
Pagi ini Mak Aminah sudah bersiap untuk belanja bahan-bahan makanan. Wanita itu sedang menunggu anak gadisnya yang masih di kamar.
"Neng Yuki, udah siap belum?" teriak Mak Aminah sambil memeriksa tas dan dompetnya.
"Iya, Mak. Ayo!" Yuki berlari ke arah Mak Aminah sambil menggunakan kacamata. Penampilan gadis itu sangat berbeda, wajahnya terlihat bukan Vanya.
Yuki dan Mak Aminah pun berjalan berdua, mereka menunggu angkutan umum yang menuju ke pasar tradisional. Yuki menggandeng tangan wanita paruh baya itu.
Tak berselang lama angkutan umum yang mereka tunggu pun tiba. Yuki dan Mak Amnah duduk di belakang berdampingan dengan penumpang lainnya. Ini kali pertama Yuki ikut ke pasar tradisional bersma Mak Aminah. Selama perjalanan tidak ada percakapan ang berarti antara kedua wanita bda usia itu.
Sekitar lima belas menit perjalanan akhrnya mereka samapai di tujuan, Yuki turun lebih dulu diikuti oleh Mak Amnah, setelah membayar ongkosnya, wanita paruh baya itu menarik tangan anak gadisnya untuk asuk ke pasar.
Gadis itu kira pasar tradisisonal itu beck dan kotor, tetapi saat melihat secara langsung ternyata pasar ini sanagt bersih, bahkan lantainya sudah menggunakan kramik.
Yuki pun dengan senang mengikuti sang emak dari belakang, ia hanya mmbantu membawa barnag belanjaan saja tanpa ikut tawar-menawar seperti yang dilakukan sang emak. Apaplagi Yuki memang belum tahu dan terbiasa dengan cara seperti itu.
Dari itu, Yuki kembali belajar bahwa jadi orang biasa juga ternyata menyenangkan, bertemu banyak orang dan saling sapa tanpa melihat kasta mereka.
Sekitar satu jam mereka mengelilingi pasar, belanjaan juga sudah banyak. Bahan-bahan yang dibutuhkan sudah lengkap semua.
"Udah beres, Mak?" tanya uki saat wanita paruh baya itu memanggil ojek untuk mengantarkan semua barangnya.
"Udah, Neng, biarin bang Agam aja yang nganterinn barang-barang ke rumah kayak biasa," ucap wanita paruh baya itu sabil memasukan kembali dompetnya ke dalam tas.
__ADS_1
"Emang nggak apa-apa itu barangnya danterin duluan, kita masih di sini?" Yuki tak habis pikir kok bisa mempercayakan barang belanjaan segitu banyak pada orang lain begitu saja. Bukannya menjawab Mak Aminah malah tertawa. "Nggak apa-apa udah biasa itu langganan Mak. Udah ayo ah kita harus beli sesuatu." Wanita yang menggunakan baju warna sma dengan uki itu menarik tangan anak gadisnya.
Yuki pun mengangguk dan pasrah saat dirinya ditarik untuk mengikuti wanita itu. Mereka berjalan keluar dari pasar lalu menyeberang jalan. Gadis itu pikir, mereka akan kembali menunggu angkutan umum, tetapi ternyata tidak. Mak Aminah mengajak Yuki ke sebuah counter handphone. Yuki pikir mungkin Mak Amnah akan membeli pulsa.
Namun, tiba-tiba wanita paruh baya itu menyuruh Yuki untuk memeilih ponsel yang ia mau. "Ayo pilih Neng mau hp yang kayak gimana?" ucapnya sambil melihat jajaran ponsel android yang berjajar di etalase.
"Yuki nggak butuh itu, Mak. Udah Emak ke sini mau beli apa?" bsik gadis itu karena tak mau didengar oleh pelayan counter yang mperhatikan mereka.
"Udah kita beli satu-satu, ajarin Mak juga ya," bisik wanita paruh baya itu.
Yuki terkekeh dan akhirnya memilih ponsel android yang mereka suka. Yuki memilih warna putih sedangkan Mak Aminah warna merah, type dan merek ponselnya juga sama.
Keesokan harinya, 'Warung Nasi Kadeudeuh' pun dibuka di pagi hari. Yuki sudah mempersiapkan semuanya dengan apik. Bahkan gadis itu sudah menuliskan menu yang ada di banner warna hitam yang bisa dihapus dan ditulis ulang. Tentu saja gadis itu yang menuliskan semuanya dengan sangat cantik dan unik agar menarik perhatian orang.
Yuki sedikit grogi sebenarnya, karena ini kali pertama ia bekerja seperti ini. Namun, karena Mak Aminah selalu mendampinginya, akhirnya gadis itu pun mulai terbiasa.
Seorang pria diantara lima orang tadi, terlihat fokus pada ponselnya, bahkan saat yang lainnya mulai mengambil makanan, dia masih sibuk dengan ponselnya.
"Udah antepin aja dia mah, pusing gua laitin dia kalau udah main hp," ucap pria berbaju kuning itu pada temannya yang berbaju merah.
"Lagian, heran gua so sibuk banget dah, pejabat juga bukan," tukas pria berbaju hitam sambil mengambil nasi dan dimasukan ke dalam piringnya.
"Bininya aja sering cerita, kalau sekarang nama bininya bukan Eva lagi, tapi Viovo V55," timpal yang lainnya. Hal itu sukses membuat Yuki menutup mulutnya karena menahan tawanya.
__ADS_1
Pria itu melihat ke arah Yuki kemudian berucap, "Neng ketawa aja jangan ditahan, temen saya emang gitu, dia nikahnya ama hape, makanya cari laki kaya saya aja."
"Halah, mulai!" omel pria yang lainnya lalu mereka kembali berjalan memilih menu makanan yang tersedia.
Setelah mereka mendapatkan makanan yang diinginkan, keempat pria itu kembali ke mejanya dan terlihat pria yang bermain ponsel itu, beranjak dan seperti menggerutu.
Kemudian pria itu pun mulai memilih makanan yang disukainya, dan setelah itu kembali ke teman-temannya, tetapi saat makan pun ternyata ponselnya tetap ia gunakan
Yuki menggelengkan kepalanya. "Gila, main hape sampai kaya gitu." Gadis itu bergumam kecil, hampir saja ia lupa menuliskan makanan apa saja yang dimakan oleh mereka. Akhirnya, Yuki pun beranjak dan menuju meja tadi untuk menuliskan pesanan mereka.
"Ditunggu surat cintanya ya, Mas," ucap Yuki ramah.
"Nggak usah pakai surat cinta juga, Akang udah cinta duluan, Neng," teriak pria berbaju kuning sambil mengusap rambutnya. Yuki hanya tertawa mendengar ucapan itu. Gadis itu saat menjadi Vanya sudah sering mendapat gombalan receh macam itu.
Tak berselang lama, saat kelima pria itu baru menghabiskan setengah makanannya, Yuki kembali dengan membawa kertas memo. "Ini surat cintanya, Mas." Yuki menyodorkan bon makanan pada mereka.
"Etdah Neng, surat cinta dari mana ini mah surat tagihan," kilah pria berbaju hitam.
Yuki kembali tertawa. "Biar lebih semangat bayarnya, Mas."
"Nggak apa-apa dah gua mah dikasih surat cinta tiap hari juga, makanannya juara gini." Pria yang selalu memainkan ponselnya itu ikut menimpali.
Hari pertama pembukaan warung ternyata banyak sekali orang berdatangan. Apalagi mereka sangat senang dengan rasa makanan yang disajikan sangat enak dan lezat
__ADS_1
Mak Aminah dan Yuki menutup warungnya tepat pukul delapan malam, tetapi jika pas Maghrib sudah habis mereka juga akan menutup warungnya.