
Di dalam ruangan Arsenio, Alya berjalan mengelilingi ruangan Arsenio, dia melihat bingkai foto yang ada di meja Arsenio dan tersenyum saat melihat foto Arsenio bersama dengan oma Nani saat wisudanya.
Lalu Alya terhenti saat melihat foto Arsenio bersama dengan seorang wanita cantik yang sudah bisa Alya pastikan kalau wanita itu adalah kekasih Arsenio.
“Cantik dan seksi, apa dia benar-benar bisa meninggalkan wanita itu?” gumam Alya sambil merasakan kesedihan seketika.
Tak lama kemudian, Daisy mengetuk pintu ruangan dan langsung masuk ke dalam ruangan sambil memberikan jus pesanan Arsenio kepada Alya.
Namun bukan jus mangga yang di bawakan oleh Daisy, tapi jus apel karena Daisy tau kalau jus mangga adalah minuman kesukaan Anjali bukan Alya.
“Jus Apel? Kenapa kamu tau aku suka jus apel?” tanya Alya kepada Daisy dengan heran.
“Tuan Arsen mengatakan kalau anda menyukai jus apel nona, jadi tuan Arsen menyuruhku membuatkan jus apel untuk anda.” Jelas Daisy.
“Wah, terimakasih banyak nona Daisy.” Balas Alya.
“Panggil saya Daisy saja nona.” Ucap Daisy.
“Tapi kamu lebih tua dariku, aku tidak mau memanggil orang yang lebih tua hanya dengan nama.” Balas Alya.
“Padahal aku juga panggil Arsen tanpa embel-embel apapun hihihi.” Batin Alya di dalam hatinya.
“Tapi saya tidak nyaman jika anda memanggil saya dengan sebutan nona.” Ucap Daisy.
“Baiklah kalau begitu bagaimana kalau aku memanggilmu kak Daisy?” tanya Alya.
“Boleh, itu lebih baik dari pada panggilan nona.” Balas Daisy.
Alya hanya mengangguk lalu tersenyum mengiyakan permintaan Daisy, setelah itu Daisy ingin segera keluar dari ruangan, hanya saja Alya langsung memanggil Daisy kembali membuat wanita itu langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Alya.
“Iya nona?” ucap Daisy.
“Kak, apa kekasih Arsen sering kemari?” tanya Alya.
“Maaf nona, jika anda penasaran tentang hal itu anda bisa menanyakan hal itu kepada tuan Arsen secara langsung, aku hanya akan menjawab kalau nona Anjali sering kemari, hanya saja hampir satu tahun ini dia tidak pernah ke sini karena pekerjaannya.” Jelas Anjali.
Alya hanya mengangguk-anggukan kepalanya lalu dia membiarkan Daisy untuk keluar dari ruangan Arsenio.
Daisy berpapasan dengan Arsenio yang baru mau masuk ke dalam ruangan.
“Daisy? Apa kamu baru mengantar minuman untuk Alya?” tanya Arsenio.
“Iya tuan, saya membuat jus apel untuk nona Alya.” Balas Daisy membuat kening Arsenio mengerut.
“Bukannya aku bilang Alya suka jus mangga? Kenapa malah di buatkan jus apel?” tanya Arsenio.
__ADS_1
“Maaf tuan, tapi jus mangga adalah minuman kesukaan nona Anjali, sedangkan nona Alya menyukai jus apel.” Balas Daisy.
Arsenio terpaku mendengar ucapan sekretarisnya itu, dia langsung teringat kalau dia seringkali memesankan jus mangga untuk Anjali, untung saja Arsenio pernah meminta Daisy untuk mencari informasi tentang Alya sebelum mereka menikah, jadi Daisy lebih tau kesukaan Alya itu apa.
“B-benarkah? Aku benar-benar lupa Daisy.” Ucap Arsenio.
“Tenang saja tuan, nona Alya tidak tau kalau anda memesankan jus mangga untuknya.” Balas Daisy.
“Terimakasih banyak Daisy, mungkin kalau tidak ada kamu Alya sudah overthingking.” Ucap Arsenio.
“Tidak masalah tuan.” Balas Daisy yang langsung menyingkir dari pintu dan membiarkan Arsenio untuk masuk ke dalam ruangannya.
Setelah Arsenio masuk ke dalam ruangan, Daisy kembali duduk di tempatnya. Sedangkan Arsenio langsung bisa melihat Alya yang sedang duduk di sofa sambil meminum jus apel yang tadi di buatkan oleh Daisy.
“Maaf ya kamu menunggu lama.” Ucap Arsenio yang ikut duduk di sebelah Alya.
“Hem ga lama kok.” Balas Alya.
“Apa ada masalah di perusahaan?” tanya Alya.
“Aku mengurus masalah investor kemarin.” Balas Arsenio.
“Kenapa ga nanti aja? Kan bisa setelah cuti selesai.”
“Ya ya baiklah kamu memang seperti itu bukan?” ucap Alya.
Arsenio tertawa lalu membelai rambut Alya dengan lembut karena ekspresi wajah Alya sangat menggemaskan.
“Foto kamu sama mantan kamu lucu ya?” ucap Alya yang membuat Arsenio terkejut.
“Foto? Di mana?” tanya Arsenio.
“Itu di meja, di sebelah foto kamu sama oma.” Balas Alya sambil menunjuk ke arah meja.
Arsenio langsung berdiri dan berjalan ke arah meja kerjanya, dia langsung menutup bingkai foto yang berdiri itu.
“Maaf Al..”
“Tidak usah minta maaf Arsen, aku tidak masalah kok, pernikahan kita itu sangat mendadak jadi aku paham kalau semuanya masih tersisa di sini bahkan di hatimu.” Ucap Alya dengan bijak.
Alya memang benar-benar wanita yang sangat bijak, Arsenio tidak menyangka kalau Alya bisa sebijak itu dan bersikap santai saat melihat foto suaminya dengan mantannya.
“Kamu bosan ga di sini?” tanya Arsenio.
“Hem? Bosan kalau aku hanya di suruh duduk.” Balas Alya.
__ADS_1
“Aku akan memberimu pekerjaan hari ini.” Ucap Arsenio yang membuat Alya heran.
“Maksudnya gimana?” tanya Alya.
“Ayo ikut aku ke bagian desain, kamu bisa membantu mereka untuk melihat kekurangan mereka mendesain pakaian.” Ucap Arsenio.
Alya baru ingat kalau Arsenio memiliki usaha pakaian olahraga yng ternyata berada di gedung ini juga.
“Kenapa kamu malah menyuruhku? mereka kan pasti punya kepala divisi, lagipula aku masih muda aku tidak mau di kira menggurui kepala divisi bagian desain.” Ucap Alya.
“Come on Alya, belajar itu tidak melihat usia, dan bukan berarti yang muda tidak memiliki ilmu.” Ucap Arsenio.
“Kamu adalah desainer lulusan terbaik dari universitas terbaik, kamu juga memiliki insting tentang desain dengan sangat baik sehingga semua desain yang kamu buat sangat bagus.” Lanjutnya.
Alya hanya diam saja, di dalam hatinya dia masih tidak enak, dia takut malah semua karyawan Arsenio akan membencinya.
Tapi apa daya, mau menolak bagaimanapun juga Arsenio tetap kekeuh untuk menyuruh Alya membantu bagian desain, dan mau tidak mau Alya pun hanya bisa mengikuti keinginan Arsenio dan mereka pun turun ke lantai lima.
“Lantai ini khusus untuk desain, sebelah sana bagian fashion desainer dan sebelah sana bagian interior desainer.” Jelas Arsenio.
Alya hanya mengangguk-nggukan kepalanya, lalu dia berjalan mengikuti Arsenio sambil matanya menyusuri setiap sudut ruangan dengan baik dan hati-hati.
Keduanya masuk ke dalam ruangan fashion desainer, terlihat banyak orang yang sedang fokus menggambar sampai mereka tidak melihat kedatangan Arsenio saat itu.
Sampai salah satu karyawan melihat Arsenio, dia langsung melepas pekerjaannya dan menyapa Arsenio di ikuti dengan yang lainnya yang ikut melihat kedatangan Arsenio.
“Tuan Arsenio, ada masalah apa sampai tuan langsung kemari?” tanya salah satu karyawan yang alya perkirakan kalau dia adalah kepala divisi.
“Aku hanya ingin melihat kalian saja, Ferdi bilang kalian belum bisa membuat Ferdi terkesan dengan desain kalian?” ucap Arsenio.
“Maaf tuan, kami juga sedang memperbaiki desainnya agar mendapatkan produk terbaik.”
“Saya membawa seseorang yang mungkin bisa membantu kalian mengerjakan desain itu.” Balas Arsenio.
“Siapa tuan?”
Arsenio langsung menggeser tubuhnya agar kepala divisi itu bisa melihat Alya, Alya tersenyum sambil mengangguk sedikit untuk menyapa laki-laki paruh baya itu.
Alya bisa melihat kalau laki-laki itu melihat remeh ke arahnya, begitu juga dengan Arsenio yang bisa melihat kalau karyawannya itu meremehkan Alya.
“Jangan meremehkan dia, dia memang masih muda tapi bukan berarti kemampuannya dangkal.” Ucap Arsenio dengan tegas membuat laki-laki itu tergagap.
“B-bukan begitu tuan, saya tidak meremehkannya.” Balasnya.
“Cepat siapkan persentasi desain pakaian yang sedang kalian kerjakan.” Perintah Arsenio yang langsung di laksanakan oleh laki-laki itu.
__ADS_1