumber suara. Terlihat pasangan yang selalu membuatnya dapat masalah itu berada di depannya.


"Eh, udah pulang ya? Syukurlah, aku juga sudah menyelesaikan tugas aku, lihat!" Yuki menunjukkan hasil karyanya pada Ikram dan Olive. Ikram takjub dengan desain interior Yuki, gadis itu memang cerdas dan selalu membuatnya terkejut.


Namun, jika hari ini selesai Ikram tak bisa berinteraksi secara langsung lagi dengan Yuki. "Kamu yakin semuanya sudah selesai?" tanya Ikram sambil masuk ke restonya dan duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana.


"Sudah, Masnya, emang nggak lihat, katanya semuanya terserah aku?" ucap Yuki dengan mengerutkan keningnya, bahkan peluhnya masih membasahi pelipis gadis itu.


"Kamu bisa nggak sih jangan panggil 'Masnya' ke Ikram?" Tiba-tiba Olive menyela obrolan mereka. Yuki menatap Olive dengan penuh tanya.

__ADS_1


"Udah biarin aja, Sayang. Aku nggak suka dia manggil nama aku, cuma kamu yang boleh," timpal Ikram. Padahal dalam hati pria itu, ia merasa spesial dengan panggilan berbeda dari Yuki.


Yuki menghela nafas, ia benar-benar siyal kalau bertemu mereka berdua. "Jadi mau gimana ini? Aku rasa tugas aku udah selesai, terus apa lagi?"


Ikram kembali menatap Yuki, kini dengan senyuman penuh arti di bibirnya. "Aku belum lihat ruanganku, jika di sana audah sesuai seleraku, kamu bisa mendapatkan hak kamu hari ini juga dan tugasmu selesai," ucap Ikram.


"Oke, siapa takut." Yuki pun berjalan lebih dulu menuju lantai atas. Ikram dan Olive mengikutinya dari belakang. Wajah pucat Ikram masih tampak jelas, tetapi saat bertemu dengan Yuki, ada gairah lain yang membuat pria itu jadi semangat.


Yuki membuka ruangan Ikram yang sudah ia make over dengan susah payah sampai harus lembur. Suasana ruangan Ikram sangat berbeda dan terasa nyaman. Ikram tersenyum puas melihat kinerja Yuki. Pria itu tak menyangka kalau Yuki tetap bekerja secara profesional walaupun dirinya sudah tersudut.


Ikram duduk di kursinya putarnya, lalu menyandarkan tubuhnya. Pria itu menatap Yuki dengan intens. Namun, Yuki selalu memalingkan wajahnya tiap kali pria itu menatapnya.


"Baiklah, aku suka ruangan ini, semua idenya sangat menarik dan membuat aku betah dan nyaman." Ikram mulai mengeluarkan suaranya.


"Syukurlah." Yuki berkata singkat, apalagi Olive terus mengawasi gerak-geriknya.


Yuki ingin sekali memaki pria menyebalkan di hadapannya, tetapi saat ini tenaganya sudah terkuras, dan ia tak berminat intuk berdebat. "Baiklah, aku akan memperbaiki semuanya, Ma- Pak Ikram bisa merinci apa yang kurang berkenan."


Ikram merasa asing saat Yuki memanggilnya dengan sebutan Pak, tak seperti biasanya. Namun, karena Olive masih berada di sana, ia pun pasrah dan membiarkan Yuki. "Aku akan menunjukan bagian mana saja yang kurang, ayo ikut aku!" Ikram beranjak dari duduknya tetapi ditahan oleh Olive.


"Sayang, kamu baru saja pulang dari rumah sakit, sebaiknya kamu istirahat." Olive mengingatkan Ikram.


"Nggak apa-apa, Sayang, aku hanya akan menunjukan desain yang kurang saja, setelah itu aku janji akan istirahat. Kamu bisa istirahat di sini dulu, nanti aku akan kembali." Ikram meyakinkan kekasihnya, lalu Olive pun mengangguk dan mengikuti saran Ikram. Apalagi gadis itu memang sangat lelah dan juga mengantuk.


Kini Ikram dan Yuki berjalan kembali ke lantai bawah tanpa Olive. Ikram berjalan lebih dulu, sementara Yuki mengikutinya. Ikram sesekali berkata tentang keinginannya. Yuki menyimak dan mencerna setiap ucapan pria itu. Saat sampai di lantai bawah, Ikram menuju tempat yang dimaksud lalu menjelaskan pada Yuki keinginannya. Gadis itu dengan serius mendengarkan dan mengangguk.

__ADS_1


Namun, jika ada yang dianggap kurang pas, Yuki akan memberi penjelasan dengan gaya bicaranya yang menarik. Hal itu menambah penasaran Ikram. Bagaimana bisa gadis di hadapannya ini bisa secerdas ini, padahal kalau dilihat dari strata sosialnya, ia termasuk kalangan biasa.


Setelah selesai, menjelaskan keinginan Ikram, Yuki pun menyanggupinya dan akan mulai mengerjakan tugasnya kembali. Namun, kali ini setiap makan siang Mak Aminah akan datang mengantar untuk makan bersama.


"Apa kamu sesenang itu tanpa aku, Yuki?" tanya Ikram tiba-tiba saat Yuki hendak berbalik meninggalkan pria itu.


Yuki berbalik lalu berkata, "Seneng banget malah, hidup aku tenang nggak ada yang rusuh dan bikin hari aku ancur." Yuki pun kembali berbalik dan meninggalkan Ikram begitu saja.


"Apa? Justru dia yang selalu bikin aku siyal." Ikram menggerutu sambil berjalan, ia akan ke lantai atas, tetapi saat akan naik tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang ia kenal datang dengan paper bag di tangannya dan wangi makanan tercium di hidung Ikram. Pria itu pun urung dan malah menghampiri Mak Aminah.


"Lho, Nak Ikram udah pulang? Alhamdulillah udah sembuh ya," sapa wanita itu.


"Alhamdulillah, Mak bawa apa itu?" tanya Ikram yang perutnya sudah mulai protes.


"Oh, ini bawa bekal makan siang untuk Yuki. Mak biasanya makan siang bareng di sini. Maaf ya."


"Nggak apa-apa, Mak. Kalau gitu aku boleh ikut makan siang bareng ya? Udah lama nggak makan makanan Mak." Ikram mengajak Mak Aminah untuk duduk di salah satu meja yang ada di sana.


"Boleh, hayu ini Mak kebetulan bawa banyak, kok. Neng Yuki-nya di mana ya?"


"Ada di belakang, sebentar lagi juga ke sini." Ikram sudah tak sabar ingin makan siang.


Mak Aminah menyediakan makanannya di meja, lalu mempersilakan Ikram untuk makan lebih dulu. Pria itu tak menunggu lama lagi, ia langsung melahap makanan di depannya hingga habis.


Saat makanan itu habis, Yuki muncul dengan peluh yang masih membasahi tubuhnya.

__ADS_1


"Maaf ya, makanannya udah aku abisin." Ikram menunjukan kotak makan kosong ke arah Yuki.


"Mak!"


__ADS_2