Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Balasan Ikram


__ADS_3

Ikram berada dalam angkutan umum, pria itu tetap menjadi pusat perhatian walaupun sudah menampilkan wajah datarnya. Justru wajah itu malah membuatnya terlihat lebih tampan bagi sekitarnya.


"Akang, orang kota ya?" celetuk wanita dengan rambut sebahu, terlihat sekitar usia kepala tiga, apalagi ia juga memangku sorang batita.


Ikram hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya. Baru kali ini pria itu menggunakan angkutan umum, apalagi ia juga lupa tak menggunakan masker. Pokoknya kamu harus membayar semuanya, Yuki.


Tak berselang lama, di depan sudah terlihat Warung Nasi Kadeudeuh, Ikram pun mengetuk atap mobil dan berkata, "Berhenti."


Setelah membayar ongkosnya yang ternyata sangat murah sekali, Ikram pun langsung pergi ke warung nasi, ia bahkan tak menghiraukan saat sang sopir memanggilnya untuk memberikan uang kembalian. Ikram langsung berlalu begitu saja, kemudian setengah berlari akhirnya Ikram pun langsung masuk dan mencari Yuki.


"Yuki di mana kamu?" ucapnya setengah berteriak.


Saat itu gadis yang ia cari sedang memberikan surat cinta pada pelanggan. Yuki pun menoleh sejenak, lalu kembali memberikan surat cintanya.


"Neng Yuki itu pacarnya ya?" tanya seorang ibu yang biasa makan setiap ia pulang kerja.


"Bukan, Bu. Fans aku kayanya sih," jawab Yuki sambil tertawa renyah.


Sementara itu, Nisa yang berada bersama Mak Aminah langsung menghampiri Ikram. "Teh Yuki-nya lagi ngasih surat cinta dulu, Kang."


Ikram menoleh pada gadis di sampingnya, kemudian kembali menatap ke arah Yuki yang juga tak menghiraukannya.


"Udah sini duduk sama Emak." Wanita paruh baya itu menarik satu kursi kosong di sampingnya agar Ikram duduk. "Kalau marah jangan di depan orang lain, malu."


Ikram pun menghela nafasnya, lalu pria itu oun mengikuti saran Mak Aminah duduk di kursi.


"Mau makan dulu nggak?" tanya Mak Aminah setelah Ikram duduk di sampingnya. Pria itu hanya mengangguk tanpa berucap sepatah kata pun. Tak berselang lama Yuki pun datang dengan menampilkan senyumannya yang siyalnya malah terlihat tambah cantik di mata Ikram.


"Temenin aku makan," ucapnya sambil menarik tangan Yuki lalu pria itu pun beranjak untuk mengajak Yuki ke meja kosong.


"Eh, bentar dulu!" Yuki menepis tangan Ikram agar melepaskannya, tetapi pegangannya begitu erat. "Aku udah makan, aku nggak mau."


"Siapa yang nyuruh kamu makan, aku cuma minta kamu temenin aku." Ikram kembali menarik tangan gadis itu, bahkan beberapa pelanggan begitu gencar menggoda mereka berdua.


"Duh, Neng Yuki pacarnya lagi ngambek ya?" celetuk salah seorang pelanggan yang datang bersama keluarganya.

__ADS_1


"Eh, bukan pacar aku ini. Nggak tahu nih ngebet banget kayanya gangguin aku." Yuki menjawab dengan mengibaskan satu tangannya. Bersamaan itu, Ikram menarik tubuh Yuki agar duduk di sampingnya. Setelah itu, pria berkaus putih itu memanggil Nisa.


Genggaman tangannya pada Yuki tak pria itu lepaskan sama sekali. Setelah meminta Nisa untuk mengambilkan nasi dan sop iga kesukaannya, Ikram kini berbalik ke arah Yuki. Pria itu menatapnya dengan intens.


Cantik, polos dan juga menggemaskan.


"Hei! Ngapain liatin aku kaya gitu?" omel Yuki.


"Aku keliling pasar cari kamu, eh kamu malah enak-enakan udah di sini dengan senyum bahagia kaya gitu." Ikram mulai bercerita.


"Dih, siapa suruh ngikut ke pasar? Nyasar nggak?" Tiba-tiba Yuki teringat akan doanya saat tadi bertemu dengan Ikram.


Ikram cemberut kemudian pria itu mengangguk. "Iya, aku nyasar gara-gara kamu, Yuki." Pria itu tiba-tiba mencubit hidung mancung Yuki, hingga gadis itu mengaduh dan menepisnya. "Sakit tahu. Ini lepasin ngapa sih!" Gadis itu berusaha melepaskan genggaman tangan pria itu.


Bersamaan itu Nisa datang dengan membawa nampan di tangannya. "Aduh Teh Yuki so sweet banget."


"Diem!" ucap Yuki dan Ikram berbarengan dan sukses membuat Nisa terperanjat untung saja nampannya sudah ia simpan di meja. "Ya udah, selamat menikmati, Kang." Gadis itu pun langsung berbalik meninggalkan mereka berdua.


"Ini sakit!" Yuki berusaha melepaskan tangannya yang Ikram pegang dengan erat.


"Ribet banget sih idup lo, apa-apa harus pakai syarat." Yuki menggerutu.


"Mau nggak?"


Yuki tak menjawab tetapi saat Ikram akan berbalik, akhirnya gadis itu pun berkata, "Ya udah apa?"


Ikram pun tersenyum lalu pria itu mengambil sendok dan memberikannya pada Yuki. "Suapin aku."


"Apa? Gila lo, banyak orang gini. Nggak-nggak!"


"Ya udah kalau nggak ada orang mau, kan?" jawab Ikram penuh kemenangan.


"Eh, nggak gitu konsepnya ya, Bambang." Yuki makin kesal dengan tingkah pria di sampingnya. Namun, Ikram tak menghiraukan gerutuan Yuki. Pria itu kini beranjak dari duduknya tentu saja Yuki juga mengikutinya.


Pria itu berjalan ke arah kasir, lalu memanggil Nisa kembali. "Nisa ya nama kamu?" Anggukkan dari gadis itu membuat Ikram ikut mengangguk. "Tolong antarkan makan malam saya ke resto depan ya! Tenang saja akan ada tips buat kamu," ucap Ikram.

__ADS_1


"Eh, kenapa jadi gini sih?"


"Mak, saya pinjam Yukinya sebentar ya, aman kok." Pria itu meminta izin pada Mak Aminah.


Wanita paruh baya itu mengangguk lalu berpesan agar mereka tak saling menyakiti. "Tong berantem wae atuh, ke bogoh gera."


"Mak, ih ini aku mau dicu*lik malah diizinin." Yuki menggerutu kesal.


"Udah Neng, daripada di sini jadi pusat perhatian orang." Mak Aminah menjawab dengan santai.


"Mak, ih!"


Ikram pun tertawa saat melihat tingkah Yuki yang entah mengapa begitu menggemaskan hari ini. Awal pertemuan kembali yang mengesankan bagi Ikram, walaupun tadi siang sudah dibikin pusing oleh gadis itu. Kini pria itu pun dengan leluasa mengajak Yuki ke restonya.


"Puas lo!"


"Kenapa sekarang manggilnya jadi lo, sih? Biasanya juga Masnya." Ikram pura-pura merajuk


"Bodo amat, suka-suka gue."


Saat mereka sampai di ruangan Ikram. Yuki duduk di sofa dan kini Ikram sudah melepaskan genggaman tangannya. Benar saja pergelangan tangan Yuki terlihat memerah. Apa iya aku menggenggamnya sangat erat?


Tak berselang lama, Nisa pun datang dengan membawa pesanan Ikram. Gadis itu juga membawa buah apel kesukaan Yuki. "Ini kata Mak buat Teh Yuki."


"Nis, kamu di sini aja deh gantiin aku ya, apelnya buat kamu deh." Yuki beranjak dari duduknya. Namun, ditolak mentah-mentah oleh Ikram.


"Eh, mana bisa diganti-ganti gitu, kamu pikir aku cowok apaan?"


Yuki tak menghiraukan tolakan dari Ikram, gadis itu malah menarik Nisa untuk duduk di sofa. "Kamu tinggal suapin bayi besar ini kok, Nis. Gampang, kan?"


"Yuki!" Ikram memekik lalu beranjak untuk mencegah Yuki yang akan pergi. Namun, alih-alih mencegah, Ikram malah mendorong tubuh Yuki hingga gadis itu terjatuh, begitu juga dengan Ikram. Pria itu ternyata tersandung kaki meja.


"Astagfirullah, Nisa masih baru 17 tahun belum ke atasnya." Gadis itu menutup wajahnya saat melihat tubuh Ikram menimpa tubuh Yuki.


"Nisa!"

__ADS_1


__ADS_2