Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Banyak Pelanggan


__ADS_3

Sudah masuk hari ketiga Warung Nasi Kadeudeuh buka dan makin banyak pelanggan baru. Sementara itu, resto milik Ikram yang berada tepat di seberang warung nasi Mak Aminah baru saja rampung pengerjaannya.


Ikram yang sudah kembali ke kota Bandung, setelah mendapat peringatan dari sang kakek untuk mencari Vanya akhirnya setuju. Namun, pria itu juga mendapat kabar bahwa restonya sudah selesai, tinggal mendesain ruangannya.


"Kenapa kamu tak memberitahu kalau warung nasi di seberang sudah buka lebih dulu, Jafin?" geram Ikram yang pembukaan restonya terdahului yang lain.


"Maaf, Bos. Saat pembukaan itu, aku sedang pulang menemui ibuku." Jafin menyesal karena tak datang, karena mendapat kabar ibunya kembali masuk rumah sakit.


Ikram menghela nafas dan akhirnya pasrah. Namun, ia juga ingin mencari seorang desain interior untuk restonya yang baru. Oke Ikram tenang saja, resto kamu pasti lebih unggul dari yang lain.


Hari pun mulai siang, Ikram dan Jafin pun memutuskan untuk makan siang bersam. "Ayo kita makan siang dulu!" ajak Ikram pada Jafin.


Namun, saat Ikram akan memasuki mobilnya untuk mencari restoran lain. Tiba-tiba Jafin berkata, "Bagaimana kalau kita coba makan di warung nasi seberang, Bos? Sambil lihat konsepnya seperti apa?"


Ikram awalnya enggan tapi mendengar alasan Jafin, ia pun setuju dan akhirnya kembali keluar dari mobilnya dan menyeberang ke warung nasi. Kedua pria itu, berjalan memasuki warung nasi yang terlihat asri dan unik. Bagian luar sudah sudah penuh dengan pengunjung lain, akhirnya Ikram dan Jafin pun ke bagian dalam.


Ikram terkejut dengan desain bagian dalam, konsep lesehan yang digunakan membuat warung nasi ini terlihat lebih luas. Ada bagian sudut yang masih kosong, Ikram dan Jafin pun segera menuju ke sana.


Yuki saat itu sedang melayani pelanggan yang membeli pulsa. Jadi, Bu Aminah yang menyambut mereka saat Ikram dan Jafin akan mengambil nasi.


Ikram memilih makanan yang menurutnya sangat menggugah selera semuanya. Sampai akhirnya pria itu memesan semua menu yang ada di sana. Jafin bahkan terkejut dengan apa yang dilakukan bosnya.


Mak Aminah hanya mengangguk dan menyuruh ikram menunggu di mejanya, nanti ia dan sang putri akan mengantarnya. Saat Ikram dan Jafin sudah kembali duduk, Yuki pun menemui sang Mak.


"Maaf ya, Mak. Tadi yang beli pulsa lumayan banyak." Gadis itu menggandeng lengan sang emak.

__ADS_1


"Alhamdulillah, bagus atuh, Neng. Sekarang bantuin Mak ya, nganterin pesenam meja yang di sudut sana." Wanita dengan apron merah itu menunjuk ke arah meja sudut yang dihuni dua orang pria. Yuki hanya mengangguk, tanpa tahu bahwa kedua pria itu adalah orang yang telah menghancurkan hidupnya.


Saat ini Mak Aminah memang belum merekrut karyawan lain, wanita itu hanya punya seorang pekerja yang bertugas mencuci piring saja. Selebihnya dilakukan semua oleh Mak Aminah dan Yuki.


Wanita paruh baya itu sudah memasukan aneka masakan pada beberapa piring, hari ini ada sepuluh menu makanan yang dibuat oleh Mak Aminah, diantaranya ada ulukutek leunca, lotek, ayam goreng, ayam bakar, ikan asin, cah kangkung, sambel terasi, jengkol goreng, tahu dan tempe goreng.


Setelah memasukkan aneka makanan itu ke dalam piring, Mak Aminah menatanya dalam sebuah nampan, kemudian memberikan pada Yuki. Gadis itu pun menerimanya, tetapi baru saja dua langkah, nampan berisi piring-piring itu miring dan semuanya hampir tumpah.


"Astagfirullah, Neng Yuki!" pekik Mak Aminah saat cah kangkung dalam piring itu tumpah ke baju milik Yuki.


Semua orang yang ada di sana bahkan melihat kejadian itu. "Hati-hati atuh Neng, Aa masih di sini kok," ujar seorang pemuda yang sudah tiga hari ini menjadi pelanggan tetap warung Mak Aminah dan gencar menggoda Yuki.


Yuki sebenarnya sangat malu, tetapi gadis itu juga bisa apa, dirinya memang tak biasa membawa nampan berisi makanan dan disuguhkan pada orang lain. "Maaf, Mak," sesal Yuki sambil membereskan tumpahan cah kangkung itu.


"Udah nggak apa-apa, Neng. Neng ke belakang aja gih, bersihin diri dan ganti baju, ini biar Mak aja." Mak Aminah menggeleng, raut khawatir tercetak jelas di wajah wanita paruh baya itu.


Tak berselang lama, setelah Yuki pergi dan Mak Aminah mengganti semua makanannya, wanita paruh baya itu pun mengantarkan pesanan Ikram ke mejanya. "Maaf ya, nunggu lama. Sok atuh dimakan ya!" ucap Mak Aminah dengan senyuman di bibirnya.


"Itu yang tadi pekerjanya ya, Bu?" tanya Ikram ingin tahu, padahal biasanya ia tak peduli dengan hal kecil seperti itu.


"Dia anak gadis Mak, maaf dia belum terbiasa." Mak Aminah menjawab dengan wajah berseri, ia merasa bangga bahwa saat ini dirinya adalah seorang ibu.


Ikram pun mengangguk dan setelah itu membiarkan Mak Aminah kembali ke tempatnya. Ikram langsung mencoba semua masakannya. Ternyata rasanya sesuai dengan seleranya. Pria itu makan dengan lahap, bahkan Jafin sampai takjub melihat makan bosnya itu.


Saat Ikram dan Jafin baru saja menyelesaikan makanannya, Yuki kembali dengan bajunya yang sudah berganti. Gadis itu juga menggunakan kacamatanya, sehingga terlihat lebih cantik.

__ADS_1


Saat gadis itu menemui emaknya yang sedang menghitung catatan pesanan para pelanggannya, Yuki langsung mengambil alih tugas itu. "Surat cintanya udah semuanya, Mak?" tanya gadis itu.


"Sudah, tinggal yang di pojok tadi, tulisin dulu sama Neng ya?"


"Oke."


Yuki langsung beranjak dari sana dan menuju meja Ikram dan Jafin. Namun, saat hampir dekat ke meja Ikram yang membelakanginya, Yuki terkejut saat melihat Jafin. Tangannya mengepal dan hatinya memanas. Alih-alih langsung menghampiri, Yuki malah berbalik dan memberikan surat cinta pada meja lain, lalu ia kembali ke Mak Aminah.


"Cepet banget, Neng."


Yuki tak menjawab, gadis itu mengambil masker dan memakainya. Walaupun sekarang Yuki lebih kurus dan berkacamata, tetapi gadis itu tetap takut, kalau Jafin mengenalinya. Yuki pun kembali menuju meja Ikram, dengan buku catatan kecil di tangannya.


Saat Yuki bertanya mengenai menu apa saja yang kedua pria makan. Gadis itu kembali terkejut saat pria yang satunya ternyata mantan calon suaminya yang kabur.


"Kamu?" pekik Yuki tanpa sadar yang membuat Ikram mengerutkan keningnya.


"Kenapa, Nona?"


Yuki langsung menggelengkan kepalanya dan bertanya seperti biasa apa yang mereka makan.


"Makanan di sini enak-enak saya suka." Ikram tersenyum pada gadis yang memakai masker itu.


"Terima kasih."


"Boleh saya lihat wajah kamu?"

__ADS_1


"Eh."


__ADS_2