
Wih udh lebaran nih kita... Ga nyangka ya ternyata secepat itu kita udah mau lebaran aja...
Author mau mengucapkan selamat hari raya idul Fitri mohon maaf lahir dan batin.
Author minta maaf kalau sering buat kakak-kakak semua lelah menunggu author up... tapi author harap kakak-kakak semuanya memakan kesalahan author itu dan tetap setia menunggu karya author yang lain yaa..🤗
***
“Kamu lagi emosi Tom?” tanya Alya dengan kening yang berkerut membuat Tommy langsung salah tingkah.
“M-maaf, aku bukannya bermaksud membentak kamu sayang, aku cuma khawatir aja karena pernikahannya dia hari lagi, persiapan pernikahan itu butuh waktu beberapa bulan kemudian atau beberapa hari.” Ucap Tommy.
“Ya kalo gitu kita bisa ngadain acara kecil-kecilan aja kan? Semua ga perlu di buat ribet deh Tom, orang tuaku juga memiliki kesibukan masing-masing jadi aku tidak memaksa mereka untuk menyiapkan pernikahanku.” Balas Alya.
“Ya ga bisa dong, bukannya kamu akan menikah sekaligus pengumuman pengangkatan kamu sebagai CEO perusahaan?” tanya Tommy yang membuat Alya mengerutkan keningnya.
“Siapa yang bilang begitu? Aku tidak mau memegang perusahaan jika bukan karena keinginanku sendiri.” Ucap Alya.
“Apa? Tapi kata Tere kamu akan memegang perusahaan orang tuamu setelah menikah.” Ucap Tommy.
“Oh jadi Tere yang bilang gitu, yah awalnya sih gitu tapi itu dulu sebelum...” kata-kata Alya terpotong begitu saja saat menyadari kalau dia hampir saja keceplosan.
“Kenapa diam Al? Sebelum apa maksudnya?” tanya Tommy yang penasaran.
Alya hanya diam, dia bingung harus mengatakan apa karena dia tidak ingin kalau Tommy tau sebenarnya dia sudah mengetahui perselingkuhannya.
“Sebelum kalian ketahuan berselingkuh!” ucap seseorang dengan tegas.
Tiba-tiba saja seseorang duduk di sebelah Alya dengan tangan merangkul bahunya membuat Alya terkejut.
“Siapa kau! Kalian? Kalian siapa yang kau maksud?” tanya Tommy.
“Kalian, kau dan sahabatnya, siapa namanya sayang?” tanya Arsenio kepada Alya.
Mendengar kata sayang dari mulut Arsenio membuat Alya terkejut bukan main, matanya melotot menatap wajah Arsenio yang tersenyum manis ke arahnya yang Alya yakini kalau senyum itu adalah senyuman palsu.
“S-siapa yang kau bilang berselingkuh? Aku tidak berselingkuh dengan siapapun!” tegas Tommy.
__ADS_1
“Tidak Al, aku tidak berselingkuh padamu, apa lagi dengan Teresa, aku tidak menyukainya sama sekali!” tegas Tommy berusaha keras untuk menjelaskan semuanya kepada Alya.
“Kau! Siapa kau sebenarnya hah!?” ketus Tommy dengan tatapan tajam mengarah kepada Arsenio.
“Aku adalah calon suaminya, karena saat ini juga dia akan membatalkan pertunangan kalian.” Ucap Arsenio dengan santainya.
“Apa?!” teriak Tommy tidak percaya, dia bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya.
“Apa maksudnya ini Al? Kamu selingkuh dariku? Teganya kamu bermain api di belakangku Al!” ucap Tommy dengan penuh rasa amarah seolah dialah korbannya di sini.
Melihat hal itu membuat Alya dan Arsenio muak dengan reaksi yang di berikan oleh Tommy, hanya saja keduanya masih sama-sama mencoba untuk menahan amarah mereka.
“Al! jelaskan padaku, apa kamu dan laki-laki ini berselingkuh di belakangku!? Aku tidak percaya ternyata sikap polos yang kamu tunjukkan kepada semua orang hanyalah topeng belaka, dan sebenarnya kamu hanyalah wanita murahan!” ketus Tommy
Brakk!! Byurr!! Alya yang sudah tidak sabar lagi segera menggebrak meja dan menyiramkan air putih miliknya ke wajah Tommy.
Kedua mata Alya sudah memerah menahan amarah, tubuhnya bergetar hebat karena ingin sekali menghajar laki-laki yang ada di hadapannya saat ini, hanya saja Arsenio menggenggam tangan Alya untuk menahan amarahnya.
“Kau!” ucap Tommy yang kesal dengan apa yang di lakukan Alya kepadanya.
“Diam! Jangan berpura-pura seolah kamu adalah korbannya Tommy, sedangkan yang selama ini bermain di belakangku adalah kau! Kau dan Tere sudah membodohiku selama ini, dan kalian berdua berniat untuk merebut harta orang tuaku yang mereka berikan kepadaku?”
“Jangan pernah berharap kalau kau akan mendapatkan sepeser pun harta orang tuaku!” ketus Alya.
Dia benar-benar meluapkan amarahnya, Tommy dan Arsenio sama-sama terkejut karena untuk pertama kalinya mereka melihat Alya seberani itu.
“Ah dan satu lagi! Laki-laki yang ada di sebelahku ini memang calon suamiku, kita akan segera menikah karena aku tau dia jauh lebih baik di bandingkan kamu yang hanya modal tampang pas-pasan!” ketus Alya.
“Laki-laki ini, dia tampan, dia kaya raya dan pekerja keras tidak seperti kamu yang belum apa-apa sudah berencana untuk menikmati kekayaan yang di hasilkan orang tuaku dengan susah payah!” ketus Alya.
Dia segera beranjak pergi dari mejanya, wanita itu tidak memperdulikan tatapan semua pengunjung dan pelayan restoran itu, yang dia inginkan saat ini hanya kembali ke apartemen secepatnya agar dia bisa meluapkan semua emosinya.
Tangan Alya yang mau membuka gagang pintu mobilnya seketika tertahan saat ada tangan kekar menggenggamnya, Alya menoleh dengan segera dia kira Tommy yang mengejarnya karena dia menyesal sudah mengkhianatinya, tapi ternyata dugaannya salah karena ternyata Arsenio lah yang saat ini menggenggam tangannya.
Dengan malas Alya berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Arsenio tapi tidak bisa karena tenaga laki-laki itu jauh lebih kuat di bandingkan dengan tenaganya.
“Lepaskan aku, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.” Ucap Alya dengan pasrah.
__ADS_1
“Tenanglah, aku memang tidak ingin mengajakmu berdebat kok, aku hanya ingin mengantarmu pulang ke apartemen, aku juga akan pulang ke sana.” Balas Arsenio.
“Tidak, aku bisa sendiri.” Tolak Alya dengan tegas.
“Tidak ada penolakan Alya! Bukankah kamu tau itu?” tegas Arsenio dengan tatapan yang mengintimidasi.
“Bisakah kali ini saja kamu mengalah untukku? Aku benar-benar ingin sendirian.” Ucap Alya dengan memohon.
“Aku tidak melarang kamu untuk sendirian, aku hanya ingin memastikan kamu tidak menyetir dalam keadaan seperti ini, karena kamu juga akan membahayakan orang lain yang tidak bersalah!” tegas Arsenio.
Mendengar kata-kata terakhir Arsenio membuat Alya terkekeh lalu akhirnya tertawa layaknya orang gila yang membuat Arsenio bingung sekaligus malu karena semua orang di sekitar mereka melihat ke arah mereka.
“Hey diam lah jangan memalukan! Kenapa kau tertawa hah!?” ucap Arsenio.
“Penjahat sepertimu tau apa tentang membahayakan orang lain? Bukankah kau juga membvnvh orang lain dengan santai?” ucap Alya tanpa takut.
“Aku bukan penjahat! Orang yang aku habisi adalah orang jahat, sedangkan kamu akan membahayakan orang yang tidak bersalah!” ketus Arsenio.
Karena di rasa perdebatan mereka tidak akan ada ujungnya, akhirnya Arsenio memutuskan untuk menarik Alya dan memasukkannya ke dalam kursi mobil yang ada di sebelah kemudi, sedangkan Arsenio segera masuk ke dalam mobil dan memegang kendali untuk menyetir mobil Alya.
“Berhenti! Aku ingin pergi sendirian!” teriak Alya sambil memukul lengan Arsenio.
“Diam! Kau akan membuat kita kecelakaan!” tegas Arsenio.
“Aku tidak mau diam! Hentikan mobilnya sekarang juga!”
“Diam atau aku akan menghabisimu juga!” ketus Arsenio.
“Baguslah! Habisi aku, aku juga sudah tidak ingin lagi hidup di dunia ini, aku tidak mau melihat wajah tebal kedua pengkhianat itu, dan aku ingin segera pergi jauh dari laki-laki sepertimu!” ketus Alya.
“Benarkah? Kamu terpuruk seperti ini hanya karena seorang laki-laki tidak berguna sepertinya? Sedangkan orang tuamu yang sudah merawatmu sejak kecil tidak pernah terpikirkan olehmu? Bagaimana perasaannya setelah melihat putri mereka sudah tidak bernafas lagi?” ucap Arsenio.
Alya terdiam, seketika siluet kedua orang tuanya dan adik-adiknya muncul di kepala Alya, dia tidak percaya dia akan mengatakan hal bodoh seperti itu.
“Karena kamu terlalu menyayangi keluargamu, bagaimana kalau aku habisi dulu keluargamu lalu kamu yang akan aku habisi terakhir, dengan seperti itu kamu tidak akan melihat keluargamu sedih.” Ucap Arsenio.
“Tidak!” teriak Alya dengan cepat.
__ADS_1
Ini outfit Alya yang sedang makan malam romantis dengan kekasihnya tadi.