
Ikram kembali meminta Yuki untuk mengantarnya ke toilet. Pria itu, saat ini seperti enggan untuk bangun sendiri atau mungkin sengaja mengerjai Yuki. Ikram tetap berbaring dan meminta Yuki untuk membantunya bangun dan berdiri.
"Tadi juga bisa berdiri sendiri, kenapa sekarang nggak?" Yuki menggerutu.
"Aku udah lemes banget ini." Ikram beralasan.
Yuki pun dengan terpaksa beranjak dari duduknya untuk membantu Ikram. Gadis itu berjalan mendekat ke arah pria jangkung itu. Namun, entah bagaimana awalnya, kaki Yuki tersandung kaki kursi dan hal itu membuat tubuh Yuki limbung dan menimpa Ikram. "Aduh!"
Bersamaan itu pintu kamar Ikram terbuka, seorang gadis berdiri di sana dan berteriak marah. "Apa yang kalian lakukan!"
Wanita itu adalah Olive, kekasih Ikram. Gadis itu bergegas masuk dengan kedua tangan yang mengepal dan wajah memerah.
Yuki sendiri sudah kembali berdiri, walaupun dirinya tidak terluka, tetapi kejadian tadi cukup membuatnya shock. Sementara Ikram terlihat memegang dadanya sambil meringis.
"Apa yang kamu lakukan, Pelakor? Memang dasar cewek gatel, main nyosor terus!" bentak Olive tak terkendali, bahkan gadis itu juga mendorong Yuki dengan kasar, hingga Yuki terjatuh.
"Aduh! Ini nggak seperti yang Mbak Olive lihat," ucap Yuki membela diri, lalu gadis itu berusaha berdiri kembali. "Aku malah seneng, Mbak Olive datang, jadi aku nggak perlu urusin pacar Mbak yang lebay itu." Yuki menatap sinis ke arah Ikram yang kini sudah bersandar pada kepala ranjang.
"Bilang saja kamu mau godain saya, Yuki," ucap Ikram menambah keruh suasana. Tentu saja hal itu dibantah keras oleh Yuki. Namun, tiba-tiba pipinya terasa sangat perih dan panas karena Olive menamparnya.
Yuki memegang pipinya sambil memekik kesakitan. Wajahnya kini memerah menahan amarah. Tidak seorang pun dulu 0ernah melakukan hal seperti ini, tetapi saat ini karena fitnahan Ikram, ia ditampar dengan alasan yang tidak jelas.
Aku bersumpah akan menghancurkan kamu, Ikram. Yuki mengepalkan tangannya lalu pergi meninggalkan tempat itu. Gadis itu akan pulang ke rumah Mak Aminah. Yuki terus mengusap pipinya yang basah karena air matanya yang terus jatuh, padahal gadis itu sudah menahannya.
Selama naik angkutan umum, ia berusaha menutupi tangisannya, sampai akhirnya gadis itu sampai di Warung Nasi Kadeudeuh. Yuki turun dari angkutan umum, setelah membayar ongkos, ia langsung berlari masuk. Mak Aminah sedang melayani pelanggan, ia tak melihat kedatangan Yuki. Gadis itu langsung masuk ke kamarnya dan mengunci diri di sana.
"Gue benci sama lo Ikram, gue benci!" pekik Yuki tertahan saat tubuhnya melorot jatuh di balik pintu. Gadis itu menangis, ia merasa kesal dan terhina. Kesepakatan dengan Fathan pun sepertinya tak bisa ia lakukan, karena rasa bencinya makin bertambah.
Setelah puas menangis, Yuki pun akhirnya tertidur di lantai dengan menekuk kedua kakinya dan kedua lengannya ia gunakan sebagai penyangga kepalanya.
__ADS_1
...****************...
Sementara itu, Olive masih marah pada Ikram yang tak memberi kabar tentang sakitnya dan malah berduaan dengan Yuki. "Kamu mau selingkuh dari aku, Ikram?"
"Nggak, Sayang. Justru aku sakit karena dia, jadi dia harus bertanggung jawab." Ikram menarik tangan Olive agar gadis itu mendekat.
Kini gadis itu duduk di tepi ranjang, sementara Ikram bersandar pada kepala ranjang.
"Aku nggak suka kamu dekat sama cewek itu, Ikram. Aku cemburu." Olive kembali merajuk.
"Cuma kamu yang ada di hati aku, Olive." Ikram kini bangkit dan mendekat ke arah gadisnya, lalu mendekapnya.
Setelah itu, keduanya kembali harmonis seperti biasa, Ikram juga bercerita awal mula dirinya sampai masuk rumah sakit. Bercerita tentang wajahnya yang dilukis Yuki, lalu masak mie instan bersama gadis itu dan ternyata mienya sangat pedas.
"Ya udah, kamu pecat dia aja, Kram. Ngapain baru juga masuk kerja udah berani lukis wajah kamu." Olive naik pitam saat mendengar wajah tampan Ikram disentuh wanita lain. Gadis itu tak terima.
"Nggak bisa gitu dong, Sayang. Walaupun Yuki begitu, tetapi pekerjaannya bagus dan sesuai dengan selera aku," ucap Ikram lembut.
"Ma-maksud aku selera furniturnya, Sayang. Kamu jangan salah paham," kilah Ikram yang kembali mendekap gadisnya yang meronta.
Olive terdiam dan kedua tangannya kini membalas dekapan sang kekasih. Mereka kini hanya diam tanpa mengucap sepatah kata pun. Keduanya terhanyut dalam dekapan.
...---------------...
Warung Nasi Kadeudeuh
Mak Aminah terkejut saat melihat anak gadisnya sudah berada di rumah. Yuki terlihat baru bangun tidur dengan mata yang sembab. Mak Aminah akan membawa sesuatu di kamarnya.
"Lho, Neng udah di rumah? Neng abis nangis?" Mak Aminah terlihat khawatir dengan keadaan putrinya.
__ADS_1
"Tadi aku pulang, Maknya lagi sibuk." Yuki tetap tersenyum pada malaikat tak bersayap di depannya.
Mak Aminah mengangguk, lalu bertanya tentang pekerjaan hari ini di tempat Ikram. Namun, Yuki malah terdiam, rasa bencinya kembali muncul saat nama itu disebutkan.
"Neng? Neng Yuki?" Mak Aminah mengguncang bahu putrinya yang tampak melamun.
"Dia sakit, Mak. Jadi hari ini aku malah nganter dia ke rumah sakit, tapi ...." Yuki memejamkan matanya saat teringat kembali kejadian di rumah sakit tadi siang. Ketika wajahnya ditampar oleh wanita yang menuduhnya sebagai selingkuhan kekasihnya.
"Tapi apa, Neng? Eh kela, kunaon ieu pipi?" Mak Aminah melihat pipi Yuki yang memerah di sebelah kanan.
Yuki terkejut, ia tak menyadari bahwa ada bekas di wajahnya. Kulit Yuki memang putih, jadi wajar jika bekas tamparan keras itu masih membekas di wajahnya.
"Nggak apa-apa, Mak." Yuki memegang pipinya.
"Bilang sama Mak, Neng diapain sama Nak Ikram? Biar Mak yang balas." Wanita berapron itu menggebu-gebu saat tahu putri semata wayangnya disakiti orang lain.
"Nggak, Mak. Yuki baik-baik saja."
"Pokoknya Mak nggak terima ya, kalau Neng Yuki disakiti sama tuh anak. Percuma ganteng tapi KDRT."
Yuki terkekeh saat mendengar Mak Aminah menyebut kata 'KDRT'. "Yuki bukan istrinya, Mak. mana bisa KDRT."
"Kekerasan Dalam Ranah Teman, Neng. Ganti aja rumah tangganya," ucap Mak Aminah yang membuat Yuki tergelak mendengar kepanjangan yang dibuat wanita paruh baya di depannya.
"Dia juga bukan teman Yuki, Mak."
"Lah, iya juga ya, emh ... kalau gitu T-nya ganti aja jadi Tetangga gimana?"
"Ish, Mak ada-ada aja deh." Yuki kembali tergelak, gadis itu selalu merasa terhibur bila berbicara dengan ibu angkatnya. Makasih Mak udah jadi bagian dari hidup aku, aku berjanji akan selalu menyayangi Mak, seperti aku menyayangi Mami. Love you full pokoknya buat Malaikat Tak bersayapku.
__ADS_1
"Eh, iya tadi ada pacarnya Nak Ikram ke sini, Neng. Dia marah-marah gitu, kaya pas pertama datang nuduh Neng yang nggak-nggak."