Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Iblis Berkedok Malaikat


__ADS_3

Sebelumnya Jafin sudah membuat perjanjian dengan seseorang. Pria itu akan mendapatkan sejumlah uang, jika berhasil membawa seorang perawan.


Jafin ternyata akan menjual Vanya pada sebuah rumah bordil. Pria itu memang seorang mucikari. Ia selalu mencari mangsa di jalanan. Jika ada seorang gadis yang cukup menarik, Jafin akan mengurusnya dengan baik dan setelah mereka percaya pria itu akan menjualnya dan tentu saja menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk dirinya.


Saat Jafin berhasil membawa Vanya masuk ke dalam mobilnya, seseorang menghubunginya. Suara wanita terdengar samar dari balik telepon Jafin. Ia menanyakan mengenai barang yang ia pesan untuk rumah bordilnya. Tentu saja Jafin pun bertanya mengenai kesiapan mereka membayar uangnya sesuai perjanjian, dan hal itu didengar langsung oleh Vanya.


"Perjanjian apa, Bang?" tanya Vanya sambil berbalik ke arah Jafin yang masih fokus menyetir.


Jafin tersenyum seperti biasa. "Perjanjian tentang kerjaan kamu, Abang nggak mau mereka mengingkari kesepakatan, kalau kamu udah jadi karyawan di sana."


Vanya kembali terharu dengan apa yang diucapkan pria di sampingnya. Gadis itu merasa beruntung telah bertemu dengan Jafin. "Aku janji akan bekerja dengan baik, Bang. Makasih sekali lagi ya."


Jafin pun mengangguk, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu fokus menyetir. " Maaf Vanya aku ingin semua wanita sepertimu mengalami nasib yang sama seperti Rena. Dia cantik dan polos, tapi ...."


" Bang lampu merah." Tiba-tiba Vanya membuyarkan lamunannya.


"Astaga, untung saja." Pria itu langsung mengerem mobilnya.


Selama mobil berhenti, antara Vanya dan Jafin tidak ada percakapan penting, selain pertanyaan Vanya mengenai tempat kerjanya yang masih jauh atau tidak.


Namun, tak berselang lama, Jafin memarkirkan mobilnya di sebuah resto yang ada di pinggir jalan. "Ayo, kita udah sampai!" Jafin membuka sabuk pengamannya.


Vanya pun melakukan hal yang sama, dan dia menduga bahwa dirinya akan bekerja di sebuah restoran. Jafin membukakan pintu mobil untuk Vanya, lalu menggandeng tangan wanita itu agar mengikutinya.


Saat masuk, suasana resto di sana sama seperti restoran pada umumnya, tetapi Jafin langsung membawanya ke lantai atas. Di sana banyak sekali ruangan-ruangan tertutup, mungkin bisa disebut sebagai ruang vip, untuk tamu yang ingin makan tanpa diganggu oleh pengunjung lain.


Tak berselang lama, seorang pria bertubuh tinggi besar, menghampiri mereka dan membisikkan sesuatu pada Jafin. Pria itu pun mengangguk dan kembali mengajak Vanya ke sebuah ruangan yang berada di ujung.


"Ah, akhirnya kau datang, Jafin." Wanita paruh baya dengan syal bulu itu menyambut Jafin dengan gaya manja.


"Kenalin ini, Vanya." Jafin menunjuk gadis di sampingnya.

__ADS_1


"Cantiknya, sini duduk sama Mami." Wanita itu mengajak Vanya untuk duduk di sampingnya.


Vanya hanya menuruti perintah wanita itu. "Jadi bagaimana sudah cocok, kan?" Jafin memulai percakapannya saat mereka duduk berhadapan.


"Deal." Wanita yang menyebut dirinya Mami itu, menjulurkan tangannya.


"Anton, tolong ambil koper yang ada di atas meja tadi!" panggil Mami pada pria berambut gondrong di belakangnya.


Vanya belum mengerti dengan situasi yang terjadi, sampai saat koper hitam itu sampai dan diletakkan di atas meja mereka. Vanya terkejut, saat Jafin membuka koper itu ternyata berisi uang.


"Oke, ambil barangnya dan senang bekerja sama dengan Anda, Mami." Jafin tersenyum lebar sambil menjabat tangan Mami.


"Aku pulang." Jafin pun beranjak dari duduknya.


"Bang, Vanya?" Gadis itu kini mulai merasa takut saat firasatnya menunjukkan hal tak baik.


Pria yang selalu bersikap manis itu, kini berubah menjadi sinis. "Bekerjalah yang baik sesuai janjimu, Vanya. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Terima kasih sudah membayar aku dengan jumlah yang banyak."


"Bang?" Vanya tak habis pikir, orang yang menolongnya ternyata iblis berkedok malaikat.


"Jangan! Lepasin aku!" teriak Vanya saat tubuhnya diseret paksa menuju kamar lain.


"Ayo, cepat sebelum tamu lain melihatnya!" bentak Mami.


Vanya kemudian dimasukkan ke sebuah kamar, lalu dikunci dari luar. Sweaternya sudah dibuka paksa oleh wanita paruh baya tadi. Sementara tasnya ikut dimasukkan ke dalam kamar itu. Mami berpikir mungkin di tas itu ada alat make up dan kebutuhan perempuan lainnya.


"Tunggu di sini dan jangan coba-coba untuk kabur!" bentak wanita itu dari luar.


Vanya berada dalam kamar itu sendirian. Suasananya sedikit remang, sehingga membuat wanita itu sedikit bergidik ngeri. Teriakan dan gedoran yang gadis itu lakukan tak meluluhkan hati mereka.


Vanya pun akhirnya berpikir keras bagaimana ia bisa kabur dari tempat siyalan ini. Saat ia mengelilingi kamar yang cukup luas itu, ia tak menemukan apa pun untuk bisa membuatnya keluar dari sana. Hanya satu jalan yang harus ia lakukan, yaitu melompat dari jendela kamar itu.

__ADS_1


"Ah, tidak-tidak lo masih muda Vanya, jangan mati dulu," gumam gadis itu saat melihat ke luar jendela yang benar-benar tinggi.


Saat dirinya sedang sibuk mencari jalan, tiba-tiba sebuah pintu terdengar dibuka. Terlihat seorang pria dengan perut buncit datang ke kamar itu.


"Ah, kau benar-benar tidak pernah mengecewakanku, Mami. Tak sia-sia aku mengeluarkan banyak uang." Pria botak itu berkata pada Mami sambil menjawil dagu wanita paruh baya itu.


"Nikmatilah malam kalian, aku tidak akan mengganggu," pungkas Mami, kemudian menutup kembali pintunya.


"Mami, tunggu!" Vanya berteriak saat pintu itu belum benar-benar tertutup.


"Sudahlah, Sayang. Layani saja tamumu dengan baik, uangnya sudah aman di sini, oke!" Wanita itu mengedipkan satu matanya lalu menutup pintunya dan menguncinya dari luar.


"Jangan mendekat!" Vanya mundur saat pria itu mulai mendekatinya.


"Sudahlah jangan malu-malu, aku sudah membayar banyak untuk semua ini."


Vanya mencoba bernegosiasi dengan pria botak itu. "Jangan mendekat aku mohon!" Namun, pria itu tak menghiraukan ucapan gadis di depannya.


"Kau sudah tua, tidakkah kau ingat pada anak dan istrimu, Tuan!" Vanya berteriak.


"Alah anak dan istriku hanya bisa menghamburkan uangku saja. Sudahlah jangan mendebatku."


"Aku bahkan seumuran dengan putrimu, bagaimana jika putrimu yang mengalami hal ini."


Pria botak itu berhenti sejenak, lalu akan kembali melancarkan aksinya. Vanya makin tersudut, ia sudah berada dekat dengan jendela yang terbuka.


"Aku tak peduli, sekarang layani aku!"


"Jika mendekat selangkah lagi, aku akan lompat dari sini!" ancam Vanya yang sudah sangat ketakutan.


Pria itu tertawa dengan keras dan kembali melangkahkan kakinya. "Kau berani melompat dari ketinggian seperti ini?" Pria itu kembali tertawa.

__ADS_1


Namun, saat ia kembali melangkah tiba-tiba Vanya naik ke atas jendela itu, tetapi satu kakinya malah terpeleset dan ....


"Tidak!"


__ADS_2