Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Bertekad


__ADS_3

Setelah urusannya dilimpahkan pada Jafin, Ikram saat ini makin fokus bersama Olive. Pria itu menyiapkan rencana pernikahan tanpa sepengetahuan kekasihnya.


Ikram sibuk menghubungi beberapa orang kenalannya untuk mengurus acara pernikahannya. Namun, sesekali pria itu bertanya mengenai suvenir apa yang diinginkan oleh Olive. Olive hanya memberitahukan keinginan pesta pernikahannya dan suvenirnya, tetapi gadis tak tahu rencana pernikahan itu kapan.


Namun, gadis itu sedang menikmati kebersamaan bersama sang kekasih yang selama ini sulit ia dapatkan, karena Ikram selalu sibuk bekerja.


Olive dan Ikram selalu sarapan, makan siang dan makan malam bersama. Mereka sudah seperti pasangan yang sedang bulan madu, padahal halal saja belum. Ikram benar-benar menikmati setiap waktu kebersamaan dengan kekasihnya.


**


Sementara itu, di tempat lain seorang gadis yang baru keluar dari bak sampah itu terlihat begitu berantakan dan tentu saja dengan bau yang tidak sedap, selain bajunya yang kotor, tubuhnya juga sama kotornya dengan bajunya.


"Aku benci keadaan ini, aku benci hidup seperti ini!" Gadis itu berteriak sambil mengacak rambutnya. Kemudian ia duduk di pinggir jalan sambil menangis.


"Kenapa Kau masih memberikan aku kesempatan hidup kalau seperti ini?" Gadis itu berteriak frustrasi.


Gadis itu adalah Vanya Anindira. Ternyata saat terjatuh dari lantai dua di restoran laknat itu, dirinya jatuh menimpa sebuah mobil bak. Gadis itu pingsan dan sadar saat dirinya sudah berada di pinggir jalan dengan sweater hitamnya, sementara tas punggungnya sudah hilang.


"Aku benci kamu Ikram, Jafin. Aku bersumpah akan membalas semuanya!"


Siang sudah berganti malam, gadis itu terus berjalan mengikuti kakinya yang entah mengajaknya pergi ke mana. Gadis itu terus berjalan, walaupun banyak orang yang menutup hidungnya saat berpapasan dengan dirinya, tapi Vanya tak peduli. Saat ini, ia ingin pergi menjauh dari semuanya.


Pandangannya kosong, ia juga tak menghiraukan perutnya yang lapar, yang ia inginkan hanya pergi dari tempat itu. Entah kekuatan apa yang dimiliki gadis itu, sampai akhirnya ia tergeletak di pinggir jalan.

__ADS_1


Malam yang sudah larut, membuat gadis itu tak dilirik oleh siapapun, apalagi keadaannya uang berantakan, siapa yang akan memperhatikan.


Dengan penampilan yang bisa dibilang menjijikan, vanya aman dari orang-orang yang berniat jahat pada malam hari. Gadis itu, bukan tidur, tetapi tak sadarkan diri, karena selama seharian ia belum mengisi perutnya yang lapar.


Hingga pagi menyingsing, VAnya masih tergeletak di tempat yang sama, sampai seseorang membangunkannya.


"Bangun oi! Udah pagi juga." Terdengar samar suara seseorang membangunkannya dengan menendang kaki Vanya.


Gadis itu mulai terusik dan akhirnya berusaha membuka matanya yang sulit sekali terbuka, bukan mengantuk tetapi kepalanya terasa berat. Sampai sebuah tendangan kembali ia dapatkan, kini di bagian pahanya. "Ah," pekik Vanya dan berusaha untuk bangkit dari tidurnya.


"Sana mandi di toilet umum! Bau sekali tubuhmu," ucap pria yang hendak membuka warung tendanya itu.


Vanya masih berusaha untuk berdiri, tetapi kepalanya benar-benar terasa pusing, hingga ia kembali ambruk. Pria yang tadi membangunkan dirinya, bahkan sudah tak peduli dengan apa yang terjadi dengan gadis itu. Dengan sekuat tenaga, gadis itu pun akhirnya bangkit dan kembali berjalan menjauh dari trotoar.


Kemudian, gadis itu pergi ke toilet umum, untuk membersihkan dirinya dengan membayar uang lima ribu rupiah. Setelah mencuci sweaternya dengan sabun yang tersedia di toilet umum itu, ia memasukannya ke dalam plastik.


Gadis itu, menatap wajahnya di cermin, wajahnya yang putih berubah sedikit gelap, tidak ada make uap ataupun skincare, semuanya benar-benar alami. Tatapan ramah yang biasa gadis itu tampilkan , berubah menjadi tatapan dingin dengan penuh dendam.


"Aku tidak akan kembali sebelum membalas kalian semua," geramnya sambil mengepalkan tangannya dan tersenyum sinis.


"Jangan sebut aku Vanya kalau tidak bisa membalas kalian semua."


"Buruan woi! Udah kebelet ini!" Tiba-tiba suara teriakan dan gedoran di pintu membuat Vanya kembali sadar sedang berada di mana dirinya saat ini.

__ADS_1


Akhirnya, gadis itu pun keluar dengan menenteng sebuah keresek hitam di tangan kirinya. Wajahnya terlihat begitu dingin saat berpapasan dengan orang lain. Bahkan saat beberapa orang terdengar menggerutu pun, Vanya tak peduli. GAdis itu melangkah dengan mantap meninggalkan tempat itu.


Sisa uangnya yang tinggal tiga puluh ribu, ia gunakan untuk membeli makanan sepuluh ribu, dan sisanya ia simpan untuk keperluan lainnya.Gadis itu sudah bertekad akan meninggalkan kota metropolitan ini.


Vanya terus melangkah meninggalkan keramaian yang membuat dirinya menjadi muak. Kini dia tahu ternyata rasa empatinya selama ini, tak membuat dirinya diperhatikan oleh orang lain juga.


Gadis itu terus berjalan tanpa mempedulikan sekitarnya, ia hanya melangkah mengikuti kakinya. Bukan tidak ingin menggunakan angkutan umum, tetapi uangnya yang tinggal sedikit itu, harus ia simpan baik-baik.


Pagi telah berubah menjadi siang yang terik, Vanya masih berjalan, sampai akhirnya ia menemukan sebuah masjid. Gadis itu pun dengan langkah cepat masuk ke sana untuk beristirahat. Bersamaan dirinya masuk, adzan sudah berkumandang.


Vanya pun mengambil air wudhu dan akan melaksanakan salat dhuhur. Di masjid itu tersedia beberapa mukena, sehingga ia tak kesulitan untuk melaksanakan kewajibannya.


Tidak lama setelah melaksanakan salat, gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya. Vanya berjalan menyusuri trotoar, tidak ada seorang pun yang ia kenal, bahkan saat berharap bahwa orang tuanya akan mencarinya pun ternyata hanya menjadi sebuah kekecewaan.


Vanya kecewa dengan semuanya, kecewa pada mantan calon suaminya, kecewa pada papinya dan ia juga kecewa pada dirinya sendiri yang selalu hidup tanpa kesusahan. Hingga akhirnya, ia terpuruk di titik terendah. Terlantar, dijual orang dan menjadi pengemis. Semuanya Vanya alami selama ia terusir dari rumahnya.


Namun, karena itu semua, Vanya akhirnya bertekad untuk hidup sendiri tanpa bantuan siapa pun, termasuk papinya. Ia akan berjuang sendiri untuk kembali bangkit dan membalas semuanya.


"Semangat Vanya, kamu pasti bisa." Vanya menganggukkan kepalanya.


Hari semakin sore, Vanya kini akan memilih beristirahat di masjid, daripada di jalanan. Ia akan berusaha kuat untuk menjalani hidupnya.


"Semoga ada orang yang baik hati mengajakku bekerja jadi apapun yang penting halal." Doa Vanya sebelum gadis itu akhirnya memejamkan matanya di dalam masjid.

__ADS_1


__ADS_2