Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Malam Pertama


__ADS_3

Ikram baru saja kembali duduk setelah menyalami beberapa tamu yang datang. Tiba-tiba Thea kembali memberi kabar kalau Vanya akan beristirahat sebentar. Namun, saat gadis itu belum menyelesaikan ucapannya, Ikram langsung beranjak dan meminta izin pada orang tua dan mertuanya untuk melihat keadaan istrinya.


"Lah, dia mau ganti baju, Mas." Thea mengejar Ikram yang berjalan cepat dengan langkah yang lebar, tentu saja Thea mengejarnya setengah berlari.


Ikram sudah sampai di kamar Vanya dan melihat istrinya sedang berbaring di ranjang.


"Vanya, kamu nggak apa-apa, kan?" Pria itu langsung menghampiri istrinya.


"Mas Ikram, kamu ...." Vanya kembali terduduk.


"Kamu kenapa?Kamu sakit?" Ikram menatap istrinya dengan khawatir.


"Nggak apa-apa, Mas. Aku cuma ... mau gati baju aja. Kamu keluar dulu gih gantian," ucap Vanya.


Ikram menghela nafasnya. "Kita sudah sah menjadi suami istri kenapa aku harus keluar," ucap Ikram tak tahu malu.


"Ya udah kamu aja dulu yang gati bajunya, aku mau istirahat sebentar aja."


Ikram mengangguk lalu mengusap pipi istrinya sebentar. Setelah itu, ia pun menghampiri MUA istrinya untuk mengambil baju yang harus ia gunakan. Dengan cepat Ikram mengganti bajunya, lalu sedikit dirapikan oleh Amita walaupun pria itu menolaknya, tetapi akhirnya pasrah karena mau tidak mau Ikram juga harus dibubuhi make up sedikit.


Setelah selesai, kali ini giliran Vanya yang menggunakan gaunnya. Wanita itu sudah terlihat lebih baik dibandingkan tadi. Wanita itu terlihat cantik dengan balutan gaun warna biru langit yang senada dengan yang dikenakan oleh suaminya.


Ikram masih menunggu istrinya dengan duduk di sofa yang tersedia di sana. Pria itu terus menatap sang istri dari arah belakang. Sebuah senyuman terbit di bibirnya saat Vanya telah selesai dirias.


"Ayo kita ke bawah lagi, semua orang sush menunggu kita, Sayang," ajak Ikram.


Vanya hanya mengangguk lalu mengikuti Ikram dari belakang. Namun, pria itu menariknya agar sang istri berjalan di sampingnya.


Saat mereka menuruni tangga, Vanya begitu kesulitan hingga membuat gadis itu limbung dan hampir saja terjatuh kalau tidak ditahan oleh Ikram. Dengan cekatan Ikram menggendong tubuh istrinya menuruni tangga.


"Mas Ikram!" pekik Vanya saat tubuhnya melayang ke atas dan digendong oleh suaminya.


"Aku nggak mau kamu sampai terjatuh lagi, Sayang."


"Ish, malu lah, masa digendong gini. Turunin aku, Mas!" ucap Vanya walaupun ia melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya.

__ADS_1


Benar saja saat mereka sampai di pelaminan semua orang menjadi riuh melihat kemesraan yang dilakukan oleh pengantin baru itu. Begitu juga dengan kedua orang tua mereka.


Acara pun akhirnya setelah menjelang malam, semua tamu sudah kembali pulang termasuk keluarga Ikram. Kini di rumah itu hanya tinggal saudara dan kerabat dari Vanya. Ikram menjadi salah satu anggota keluarga mereka.


Malam ini, setelah mereka makan malam semua orang mulai memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat. Begitu pun dengan Vanya dan Ikram. Pengantin baru itu memasuki kamar mereka.


"Mas mau mandi duluan?" tanya Vanya yang terlihat begitu santai karena ia merasa aman malam ini bukanlah malam pertama mereka.


"Boleh, kamu tunggu aku di sini ya," ucap Ikram sambil menjawil hidung mancung Vanya.


"Hm." Vanya lalu masuk ke walk in closet untuk mengganti bajunya dengan piyama tidur, juga menyiapkan baju untuk Ikram. Namun, saat wanita itu membuka lemarinya, semua piyamanya hilang entah ke mana. Kini berganti dengan gaun tidur tanpa lengan dengan panjang di atas lutut.


"Lo piyama aku ke mana? Masa iya langsung hilang gitu aja sih?" Vanya mulai mengacak-acak lemarinya, semuanya ternyata sama bahkan kaus lengan pendek pun tak ia temukan satu pun.


"Pasti kerjaan Bi Sum nih." Vanya menutup kembali lemarinya dengan kesal. Saat ia keluar dari sana wanita itu mendapati Ikram yang baru saja keluar dari toilet dengan rambut basah dan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Astaghfirullah," pekik Vanya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Ikram yang malah mendekatinya.


"Kamu mau ngapain? Orang-orang sudah tertidur." Ikram menghalangi jalan Vanya.


"Se-sebentar kok, Mas."


"Ini kan malam pertama kita, lebih baik kamu ...." Ikram mendorong tubuh istrinya hingga wanita itu bersandar pada dinding. Ikram sudah mencondongkan wajahnya, tetapi Vanya langsung memalingkan wajahnya.


"A-aku lagi ...."


"Apa, Sayang." Ikram mengunci istrinya. Hal itu tentu saja membuat Vanya gugup. Ia akan aman daei malam pertama, tetapi entahlah hal lainnya ia tak tahu.


"Aku ... aku ... sedang datang bulan, Mas." Akhirnya Vanya bisa mengungkapkan isi hatinya.


"Hah! Apa? Oh ayolah, Sayang kenapa harus hari ini?" sesal Ikram.


"Aku lupa hari ini jadwalnya. Pantas saja mood ku jelek banget." Vanya kini tersenyum lebar setelah melihat Ikram yang menunduk lemas.

__ADS_1


"Jadi, malam ini jangan deket-deket sama aku, Oke." Vanya mendorong dada suaminya lalu berlalu keluar untuk menemui Bi Sum.


Saat turun ke bawah terlihat Thea dan Nisa juga Agam sedang berbincang. "Kalian lagi ngobrolin apa sih, rame banget kayanya?" ucap Vanya sambil menghampiri ketiganya.


"Haish, ngapain di sini sih udah sana tidur! Ini malam pertama kalian lo," goda Thea yang diikuti oleh Nisa dan Agam.


"Heleh, nanti aja. Aku mau nemuin Bi Sum dulu." Vanya oun kembali beranjak setelah ikut duduk bersama mereka.


"Bi Sum udah tidur, Vanya. Kasian dia kecapaian." Thea memberi tahu. Gadis itu tahu pasti Vanya akan menanyakan baju-bajunya yang menghilang pada wanita paruh baya itu karena ia juga yang membantu Bi Sum mengangkut semua baju Vanya atas perintah Ayudia.


Vanya pun menghela nafas, ia pun akhirnya pasrah dan kembali ke kamarnya. Tidak ada pilihan lain ia harus menggunakan baju tidur kurang bahan itu daripada menggunakan gaun seperti yang ia kenakan saat ini.


Saat masuk ke kamarnya, Ikram sudah mengenakan piyama hitamnya. Pria itu terlihat fokus pada ponselnya. Vanya pun tak menghiraukan pria itu, wanita itu langsung masuk kembali ke walk in closet dan mengenakan gaun tidur tanpa lengan itu, warnanya hitam sama dengan yang digunakan Ikram. Vanya memilihnya karena gaun itu tak terlalu pendek pas sampai lututnya.


Saat ia keluar dari walk in closet, Ikram sudah melipat kedua tangannya di depan dada sementara itu ponselnya disimpan di nakas.


"Malam pertama kali ini mungkin gagal, tapi masih banyak malam pertama yang akan datang. Jadi, mari kita istirahat, Sayang." Ikram menepuk kasur kosong di sampingnya. Vanya oun menelan salivanya, tetapi akhirnya ia pun naik ke ranjang yang sama.


"Aku akan tidur di sini, awas kalau kamu macam-macam, Mas!" ancam Vanya.


"Oh, ayolah, Sayang. Kamu sudah sah jadi milik aku, istri aku."


"Aku nggak mau."


Namun, bukan Ikram jika harus mengalah begitu saja. Pria itu berhasil mendekap tubuh istrinya dengan erat. Bersamaan itu suasana menjadi gelap gulita.


"Mas Ikram!" pekik Vanya.


"Sepertinya mati lampu, Sayang." Ikram berbisik tepat di telinga Vanya hingga gadis itu meremang.


"Mas, kamu jangan macam-macam!" Vanya kembali protes pada suaminya.


"Satu macam doang, Sayang."


"Mas!!"

__ADS_1


Tamaaaaat


__ADS_2