DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 78


__ADS_3

“Masa iya? Dari tadi ngapain aja papa? Emang ga bosen?” balas May.


“Ya mana aku tau! Kamu nanya ke aku terus aku tanya siapa?” ketus Jay yang kesal karena kembarannya itu terus mengoceh.


“Ya tanya ke papa langsung lah! Dia udah nunggu kita loh Jay.” Ucap May.


“Kenapa ga kamu aja sono yang tanya langsung! Aku ga suka sama dia, dia ga pantes jadi suami mama!” ketus Jay yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Bukannya dulu kamu seneng banget punya papa yang hebat kayak papa kita?”


“Itu dulu! Udah deh jangan banyak tanya May, kamu ini makin lama makin bawel!” ketus Jay.


May hanya mengendus kesal karena mendapat perlakuan ketus dari saudaranya itu. Jay mulai berjalan ke arah kursi dari beton yang memang di sediakan di pinggir sekolah untuk para orang tua yang menunggu anak-anaknya.


Sedangkan May hanya bisa mengerutkan keningnya melihat saudara kembarnya itu duduk di sana.


“Kamu kok duduk?” tanya May.


“Kamu aja sono yang tanya, aku tunggu sini.” Balas Jay.


“Kok aku sendiri sih?”


“Udah jangan banyak omong deh! Kan kamu yang semangat banget mau tanya ke papa, sono gih!” seru Jay sambil mengayunkan tangannya memberi isyarat kepada May untuk segera pergi menghampiri papanya.


May hanya bisa mengendus kesal, lalu dia berjalan menghampiri Arsen yang masih asik mengobrol dengan para bapak-bapak yang lain yang sama-sama sedang menunggu anak-anaknya.


“Pa.” panggil May membuat semua orang berhenti tertawa dan saling menoleh ke asal suara.


“Hai sayang, kamu sudah pulang?” tanya Arsen dengan senyum lebarnya karena melihat putri cantiknya itu.


“Wih pak Arsen, bapak papanya May dan Jay?” tanya salah satu bapak-bapak yang ada di sana.


“Iya pak, saya papanya May dan Jay, bapak kenal sama anak-anak saya?” tanya arsen.

__ADS_1


“Tentu saja kenal, kemarin anak saya di hajar oleh Jay ga tau gara-gara apa, yah namanya juga anak remaja pasti ada berantemnya ya.” Ucap bapak-bapak itu dengan nada yang seperti mengejek.


“Benarkah? Mungkin itu karena anak bapak melakukan kesalahan lebih dulu, aku percaya anak-anakku tidak akan melakukan kekerasan kalau tidak ada sebabnya.” Balas Arsen yang membela anak-anaknya.


May tersenyum mendengar pembelaan sang papa, dia senang karena walaupun mereka bertemu dengan cara yang tidak baik, namun Arsen masih mau membela mereka.


Karena memang benar, mereka berdua tidak akan melakukan hal yang tidak baik jika teman mereka tidak melakukan kesalahan lebih dulu.


“Tidak mungkin, anakku adalah anak yang sangat baik, dia tidak mungkin melakukan hal yang membuat temannya emosi.” Balas bapak itu tidak terima anaknya di salahkan.


“May, apa bapak ini benar? Apa Jay memukul anaknya tanpa alasan?” tanya Arsen kepada May dengan sangat lembut.


“Jay memang memukul anaknya pa, tapi itu karena dia duluan yang menggodaku bahkan anak bapak ini sering tiba-tiba memegang aku tanpa permisi dan itu sangatlah tidak sopan!” ketus May menjelaskan.


“Apa kamu bilang!? Anak bapak ini berani menyentuk putriku yang berharga tanpa ijin!?” ketus Arsen yang seketika mengubah raut wajahnya membuat semua orang yang awalnya biasa saja seketika menjadi ketakutan.


Karena Arsen sangat berbeda dengan Arsen yang baru saja mengobrol dengan mereka.


Begitu juga dengan bapak-bapak yang anaknya di hajar oleh Jay, dia juga langsung mati kutu mendengar suara Arsen yang seketika berubah menjadi tegas.


“Wajar? Wajar kau bilang!? Apa wajar jika laki-laki asal pegang perempuan? Itu namanya tidak sopan dan tidak tahu aturan, sekarang kau bilang hal itu wajar? Sekarang aku tahu anakmu itu menurun sifat bajingan darimu!” ketus Arsen.


“Hei! Kenapa kau mengatakan aku bajingan!?” teriak bapak itu karena sudah mulai emosi.


Mendengar ribut-ribut membuat semua orang melihat ke arah mereka, begitu juga dengan Jay yang sejak tadi hanya diam menunggu saudara kembarnya kembali, namun malah ada ribut-ribut di tempat papa mereka nongkrong tadi.


Dengan segera Jay berdiri dan langsung menghampiri saudara kembarnya itu untuk melihat ada masalah apa sampai harus ribut-ribut begitu.


Jay yang sudah sampai di tempat langsung menarik tangan May dari tengah-tengah kerumunan agar kembarannya itu keluar dari kerumunan.


“Ada apa sebenarnya? Kamu aku suruh manggil papa bukannya buat keributan.” Ucap Jay kesal.


“Ga usah marah-marah! Aku juga ga mau buat keributan! Kalo bukan gara-gara bapaknya si Asep ngungkit masalah yang kamu mukul anaknya.” Jelas May.

__ADS_1


“Asep? Septian May!” ucap Jay.


“Aku maunya Asep Jay! Nama Septian terlalu bagus bagus buat dia.” Balas May yang di sahut gelengan kepala oleh Jay.


“Jadi sekarang papa lagi berdebat?” tanya Jay dan di balas anggukan oleh May.


Lagi-lagi Jay menggelengkan kepala sambil menepuk keningnya sendiri, bagaimana bisa papanya mulai bertingkah lagi di hari pertama dia mengantar sekolah.


Jay akhirnya segera memasuki kerumunan untuk melihat sang papa yang sedang membela adiknya.


“Heh pak! Bagi saya anak perempuan saya itu seperti berlian yang paling antik dan langka di dunia ini! Seenaknya tangan kotor anak bapak pegang-pegang anak saya, ya pantes aja saudaranya membela, karena memang anak-anak saya saling melindungi satu sama lain!” ketus Arsen.


“Selama hal itu untuk melindungi keluarganya terutama adik dan ibunya itu tidak masalah, bahkan aku juga akan berada di belakangnya untuk melindungi mereka!” lanjutnya.


Mendengar kata-kata itu membuat Jay menjadi sedikit tersentuh, setidaknya papanya yang notabene orang baru di lingkungan sekolahnya dengan berani membelanya di hadapan orang tua yang selalu berada di sana dan saling mengenal satu sama lain.


Namun papa mereka tidak takut jika dia akan di keroyok oleh semua orang, dengan beraninya dia membela May dan Jay membuat Jay sedikit luluh.


“Pa.” panggil Jay membuat semua orang yang sedang adu argumen itu menoleh ke asal suara.


“Jay? Kamu di sini? Di mana May?” tanya Arsen yang baru menyadari kalau anak perempuannya itu tidak ada di sana.


“May sudah aman, ayo kita pulang.” Ajak Jay dengan santainya seolah tidak ada orang lain di sana selain dia dan papanya.


“Heh anak ingusan! Ga sopan banget banyak orang di sini main ajak aja! Kita masih ada urusan sama papa kalian!” ketus bapak Asep sambil menunjuk ke arah wajah Jay.


Arsen langsung menatap tajam ke arah tangan yang menunjuk putranya lalu mencengkramnya dengan kuat sampai bapak itu merintih kesakitan.


“Beraninya kau menunjuk putraku seperti itu!” ketus Arsen yang masih memegangi tangan bapak Asep.


“Lepaskan!” teriaknya.


“Tidak sebelum kau dan anakmu yang tidak tahu diri itu meminta maaf kepada anak-anakku!” ketus Arsen.

__ADS_1


Semua orang di sana heboh, banyak sekali yang menonton kejadian seru itu, bahkan satpam sekolah pun bukannya melerai tapi malah ikut menonton adegan seru itu.


Septian dan bapaknya memang terkenal dengan keangkuhannya, mentang-mentang mereka memiliki usaha sembako yang cukup besar dan termasuk golongan orang kaya, membuat mereka berdua jadi merasa di atas awan dan bersikap sombong.


__ADS_2