Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Pulang


__ADS_3

Ikram mendapat kabar bahwa sang kakek telah pulang dari rumah sakit. Pria itu saat ini masih berada di kota Bandung, karena resto yang ia bangun masih belum rampung. Ia juga sebenarnya sudah tahu mengenai pemindahan sang papi beberapa waktu lalu ke rumah sakit yang sama dengan sang kakek. Namun, ia tak bisa mengikuti sang kakek karena bisnis yang sedang ia bangun.


"Sayang, aku izin mau ketemu papi boleh?" Olive yang saat ini sedang berdandan di hadapan cermin yang ada di kamar hotel itu.


"Boleh, tapi aku nggak ikut ya, ada urusan mendadak soalnya." Ikram mengusap kepala gadisnya. Pria itu memang tidak sekamar dengan Olive, tetapi pagi-pagi pasti sudah berada di kamar wanita itu untuk mengajaknya sarapan.


"Nggak apa-apa, Sayang. Kamu kerja aja, aku kangen sama papi juga, mungkin bakal pulang malam," balas Olive yang sudah selesai dengan riasannya.


Ikram hanya mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari benda pipih di tangannya. Ikram kemudian mengajak snag kekasih untuk sarapan. Setelah itu keduanya berpisah. Olive akan bertemu dengan papinya sementara Ikram akan ke lokasi pembangunan restonya. Jafin sudah menunggunya di sana.


Ikram menggunakan mobilnnya untuk sampai ke tujuan. Baru saja ia smapai di lokasi, ponselnya kembali berdering, ini dari orang kepercayaannya yang memantau keadaan keluarganya.


"Bos, papi Anda sudah sadar dan saat ini beliau sednag mengamuk karena ingin bertemu dengan Anda." Suara pria itu terdengar jelas karena Ikram sengaja mengaktifkan loud speakernya.


"Syukurlah kalau ternyata semuanya sudah kembali normal," jawab Ikram santai.


"Normal bagaimana,Bos?"


Ikram memutar bola matanya malas walaupun tak dapat dilihat oleh lawan biaranaya saat ini.


"Kakek sudah pulang, berarti belau udah sehat, papi udah sadar berarti sebentar lagi juga dia akan sehat dan kemba pulang."


Setelah itu, Ikram pun memutuskan sambungan teleponnya tanpa mendengar ucapan berikutnya dari orang kepercayaannya itu.


Pria dengan pakaian santai itu pun keluar dari mobilnya dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Kemudian pergi ke arah resto yang sudah hampir selesai ternyata hanya tinggal finishingnya saja. Ikram disambut oleh Jafin, kemudian kedua pria itu membiarakan sesuatu.


Saat Ikram dan Jafin serius membahas sesuatu, di seberang mereka seorang gadis sdang sibuk mengecat warung nasi dengan warna yang cerah. Seorang wanita paruh baya sesekali mengusap keringat di wajah gadis itu.

__ADS_1


Mereka adalah Yuki dan Mak Aminah. Keduanya terlihat begitu akrab, bahkan sesekali terdengar suara tawa keduanya yang membuat Ikram menoleh ke arah mereka sekilas.


Setelah pembicaraan antara Jafin dan Ikram selesai, kini pria jangkung itu beralih menatap ke arah sebrang yang menarik perhatiannya sejak tadi.


"Jafin, sejak kapan ada warung nasi di sana?" tanya Ikram sambil menunjuk ke arah warung nasi Mak Aminah.


"Sebenarnya lebih dulu warung nasi itu, tetapi dia hanya buka saat malam hari saja." Jafin menatap ke arah yang ditunjuk oleh Ikram. "Tenang saja dia tidak akan berani bersaing dengan kita, Bos," imbuh Jafin yang kini memanggil Ikram dengan sebutan bos.


Namun, tidak dengan pemikiran Ikram, pria tu merasa kalau dsain warung nasi iitu sungguh unik dan bisa menjadi daya tarik bagi pengunjung. 


Ikram juga memperhatikan gerak-gerik wanita yangbdengan lincah memainkan kuasnya di tembok. "Kok ada cewek mau kotor-kotoran kaya gitu, tapi kalau memang dia yang mendesain semuanya aku harus menunjuknya untuk mau mendesain restoku juga," gumam Ikram sambil berjalan menuju mobilnya.


Pria itu kemudian pergi meninggalkan tempat itu, sambil kembali melirik wanita dengan syal menutupi kepalanya. "Besok saja aku ke sini lagi, aku harus pergi menemui kakek dulu, sebelum pria tua itu benar-benar murka." Ikram pun melajukan mobilnya menuju ibu kota,ia akan menemui sang kakek yang sudah berada di rumahnya sejak kemarin.


##


Ehan dan Ayudia kembali akan menari putri kesayangannya. Namun, baru saja pria itu membuka pintu, ponselnya berdering. Terlihat nama Hanan di layarnya. 


"Iya, Mbak Manda?" Ehsan langsung memanggil nama istri dari Hanan, karena selama ini nomor itu dipakai oleh istrinya untuk menghubungi Ehsan.


"Mas Ehsan, Anda diundang Ayah untk makan siang bersama di kediaman kami," ucap Manda ragu.


"Pak fathan sudah pulang?" Jawaban iya, ehsan dapatkan dari Manda. Pria itu hanya mengangguk, dan akan mengusahakan untuk datang. Namun, saat Ehsan bertanya mengenai suaminya, Manda terdengar terisak.


"Yang sabar ya, Mbak, nanti juga Hanan akan kembali sadar," ucap Ehsan, sementara Ayudia hanya mendengarkan percakapan suaminya di samping pria itu.


"Suami saya ... dia ... dia sudah sadar, Mas, tapi ...."

__ADS_1


"Apa? kami akan segera ke sana." Ehsan lalu memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.


"Ada apa, Mas?" tanya Ayudia yang terkejut dengan reaksi suaminya.


"Hanan sudah sadar, Sayang. Kita harus ke rumah sakit sekarang." Pria itu menark tangan istrinya menuju mobilnya, dan menyuruh supir mereka untk membawnya ke ruah sakit, di mana Hanan dirawat.


Selama perjalanan Ehsan berharap agar Hanan benar-benar sadar dan bisa diajak bicara. Ia ingin memastikan keadaan pria itu.  


Sementara itu Ikram sudah masuk ke ibu kota, pria itu akan menuju kediaman Pradana. Ikram lebih takut sang kakek kembal sakit daripada sang papi, karena jika kakeknya yang sakit, pria tua itu akan meminta hal yang aneh-aneh, seperti pernikahannya kemarin.


Selama perjalanan Ikram juga menghubungi sang kekasih, Olive. Namun, gadis itu tak bisa dihubungi karena ponselnya mati. "Ah, sudahlah mungkin Olive sedang melepas rindu dengan papinya."


Perjalanan menuju kediaman Pradana dirasa lancar oleh Ikram, bahkan jalanan juga tak begitu macet hari ini. Saat dirinya akhirnya sampai di kediaman Pradana, Ikram disambut bahagia oleh satpam penjaga rumah itu, dan pria berseragam hitam-hitam itu pun langsung memberitahu orang rumah mengenai kedatangan putra Pradana tersebut.


Ikram memasuki rumah itu yang sedang sibuk menyiapkan makanan, sepertinya akan ada acara makan-makan siang ini. Namun, baru saja ia melangkah, suara khas seseorang menyapanya, "Dari mana saja, Anak Nakal? Ah, Kakek sangat merindukanmu." Pria beruban itu merentangkan kedua tangannya.


Ikram pun menyambut pelukan sang kakek, pria tampan itu mendekap tubuh sang kakek. Mereka berpelukan. Saat pria bertubuh kurus itu memeluk cucunya, ia mencari seseorang yang mungkin ada di belakang Ikram, tetapi tak kunjung datang.


"Mana istrimu, Ikram? Kakek ingin bertemu dengannya." Pria itu pun melerai pelukannya dan memegang bahu cucunya. Namun, Ikram seperti menghindari tatapan sang kakek.


"Mana istrimu, Ikram?" ulang Kakek.


Ikram belum menjawab pertanyaan sang kakek, padahal sebelumnya ia sudah menyiapkan semua jawaban jika pria tua di depannya bertanya tentang Vanya, tetapi saat berhadapan langsung nyalinya kembali menciut.


"Ikram?"


"Iya, Kek. Dia ...."

__ADS_1


__ADS_2