Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Pertemuan kembali


__ADS_3

Ikram akhirnya tidur nyenyak setelah menulis pesan pada warung Mak Aminah. Pria itu esok pagi akan kembali ke rumah Vanya, tetapi jika kembali tidak berhasil ia akan pergi ke kota Bandung. Ikram berencana akan membuka restonya langsung.


Keesokan paginya, Ikram bangun lebih awal dengan wajah yang lebih segar. Pria itu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Suasana hatinya lebih baik dari kemarin. Entah mengapa mengingat kota Bandung membuat dirinya lebih bersemangat, bukan karena restonya yang baru tetapi ada gadis judes dan galak yang selalu merecoki kehidupannya.


Semudah itu ya, Ikram berpaling dari Olive? Sebenarnya tidak, hatinya memang masih terpaut pada Olive apalagi rasa sakitnya saat gadis itu ternyata telah mengkhianatinya. Ikram ingin segera melupakan rasa sakit itu dengan mendekati Yuki. Ah, teryata niatnya nggak tulus. Kita lihat saja siapa yang akan terjebak dengan permainan mereka Yuki atau Ikram. Karena keduanya memiliki niat yang sama.


Ikram sudah rapi dengan pakaian casualnya, hari ini ia akan bekerja dari rumah saja. Ikram tidak akan pergi ke kantor untuk sementara waktu.


Saat pria itu turun ke bawah, suasana masih terlihat sepi hanya asisten rumah tangganya saja yang sibuk menyiapkan sarapan untuk tuannya. "Mami sama papi belum bangun, Bi?" tanya Ikram saat dirinya mengambil minum dari galon.


"Eh, belum turun, Den Ikram. Mungkin sebentar lagi, biasanya nyonya sama tuan akan turun jika sarapan sudah tersedia." Wanita berapron biru itu menjawab kemudian kembali mengaduk masakannya di wajan.


Ikram pun mengangguk kemudian pergi ke ruang makan, pria itu duduk di sana ßmbil meminum air putihnya. Satu tangannya fokus pada ponselnya. Ikram menunggu balasan dari pesan yang telah ia kirimkan semalam. Ternyata tak berselang lama ada notifikasi di ponselnya. Tertera tulisan 'Warung Nasi Kadeudeuh' membalas pesan Anda. Ikram pun langsung membukanya.


Makasih udah mampir di warung kami, pengirim surat cintanya tak pernah ke mana-mana kok. Hayu mampir dan jajan di warung kami.


Itu adalah balasan pesannya. Ikram pun menarik satu ujung bibirnya. "Tunggu aku, Cewek Galak."


"Alhamdulillah udah sembuh ya, Nak." Tiba-tiba Manda sudah berada di sampingnya. Wanita itu mengusap punggung putranya dengan lembut.


"Alhamdulillah, Mi. Ikram udah baikan. Hari ini Ikram akan pergi lagi. Doain Ikram biar selalu sehat dan selamat ya, Mi." Pria itu mencium punggung tangan maminya.


"Mami selalu mendoakan kamu yang terbaik, Ikram ... tunggu kamu sudah rapi gini mau ke mana?" tanyanya saat melihat penampilan putra bungsunya.


"Ikram akan ke Bandung buat buka resto baru Ikram di sana, Mi."

__ADS_1


"Urus saja pekerjaanmu, sampai lupa kalau kamu masih punya hutang sama papi." Tiba-tiba Hanan sudah berada di antara mereka.


"Ikram akan tetap melakukan apa yang sudah Ikram janjikan, Pi. Ikram akan berusaha bertemu dengan keluarga Om Ehsan."


"Sudah-sudah ayo kita sarapan dulu," ucap Fathan yang juga tiba-tiba datang dengan pakaian rapi juga.


Tak ada yang dapat membantah ucapan pria tua itu, mereka semua menuruti perintah Fathan dengan patuh. Pagi ini mereka makan bersama dengan rencana mereka yang berbeda-beda. Sekitar jam delapan pagi, mereka semua sudah menyelesaikan sarapannya. Ikram pamit pada keluarganya, tak berselang lama setelah kepergian Ikram, Fathan pun pergi.


Kini di rumah itu hanya tinggal Manda dan Hanan. Pria itu memang belum kembali bekerja, karena masih dalam proses pemulihan.


Ikram sudah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, pagi ini tujuan pertamanya adalah rumah Ehsan. "Semoga kalian saat ini ada di rumah, aku benar-benar ingin meminta maaf atas apa yang aku lakukan."


Pagi ini suasana ibu kota ramai seperti biasanya, apalagi saat ini adalah hari kerja tentu saja kemacetan terjadi di mana-mana.


Ikram juga tentu saja mengalami itu. Perjalanan menuju ke rumah Ehsan memakan waktu sekitar satu jam karena macet. Akhirnya, Ikram pun berhasil sampai ke kediaman Ehsan. Pria itu menyapa Pak Trisno sebagai satpam di rumah itu.


"Eh, Den Ikan eh ... aduh lupa saya namanya," ucap pria berkumis itu sambil menggaruk kepalanya.


"Ikram, Pak." Pria itu terkekeh saat namanya berubah menjadi ikan. "Pak Ehsan sama Vanyanya ada di rumah nggak hari ini?"


"Aduh, maaf Den. Bapak sama Neng Vanya sedang keluar kota, nggak tahu kapan pulangnya." Pria berkumis itu berucap dengan nada penyesalan.


Ikram pun menghela nafasnya. "Ke luar kotanya ke mana, Pak?"


"Saya kurang tahu, Den."

__ADS_1


Ikram pun mengangguk, kemudian pria itu pun pamit undur diri. "Baiklah Ikram, lebih baik kita bertemu dengan yang lain dululah."


Kini pria itu pun melajukan kembali mobilnya menuju kota Bandung. Rencana pembukaan resto akan ia laksanakan besok, sebelumnya Ikram juga sudah menghubungi Jafin untuk mengurus semuanya.


Setelah melewati perjalanan yang melelahkan akhirnya, Ikram pun sampai di halaman 'Warung Nasi Kadeudeuh'. Pria itu memarkirkan mobilnya dengan apik. Setelah mematikan mesin mobilnya, Ikram pun keluar, kebetulan saat sampai sudah masuk jam makan siang.


"Ya udah, Bang ayo! Buruan keburu Emak ngamuk!" Terdengar suara gadis yang saat ini ingin Ikram temui.


"Iya, hayu sebentar pake dulu helmnya." Pria jangkung itu memberikan helm pada gadis yang saat ini membelakangi Ikram.


"Biar saya saja yang antar dia." Ikram tiba-tiba merebut helm dari pria yang saat ini sudah duduk di atas motornya. Yuki tentu saja, pria itu adalah Ikram target balas dendamnya.


"Hei, ngapain sih? Emang tahu aku mau ke mana?" omel Yuki lalu kembali merebut helmnya kemudian memakainya.


"Ke mana pun akan aku antar, Yuki. Saya juga masih ada urusan sama kamu." Ikram mencoba berbicara baik-baik pada Yuki.


"Urusan kita udah selesai ya, Masnya. Nggak usah ngerecokin hidup aku deh." Yuki kini naik ke motor Agam. "Ayo berangkat, Bang!"


"Ashiap, Neng."


Perdebatan mereka ternyata disaksikan oleh Mak Aminah dan Nisa. Merek berdua melihat dari jendela kaca. "Mak, itu teh pacarnya Teh Yuki, ya? Meni kasep pisan." Nisa menatap Ikram dengan senyuman di bibirnya.


"Nggak tahu Emak. Pokoknya Nak Ikram sering banget gangguin Neng Yuki." Mak Aminah menjawab tanpa menoleh ke arah Nisa.


Saat percakapan Nisa dan Mak Aminah berlangsung, mereka juga menyaksikan Ikram ternyata mengejar Yuki dan Agam dengan menggunakan jasa ojek pangkalan. "Beuh, pesona Neng Yuki emang nggak ada lawan." Mak Aminah terkekeh saat melihat kejadian di depan matanya.

__ADS_1


"Eh, kamu teh malah lihatin mereka, buruan kasihin surat cintanya." Wanita paruh baya itu menepuk bahu Nisa saat gadis itu malah asyik memperhatikan Ikram.


"Eh, iya ... maaf Mak."


__ADS_2