Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Fitting Baju


__ADS_3

Pagi ini Ikram sudah berada di rumah Vanya, pria itu akan mengantar calon tunangannya itu untuk fitting baju di butik pilihan sang kakek.


Vanya masih bersiap-siap, sementara Ikram menunggunya di ruang depan bersama orang tua gadis itu.


"Ih, malas banget gue pergi hari ini. Ngebet banget tunangan sama gue lagian," gumam Vanya yang terus mengomel sejak kedatangan pria yang tak diharapkannya itu.


Namun, saat baru saja ia menemukan baju yang akan ia gunakan, suara ketukan di pintu terdengar begitu jelas. "Neng Vanya udah siap belum? Ibu udah nungguin." Itu adalah suara Bi Sumi asisten rumah tangga keluarga itu.


"Tunggu aja 5 jam lagi, Bi. Vanya masih ...."


"Sayang, ayo cepetan biar mami bantuin sini!" Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan sang mami masuk begitu saja.


"Ya ampun, Vanya. Kamu dari tadi ngapain?" Wanita paruh baya itu terkejut saat melihat putrinya masih menggunakan piyama tadi pagi.


"Ah, Vanya pengen rebahan hari ini, Mi. Malas ke mana-mana," jawab gadis itu yang membuat Ayudia menggelengkan kepalanya. Kemudian ia mendorong anak gadisnya untuk ke kamar mandi, sementara itu ia menyiapkan pakaian untuk putrinya.


"Kamu mau dimandiin sama mami, Vanya?"


"Ih, iya, iya. Vanya mandi dulu, Mami." Vanya pun akhirnya mengalah. Gadis itu menutup pintu kamar mandinya dan mulai terdengar gemericik air dari dalam.


"Vanya, Vanya kamu itu sudah dewasa tapi tingkah kamu tetap saja manja seperti ini. Keras kepala kamu juga mirip banget sama papi kamu." Ayudia bergumam sambil merapikan kembali lemari milik putrinya. Sebuah dress selutut berwarna nila disiapkan wanita paruh baya itu. Ayudia sangat suka jika putrinya mengenakan dress seperti itu, tetapi sebenarnya Vanya tidak terlalu suka, gadis itu lebih senang menggunakan celana jins dengan kaus.


Hari ini, Ayudia akan mendandani putrinya dengan cantik. Ia ingin membuat Ikram menyesal karena dulu telah menyia-nyiakan putrinya dengan kejam. Tak berselang lama, Vanya keluar dengan jubah mandi warna nila pula, rambutnya dibalut handuk kecil.


"Mami masih di sini?" Gadis itu terkejut saat melihat keberadaan sang mami yang duduk di tepi ranjang.


"Udah cepet sini!" Ayudia menarik putrinya dan menyuruh gadis itu untuk segera mengenakan dress yang sudah ia siapkan.


"Mami, ih ngapain pakai dress gini?"

__ADS_1


"Nggak usah ngebantah, ayo buruan!"


Vanya pun kembali menuruti keinginan sang mami, bahkan setelah ia selesai mengenakan dressnya, Vanya kembali ditarik dan didudukan di depan meja rias. Ayudia mulai memoleskan alat-alat rias milik putrinya. Kali ini tidak ada bantahan dari Vanya gadis itu menurut dan diam saja.


Sekitar tiga puluh menit, akhirnya Ayudia selesai mendandani anak gadisnya. "Masya Allah anak mami cantik banget." Wanita berbaju ungu itu memutar tubuh putrinya.


"Ayo sekarang kita turun," ajak wanita itu.


Dua wanita beda usia itu pun turun sambil bergandengan tangan. Saat sampai lantai bawah, terlihat Ikram dan Ehsan memandang ke arah keduanya dengan terpaku.


Cantik banget!


"Tidak usah melihat putriku seperti itu." Tiba-tiba Ehsan menyadarkan Ikram. Pria itu pun jadi salah tingkah.


"Sudah siap?"


"Bisa besok aja nggak sih?"


Ikram pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Vanya untuk mengajaknya segera pergi. "Ayo. Kalau gitu Ikram pamit dulu ya, Om, Tante." Ikram pun mencium punggung tangan orang tua Vanya dengan sopan begitu juga dengan Vanya.


Pasangan itu pun pergi meninggalkan kediaman Pradipta. Ikram sering sekali mencuri pandang ke arah Vanya, tetapi gadis itu tetap tak acuh bahkan memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Tak berselang lama, mereka pun berhenti di sebuah butik 'Butik Klarisa'. "Sudah sampai, ayo!" Ikram membuka sabuk pengamannya begitu juga dengan Vanya. Gadis itu langsung turun dari mobil tanpa menunggu Ikram.


Keduanya pun masuk bersama. Ikram ingin sekali menggandeng tangan Vanya, tetapi gadis itu tak memberinya kesempatan.


Keduanya disambut ramah oleh wanita berambut panjang. "Selamat pagi, selamat datang di butik kami. Kenalkan nama saya Nesa ada yang bisa saya bantu?" ucap wanita itu dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya.


"Saya sudah pesan baju untuk acara pertunangan kami, atas nama Ikram dan Vanya," ucap Ikram.

__ADS_1


"Oh, iya cucunya Pak Fathan ya, mari kami sudah menunggu." Nesa pun mengajak keduanya ke ruangan lain. Di sana sudah ada seorang wanita berambut pendek yang sedang memasang kancing mutiara di gaunnya.


Nesa mendekati wanita itu dan berkata sesuatu hingga membuat wanita berambut pendek itu menghentikan kegiatannya. "Ah, maaf silakan duduk!" ucap wanita itu ramah.


Vanya dan Ikram pun duduk berdampingan dan melihat ke arah dua baju yang dipasang di dua manekin laki-laki dan perempuan.


"Ini Mbak Vanya ya? Kenalkan sama saya Fimi Klarisa, pemilik butik ini. Gaunnya sudah selesai mari dicoba dulu. Nes kamu coba bantuin Mas Ikramnya ya?" ucap wanita itu pada Nesa.


Vanya pun beranjak, ia melihat gaun berwarna nila itu sangat cantik dan Vanya sangat suka dengan modelnya. Kemudian Fimi membantu Vanya mengenakan gaunnya dan pinggangnya sedikit kebesaran, jadi Fimi pun mengukur kembali gaunnya, yang lainnya sudah sangat pas. "Ada yang harus diperbaiki lagi nggak, Mbak? Cantik banget ih," puji Fimi.


"Nggak usah, yang lainnya sudah pas tinggal bagian pinggang saja sepertinya," jawab Vanya sambil melihat pantulan dirinya di cermin. "Keren sekali desainnya, Mbak Fimi. Aku suka."


"Alhamdulillah kalau suka, acara tunangannya dua hari lagi ya?"


"Ah, iya tinggal dua hari lagi," desah Vanya.


"Kenapa? Tenang aja Mbak nanti juga selesai mungkin sore bisa kami kirim ke rumah Mbak." Fimi merasa kalau ada yang tak beres dengan hubungan pasangan itu, tetapi ia mengalihkan keingintahuannya dengan kekhawatiran gadis di depannya mengenai bajunya.


"Eh, bukan gitu. Aku percaya Mbak Fimi pasti bisa menyelesaikan tepat waktu." Vanya pun langsung kembali ceria, ia tak mungkin bercerita kalau pertunangannya karena paksaan.


Tak berselang lama Ikram memanggil Vanya dan ingin melihat penampilan gadis itu. Fimi pun mengajak Vanya keluar dari ruang ganti.


"Punya Mbak Vanya tinggal kecilin bagian pinggangnya saja, Mas. Bagaimana jasnya udah pas?" Fimi memberitahu Ikram dan bertanya mengenai pakaian pria itu.


"Sudah tidak ada masalah, sesuai dengan tubuhku dan sangat nyaman dipakai." Ikram menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari Vanya yang benar-benar cantik.


"Baik kalau begitu, nanti sore akan kami kirim ke rumah ya, Mas. Terima kasih sudah memilih butik kami untuk acara istimewa kalian. Selamat ya semoga langgeng sampai menikah."


"Aamiin." Ikram menjawab dengan cepat.

__ADS_1


"Bilang aamiin, Sayang kalau didoain," ucap Ikram pada Vanya.


"Aamiin."


__ADS_2