Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Taman Baca


__ADS_3

Vanya terkejut saat melihat Ikram dipeluk oleh seorang wanita yang sangat Vanya kenal. "Mbak Olive?" lirih Vanya dan entah mengapa ada rasa sakit di sudut hatinya yang paling dalam.


Ikram melepaskan pelukan wanita itu dengan kasar, kemudian mendekati Vanya. Gadis itu masih diam dan malah sibuk mencari cemilan lain untuk mengalihkan rasa sakit di dadanya yang tiba-tiba datang.


"Jadi sekarang gini selera kamu, Ikram?" ucap Olive yang terlihat lebih berisi.


"Selera apa maksud kamu?" sinis Ikram dengan nada pelan karena bagaimana pun saat ini mereka sedang berada di tempat umum.


"Ya kaya gini, makan di pinggir jalan. Emang nggak malu?"


"Ya ampun Mbaknya kenapa sibuk banget ngurusin selera orang sih? Mendingan urus diri sendiri aja. Makan di mana pun yang penting halal," sela Vanya yang kesal dengan ucapan Olive.


"Heh, pelakor nggak usah banyak omong deh lo." Olive membentak Vanya hingga semua mata tertuju ke arah mereka.


Apalagi saat sebutan pelakor yang disematkan oleh Olive membuat Vanya menjadi pusat perhatian dan tentu saja pandangan merendahkan didapatkan oleh gadis itu.


Ikram sadar bahwa saat ini suasananya sudah tak baik-baik saja. "Dia calon istriku, bukan pelakor, Olive." Ikram menarik tubuh Vanya agar merapat pada tubuhnya. Saat pedagang batagor itu memberikan pesanan Vanya. Ikram meminta agar makanan itu dibungkus saja.


"Sebaiknya kita cari tempat lain, Sayang." Ikram berbisik pada Vanya lalu mengajak gadis itu untuk segera masuk ke dalam mobil. Setelah membayar makanannya, Ikram pun menunggu barangnya dan langsung masuk ke dalam ke dalam mobil tanpa mempedulikan Olive yang berusaha mencegahnya.


Namun, pria itu pun akhirnya berhasil masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana. Vanya menatap ke luar jendela, entah kenapa rasa sakit melihat Ikram dipeluk mantan kekasihnya masih saja memporak porandakan hatinya yang hari ini awalnya begitu senang dengan kehadiran Ikram.


"Sayang?" Ikram menarik satu tangan Vanya.


"Hm." Hanya gumaman kecil yang diterima Ikram.


"Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Olive, Sayang. Aku bersumpah."


"Udah, Mas nggak usah dibahas. Itu urusan Mas Ikram." Vanya menjawab dengan malas.

__ADS_1


"Ya nggak gitu dong, aku calon suami kamu. Aku nggak mau ada salah paham antara kita."


"Iya, udah sih. Mas mau balikan sama dia juga aku nggak apa-apa." Vanya menjawab tanpa menoleh sedikitpun pada Ikram.


Tidak apa-apa bagi wanita artinya sebaliknya dan Ikram tahu itu. Namun, karena saat ini mereka masih berada di jalan. Akhirnya Ikram pun diam dan memilih fokus pada jalanan di depan.


Tak berselang lama mereka sampai di sebuah taman baca. Ikram membawa Vanya ke sana karena di tempat itu banyak juga pedagang pinggir jalan. Kita bisa ngemil sambil membaca buku yang disediakan di sana.


Sebenarnya, dulu Ikram pernah membawa Olive ke sini, tetapi gadis itu menolak dan lebih memilih pergi ke mal atau restoran mewah.


Saat Vanya tersadar bahwa mobilnya sudah berhenti di tempat yang baru kali ini ia kunjungi. Gadis itu langsung turun dan masuk ke taman baca itu. Sebuah taman dengan rumah pohon berisi berbagai macam buku. Setiap orang bisa membaca buku dengan gratis di sana dengan catatan tidak merusak atau mengambil buku-buku itu ke rumah. Ada satu orang penjaga di sana.


Vanya senang dengan taman baca yang baru ia kunjungi pertama kali ini. Gadis itu memang senang membaca, ia langsung mendekati penjaganya dan meminjam satu buku untuk ia baca.


Sementara itu, Ikram membiarkan Vanya membaca di kursi taman, ia pergi untuk membeli semua makanan yang ada di sana. Saat kembali, tangan Ikram penuh dengan kantong keresek di tangannya. Semua pedagang yang ada di sana makanannya ia beli.


"Aku nggak tahu makanan apa yang ingin kamu beli, jadi aku beli semuanya," jawab Ikram kemudian duduk di samping Vanya.


"Ish, yang tadi aja belum aku makan, Mas. Ini mau siapa yang ngabisin coba?"


"Ya udah kamu pilih aja mau makanan yang mana, yang lainnya bisa kita bagiin ke orang-orang yang ada di sini."


"Kamu tuh ya ...." Vanya tak melanjutkan ucapannya lalu gadis itu pun memilih makanan yang ia inginkan hanya 2 macam saja.


"Kasih buat petugasnya aja dulu, Mas."


Ikram pun mengangguk, lalu beranjak untuk membagikan makanan yang sudah ia beli. Pertama ia memberikan makanan pada penjaga taman baca, seorang pria paruh baya.


Kemudian pada pengunjung lain, sampai akhirnya semua makanan yang ada di tangan Ikram habis.

__ADS_1


Kini pria tampan itu pun kembali ke kursi di mana Vanya duduk. Gadis itu masih fokus pada buku bacaannya. Ikram pun mengambil buku sari tangan Vanya. "Makan dulu makanannya, Yuki."


"Ih, Mas lagi seru tahu."


"Nggak ada, makan dulu ayo keburu dingin nggak enak."


Vanya pun mengalah, ia mengambil batagor yang ia beli lebih dulu tadi. "Ayo, Mas juga makan, masa aku doang." Ikram pun mengangguk dan mengambil makanan yang sama.


Keduanya menikmati makanannya sambil melihat pemandangan taman sekeliling yang terlihat asri. "Aku baru tahu ada taman baca sekeren ini di sini."


"Kamu suka?"


"Hm. Ini akan jadi tempat favorit aku."


Ikram pun tersenyum karena sejujurnya taman baca ini juga adalah tempat favoritnya sejak ia masih sekolah dulu.


Lain Ikram lain pula dengan Olive. Ternyata keberadaan Olive di tempat itu memang untuk membeli makanan yang sama dengan Vanya. Karena selama mengandung, wanita itu menginginkan jajanan pinggir jalan.


Bahkan hampir setiap hari Olive pergi ke sana untuk membeli makanan yang ia mau.


"Bang beli batagornya dua porsi kaya biasa ya," ucap Olive sambil duduk di kursi. Erik masih sibuk di kantornya. Suaminya itu hanya sesekali menemani Olive karena kesibukannya di kantor.


Olive merasa kesepian andai saja dulu dirinya tak serakah mungkin saat ini yang akan tertulis di undangan Ikram itu adalah nama dirinya.


Namun, sebuah pernikahan mewah impiannya pun tak ia dapatkan bersama Erik. Pernikahan keluarga kecil mereka bahkan tak semua orang diundang.


Hanya karena janin yang ia kandung sebelum waktunya, akhirnya impiannya oun sirna. Walaupun Olive memaksa untuk bisa kembali dengan Ikram, tetapi semuanya mustahil dirinya bahkan sudah berstatus sebagai istri dari Erik.


Tak terasa, dua porsi batagor sudah Olive habiskan, ia pun membayarnya dan pergi berjalan kaki ke pedagang lain untuk membeli makanan lain. Itulah yang selalu Olive lakukan setiap pagi menjelang siang, selain mengusir kesepiannya juga menuruti keinginan bayinya.

__ADS_1


__ADS_2