Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Tunangan atau Makan


__ADS_3

Vanya kini terbaring di rumah sakit. Gadis itu sedang beristirahat setelah mendapat pemeriksaan dari seorang dokter pagi ini. Ayudia menemaninya sambil sesekali membujuk putrinya untuk makan.


"Ayolah, Sayang makan dulu," ucap wanita paruh baya itu dengan lembut.


"Nanti aja. Mi. Vanya belum laper." Gadis itu kembali memejamkan matanya. Tubuhnya masih terlihat sangat lemah.


Aksi protesnya pada sang papi karena tidak percaya pada dirinya membuat Vanya mogok makan. Ia sibuk dengan hobinya dan tak memikirkan kesehatannya. Akhirnya gadis itu pun tumbang dan dilarikan ke rumah sakit.


Baru saja Vanya memejamkan netranya, tiba-tiba sebuah ketukan terdengar di pintu. Ayudia pun beranjak dari duduknya setelah menyimpan mangkuk bubur terlebih dahulu di nakas.


"Eh, Nak Ikram masuk!" Terdengar suara sang mami menyebut nama pria yang saat ini tak ingin Vanya temui.


Gadis itu makin merapatkan matanya sambil berbalik miring membelakangi pintu. Suara langkah mendekat membuat Vanya makin merapatkan matanya bahkan sepertinya gadis itu lupa kalau di satu tangannya terpasang selang infus.


Karena tangan yang dipasang jarum infus itu tertekan tubuhnya akhirnya selang infusnya berubah menjadi merah. "Akh," pekik Vanya saat tangannya terasa sakit.


"Sayang!" Wanita paruh baya itu memanggilnya dengan khawatir disusul oleh Ikram yang juga berjalan memutar untuk bisa melihat apa yang terjadi dengan calon tunangannya itu.


Vanya langsung bertatapan dengan irish mata warna hitam milik Ikram. Tatapan pria itu begitu teduh dan tersirat kekhawatiran di sana. Namun, pria itu langsung melihat ke arah tangan gadis itu. Dengan satu tarikan Ikram membenarkan tubuh Vanya agar kembali terlentang, lalu ia mengatasi masalahnya.


"Jangan banyak gerak dulu, Yuki. Nanti tangan kamu sakit lagi." Ikram berkata dengan lembut sambil mengusap pucuk kepala gadis itu yang malah memalingkan wajahnya.


Ikram tersenyum melihat tingkah gadis di hadapannya. Walaupun Vanya selalu memperlihatkan permusuhan, tetapi Ikram malah semakin gemas dibuatnya.


Pria itu kemudian duduk di kursi yang berada di samping ranjang, sementara sang mami membereskan buah-buahan dan beberapa makanan ringan yang dibawa pria tampan itu.


"Kamu belum makan?" tanya Ikram saat melihat mangkuk bubur yang masih utuh. Vanya tak menjawab pertanyaan pria di sampingnya, bahkan gadis itu tak melihat sedikit pun ke arah Ikram.


"Percuma dirawat di sini kalau kamu nggak makan, Yuki. Ayo makanlah sedikit biar aku suapin," ucap Ikram sambil membawa mangkuk bubur itu.


Vanya tak menanggapi gadis itu malah memejamkan matanya sambil memalingkan wajahnya dari Ikram.


"Tante, Vanya tetap mogok makan ya?"


"Iya, Tante sudah bujuk dari tadi, tapi tetep aja nggak mau."

__ADS_1


"Kalau gitu acara tunangannya biar dimajuin aja, mungkin Vanya ingin cepat ...."


"Jangan! Nggak ada acara tunangan-tunangan aku nggak mau!" pekik Vanya tiba-tiba yang membuat Ikram tersenyum miring.


"Kenapa, Sayang? Bukannya ini mau kamu?" goda Ikram yang membuat Vanya mendelik kesal.


"Pulang aja deh sana! Di sini juga bikin rusuh mulu," usir Vanya.


"Sayang, jangan gitu. Nak Ikram ke sini buat jenguk kamu, Nak." Ayudia menyela ucapan putrinya dengan lembut.


"Mami ... tapi ...." Vanya pun tak melanjutkan ucapannya gadis itu kini kembali memalingkan wajahnya.


"Kamu pilih makan atau tunangan?" Tiba-tiba Ikram kembali memberikan pilihan.


"Nggak!"


"Baiklah kalau nggak makan berarti tunangan, aku telepon Kakek dulu." Ikram mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


"Aarg! Ya udah aku makan!" Vanya pun kini mengatur posisinya agar lebih nyaman. Gadis itu pun kini mulai memakan buburnya dengan disuapi oleh Ikram. Suapan demi suapan susah payah gadis itu telan, tetapi akhirnya habis juga karena pilihan Ikram mau tak mau membuatnya makan.


Ayudia yang sedari tadi menerima panggilan telepon dari sang suami akhirnya kembali dan melihat putrinya berada pada posisi duduk di ranjangnya. Lalu wanita paruh baya itu melihat ke arah nakas, bibirnya tertarik ke atas wanita itu tersenyum senang saat melihat mangkuk buburnya sudah kosong.


"Akhirnya kamu makan, Sayang," ucap Ayudia sambil menghampiri putrinya.


"Besok Ikram ke sini lagi, Tante. Biar Vanya mau makan." Pria itu tiba-tiba beranjak dari duduknya.


"Nggak usah." Vanya menyela dengan cepat.


Namun, ucapan Vanya tak diindahkan oleh Ikram, pria itu kini pamit undur diri untuk kembali ke kantornya. "Cepet sembuh ya, Sayang." Kini Ikram berbalik ke arah Vanya sambil mengacak rambut gadis itu dengan gemas.


Ayudia terkekeh geli melihat tingkah putrinya yang terlihat sangat kesal dengan kelakuan Ikram. Wanita paruh baya itu dapat melihat sorot mata Ikram yang penuh cinta ke arah putrinya.


Kalau memang kalian berjodoh, bahagiakan putriku. Jangan pernah hancurkan lagi hidupnya.


"Ikram pamit ya, Tante," sapa pria jangkung itu sambil mencium punggung tangan Ayudia. Wanita paruh baya itu pun mengangguk lalu mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Setelah kepergian Ikram, kini Vanya memprotes sikap sang mami pada pria menyebalkan itu. "Mami, pokoknya Vanya nggak mau ketemu dia lagi. Vanya nggak suka, Mami ngerti nggak sih?" gerutu Vanya dengan wajah ditekuk.


"Mami akan tetap suruh Nak Ikram ke sini kalau kamu nggak mau makan terus, Sayang." Wanita itu menjawab dengan santai.


"Iya, nanti Vanya akan makan."


Bersamaan itu Ehsan datang, pria paruh baya itu membawa makanan kesukaan sang putri agar mau makan. "Sayang, papi bawa makanan kesukaan kamu, ayo kita makan, Nak!" Sang papi mengangkat satu tangannya yang membawa paper bag.


"Vanya udah makan, Pi."


"Lho, tadi di telepon kata Mami ...." Pria paruh baya itu kini berbalik ke arah sang istri.


"Tadi Nak Ikram ke sini dan berhasil membujuk Vanya untuk makan, Pi," jawab sang istri.


"Apa? Kenapa bisa?"


"Dia ngancam aku, Papi."


Ehsan mengerutkan keningnya lalu menghampiri sang putri. "Mengancam apa? Kenapa dibiarkan saja sih, Mi?" Pria itu kini duduk di tepi ranjang sang putri sambil melirik ke arah san istri juga putrinya bergantian.


"Nak Ikram cuma bilang kalau nggak mau makan pertunangan mereka akan dimajukan besok."


"Papi, Vanya nggak mau tunangan sama dia, Pi."


"Persiapannya sudah 80%, Sayang. Semuanya Pak Fathan yang urus." Ehsan mengusap pucuk kepala putrinya.


"Tapi, Pi ...."


"Hanya tunangan saja bukan menikah, papi juga akan mengetes dulu si Ikan Piranha itu seserius apa dia sama putri kesayangan papi."


"Papi."


"Papi nggak mau Vanya tersiksa setelah menikah dengan pria yang ternyata salah, Mi."


Ayudia pun setuju, tetapi di dalam hatinya ia yakin kalau Ikram benar-benar tulus mencintai putrinya.

__ADS_1


"Semoga tidak ada acara kabur-kabur lagi."


__ADS_2