
Ikram mengajak Vanya ke kantornya terlebih dahulu sebelum mengantarnya ke rumah gadis itu. Ikram ingin membuktikan kalau apa yang dikatakan Vanya itu benar atau hanya alasan saja agar tak menikah dengannya.
Sebelumnya Ikram sudah meminta maaf atas semuanya pada gadis di sampingnya yang selama perjalanan tak pernah menatapnya Perjalanan menuju ke Pradana Corp hanya memakan waktu empat puluh lima menit dari hotel Brata.
Saat ini mobilnya sudah berhenti di depan gedung kantornya. Ikram mengajak Vanya untuk turun, walaupun gadis itu terlihat enggan untuk menuruti keinginan Ikram, tetapi pria itu meyakinkan Vanya kalau ada yang ingin ia tunjukkan.
Akhirnya Vanya pun mengikuti Ikram, bahkan Ikram melindungi Vanya dengan posesif. Saat akhirnya mereka sampai di ruangan Ikram. Pria itu menutup pintu dan menguncinya. Vanya melangkah mundur saat Ikram terus melangkah mendekat.
"Mas Ikram?" Gadis itu tergagap saat jarak mereka semakin dekat karena tubuh Vanya terantuk ke meja kerja. Tanpa diduga tubuh Vanya diangkat dan didudukan di meja kerja, kemudian kedua tangan Ikram mengurungnya dengan memegang tepian meja.
"Mungkin pertanyaan ini terlambat, tetapi bisakah kamu menceritakan semuanya padaku, Vanya?" ucap pria itu dengan tatapan teduh yang ia tujukan pada gadis di hadapannya.
"Untuk apa, Mas? Kamu menyesal karena aku saat ini sudah tidak suci lagi?" jawab Vanya dengan menarik satu ujung bibirnya.
Ikram menggeleng cepat, lalu tanpa diduga ia mendekap erat tubuh Vanya walaupun gadis itu sempat berontak. Namun, tenaga Ikram jauh lebih besar dari Vanya. "Aku minta maaf, Sayang. Semua salah aku, kamu mungkin ketakutan saat itu ... maaf." Suara Ikram bergetar saat kembali mengucapkan kata maaf.
"Aku mau pulang, Mas." Vanya berucap dengan nada memohon.
"Baiklah kita pulang," jawab Ikram sambil meregangkan dekapannya lalu menatap intens wajah gadis di depannya. Kedua telapak tangannya kini menangkup wajah Vanya, tetapi saat wajah Ikram semakin mengikis jarak diantara mereka. Vanya langsung mendorong dada bidang pria itu. "Pulang, Mas Ikram."
Gadis itu pun lalu turun dari meja dan berjalan ke arah pintu. Ikram menghela nafasnya, tetapi mengikuti sang gadis di belakangnya. Dengan langkah cepat Vanya membuka kunci pintu ruangan Ikram lalu keluar. Gadis itu ingin segera kembali ke rumahnya. Tubuhnya sudah lelah ditambah dengan kejadian tak terduga yang membuat ingatan buruk itu kembali datang.
Kini keduanya sudah berada dalam mobil, Ikram pun langsung melajukan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan menuju rumah Vanya, tidak ada percakapan berarti dari keduanya. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Karena malam sudah sangat larut sehingga jalanan agak lengang. Vanya bahkan sering terlihat menguap. Saat Ikram akhirnya memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Vanya. Gadis itu ternyata sudah terlelap, nafasnya yang teratur membuat Ikram tak tega untuk membangunkannya. Akhirnya ia pun meminta satpam untuk membukakan pintu rumah.
__ADS_1
Ikram mengangkat tubuh Vanya, kepala gadis itu bersandar pada dada bidangnya. Seperti biasa Vanya refleks mengalungkan tangannya pada leher pria itu. Karena Ehsan sering menggendongnya jika gadis itu ketiduran, jadi Vanya selalu merasa nyaman jika mengalungkan kedua tangannya pada leher pria paruh baya itu. Namun, ternyata kebiasaan itu ia lakukan juga pada Ikram yang sudah dua kali menggendongnya karena ketiduran.
Ikram dan Vanya disambut oleh Ehsan, Ayudia mungkin sudah beristirahat lebih dulu karena wanita paruh baya itu tak ada di mana pun saat ini.
"Maaf, Om. Ikram ...."
"Tolong antarkan ke kamarnya, Om izinkan." Ehsan memotong kalimat Ikram. Lalu Ikram pun mengangguk dan mulai naik ke lantai atas diikuti oleh Ehsan. Setelah sampai di depan pintu kamar gadis itu. Ehsan membantu membukakan pintunya, lalu Ikram pun masuk dan membaringkan tubuh Vanya di ranjangnya. Gadis itu sepertinya memang kelelahan, bahkan saat Ikram membaringkan tubuhnya saja, Vanya tak bangun. Gadis itu hanya bergumam kecil dan kembali terlelap.
Setelah menyelimuti tubuh Vanya dan mastikan bahwa gadis itu benar-benar sudah nyaman, Ikram dan Ehsan pun keluar. Kedua pria beda usia itu masih saling diam sampai saat mereka sampai di ruang tamu. Ehsan memanggil Ikram dan mengajaknya untuk duduk.
"Ini pernikahan kedua putriku dengan orang yang sama, apa kamu berjanji untuk tidak mengecewakan kami lagi, Ikram?" Kali ini tidak ada tatapan sinis dari pria paruh baya itu.
"Vanya adalah putriku satu-satunya, cinta pertamaku setelah istriku. Aku sangat menyayanginya."
"Seorang pria sejati akan memegang kata-katanya. Namun, jika kau mengingakrinya jangan harap kau bisa melihat dunia ini lagi." Ehsan mengakhiri ucapannya.
"Ikram janji, Om."
"Pulanglah dan beristirahat!"
Ikram pun pamit undur diri, setelah sebelumnya ia mencium punggung tangan pria yang sebentar lagi menjadi papi mertuanya.
Selama perjalanan pulang. Ikram terus mengusak rambutnya. Fakta baru tentang calon istrinya membuat pria itu marah pada dirinya sendiri. Andai saja dulu ia tak kabur dari pernikahannya, mungkin semua itu tak akan menimpa Vanya.
Ikram memilih pulang ke apartemennya daripada ke kediaman Pradana. Entah mengapa pria itu saat ini ingin sendirian.
__ADS_1
Saat sampai di apartemennya, Ikram langsung menekan beberapa angka di pintunya untuk membukanya. Baru saja ia masuk dan menyalakan lampu. Pria itu dikejutkan oleh seseorang yang duduk di sofanya. Seorang wanita yang mati-matian ia perjuangkan. Namun, berakhir tragis karena pengkhianatan yang wanita itu buat.
"Ah, siyal aku lupa mengganti password -nya." Ikram mengepalkan tangannya. Password yang digunakan adalah tanggal lahir Olive dan Ikram belum sempat menggantinya karena memang baru sekarang ia kembali ke apartemennya lagi.
"Kamu pulang, Sayang." Dengan tidak tahu malunya wanita yang tak lain adalah Olive itu menyapa Ikram dengan sebutan 'Sayang'.
"Mau apa lo di sini?" geram Ikram sambil menarik dasinya dari lehernya.
"Aku sangat merindukanmu, Ikram. Apa kamu tak merindukan aku?" Olive berjalan mendekat ke arah Ikram dan hendak merangkulkan kedua tangannya pada leher pria itu. Namun, dengan kasar Ikram menepisnya.
"Aku sudah tunangan jadi jangan ganggu hidup aku lagi, Olive!"
"Siapa wanita itu, Ikram?"
Ikram tertawa sinis mendengar pertanyaan wanita di depannya. "Dia calon istriku. Ini sudah larut dengan keadaan berbadan dua seperti ini, apa kamu tidak berpikir kalau mungkin bisa terjadi sesuatu pada bayimu, Olive?"
"Aku ke sini dari siang tadi, Ikram. Aku menunggumu."
"Telepon ayah bayimu dan suruh dia untuk menjemputmu sekarang!"
"Tapi Ikram ...."
"Baiklah biar aku yang pergi." Ikram kembali mengambil kunci mobilnya yang sudah ia letakan di nakas seperti biasanya.
"Aku ingin menginap di sini bersamamu, Ikram."
__ADS_1