DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 23


__ADS_3

Satu per satu keluarga besar sudah berkumpul di ruang keluarga, begitu juga dengan Alya yang baru saja menuruni tangga dan berjalan menuju ruang keluarga.


“Al, di mana suami kamu?” tanya Khansa karena tidak melihat Arsenio di belakang Alya.


“Dia masih di atas oma masih mandi, ntar juga nyusul kok.” Jawab Alya sambil berjalan berniat untuk duduk di sebelah omanya.


Namun tiba-tiba saja saat Alya mau menaruh b0k0ngnya, Khansa langsung melarangnya membuat Alya berhenti seketika.


“Kenapa oma?” tanya Alya heran.


“Kamu harusnya menunggu suami kamu mandi dan kalian berdua harus turun bersama.” Ucap Khansa.


“Dia kan bisa turun sendiri oma, dia masih bisa berjalan sendiri untuk turun, masih bisa melihat di mana kita berkumpul dan masih bisa mendengar jika di panggil, jadi kenapa aku harus menunggunya?” tanya Alya.


“Ck, ck, ck,, kamu ini bagaimana sih Al, suami kamu masih baru di rumah ini, dia juga tidak akan enak mau berjalan kesana kemari sendirian tanpa ada orang rumah yang menemani.” Balas Khansa.


“Jangan mentang-mentang dia bukanlah laki-laki yang kamu inginkan jadi suami kamu terus kamu bisa seenaknya Al, laki-laki mana pun jika sudah menjadi suami kita tetap harus kita hormati.” Lanjut Khansa.


Khansa memang selalu cerewet kepada anak-anaknya dan cucu-cucunya, terutama cucu wanitanya, Khansa ingin menjaga mereka seperti berlian saat belum menikah, dan setelah menikah Khansa ingin mendidik mereka menjadi istri yang baik hingga membuat suami mereka memberikan cinta yang berlimpah kepada mereka.


“Tapi oma...”


“Al..” panggil Belinda dengan lembut sambil menggelengkan kepala pelan dengan maksud untuk menghentikan anaknya membantah ucapan Khansa.


Mendengar Belinda sudah memakai nada yang lembut seperti itu membuat Alya tidak bisa berkata-kata lagi, karena semakin lembut nada bicara Belinda semakin menakutkan Belinda saat marah dan di rumahnya tidak ada yang bisa membantah lagi jika Belinda sudah mengeluarkan nada yang lembut.


Alya mengurungkan niatnya untuk duduk, dia memilih untuk berjalan kembali ke atas menuju kamarnya untuk menunggu Arsenio selesai mandi dan berganti bajunya.


Alya mengetuk pintu kamarnya lebih dulu sebelum masuk karena dia takut kalau Arsenio sedang mengganti pakaiannya.


“Masuk.” Ucap Arsenio dari dalam kamar.


Mendengar sahutan dari dalam membuat Alya yakin kalau Arsenio sudah selesai berpakaian, dan dengan santainya Alya membuka pintu kamarnya.


“Aaaaa...” teriak Alya yang langsung di bekap oleh Arsenio yang ikut terkejut dengan teriakan Alya.


“Apaan sih Al! Kamu mau bikin satu rumah panik terus ngira aku ngapa-ngapain kamu ya?” ucap Arsenio.


“Mmmmm... mmm..” Alya berusaha berbicara namun tidak bisa karena tangan Arsenio menutupi mulutnya.

__ADS_1


Sadar jika tangannya menutupi mulut Alya, Arsenio segera melepaskan tangannya dan berdiri di hadapan Alya.


“Sorry.” Ucap Arsenio.


Alya menatap Arsenio dengan tajam, lalu seketika dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Kamu kenapa nyuruh aku masuk kalo masih belum pake baju hah!?” ketus Alya.


“Aku udah pake celana kok, laki-laki kan ga masalah kalo ga pake baju, jadi aku nyuruh kamu masuk.” Balas Arsenio.


Saat itu Arsenio memang hanya memakai celana selutut milik Kenan yang ternyata pas dengannya, hanya saja laki-laki itu belum memakai bajunya, itulah kenapa Alya berteriak sesaat dia masuk ke dalam kamar.


“Tapi aku ga biasa lihat badan laki-laki begitu!” balas Alya.


“Ya kalo gitu mulai sekarang kamu harus terbiasa, lagi pula aku ini suami kamu dan kamu bebas melihat setiap jengkal tubuhku dari atas sampai bawah.” Ucap Arsenio sambil berkedip genit.


Alya melotot tidak percaya mendengar godaan Arsenio, dia langsung melempat pakaian milik papinya ke wajah Arsenio.


“Cepat ganti baju yang lain sudah menunggu di bawah, aku akan menunggu di depan kamar.” Ucap Alya yang langsung keluar dari kamarnya.


Alya terus mencoba untuk mengatur napasnya yang tidak beraturan karena baru saja dia melihat roti sobek milik laki-laki keji yang sudah menjadi suaminya.


Alya menunggu di depan kamar sambil bersandar di tembok sebelah pintu, dia menunggu Arsenio yang tak kunjung keluar juga.


Ingin sekali Alya meninggalkan Arsenio, tapi dia tidak ingin oma dan maminya marah jadi lebih baik menunggu seperti ini.


“Kak Al, kakak ngapain berdiri di sini?” tanya Aciel saat dia melewati kamar kakaknya.


“Aku lagi nunggu Arsen ganti baju lama banget.” Balas Alya dengan malas.


“Kenapa harus nunggu di luar? Kalo suami istri kan ga masalah kalo kakak nunggu di dalam.” Ucap Aciel.


“Diem deh kamu masih bocah ga boleh ngomongin masalah suami istri!” ketus Alya.


Tiba-tiba saja pintu kamar Alya terbuka dan keluarlah Arsenio dengan kaos hitam milik Kenan yang terlihat ketat di tubuhnya namun malah membuatnya terlihat bagus dan semakin gagah.


“Widih,,, kak Arsen gagah banget kak.” Puji Aciel yang terpesona dengan keindahan tubuh Arsenio.


Arsenio hanya tersenyum mendengar pujian dari adik iparnya, namun perhatiannya beralih ke arah Alya yang juga mematung melihat dirinya.

__ADS_1


“Gagah dong, lihat aja kakak kamu sampe terpesona begitu liatnya.” Ucap Arsenio sambil melirik Alya bermaksud untuk menyindirnya.


Mendengar sindiran dari Arsenio langsung membuat Alya tersadar dan dia segera memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Dih pede banget!” ketus Alya.


Alya segera menuruni tangga meninggalkan Arsenio dan Aciel di atas.


“Loh, kok turun sendirian lagi Al? di mana suami kamu?” tanya Khansa.


“Itu oma, di atas sama El, ntar lagi mereka turun kok.” Balas Alya.


Alya duduk di sofa kosong yang ada di sana karena dia yakin kalau oma nya akan melarangnya duduk di sebelah omanya.


Tidak lama kemudian, Arsenio dan Aciel menuruni tangga, Aciel duduk di sebelah Khansa, sedangkan Arsenio duduk di sebelah Alya karena Khansa lah yang menyuruhnya.


Akhirnya semua orang sudah berkumpul di sana, semuanya mulai berbincang-bincang dan mereka lebih penasaran dengan Arsenio. Tentu saja, itu karena hanya Arsenio lah yang asing di antara mereka, sedangkan yang lainnya sudah saling mengetahui.


“Kak Arsen, kakak ga punya temen yang ganteng lagi kayak kakak?” celetuk Karren yang memang frontal sekali.


“Karren..” tegur Bernard.


“Pap, ga apa-apa dong aku nanya doang kok.” Balas Karren.


“Aku punya banyak teman, tapi sepertinya aku tidak bisa mengenalkan mereka kepada kamu.” Balas Arsenio sambil terkekeh.


“Kenapa kak?” tanya Karren dengan mimik wajah yang kecewa.


“Karena mereka semua tidak baik, mereka memiliki “wanita” masing-masing.” Jelas Arsenio dengan wajah serius.


“Cih, emang kak Arsen ga punya “wanita”?” tanya Karren.


“Punya.” Balas Arsenio dengan cepat.


Mendengar jawaban dari Arsenio membuat semua orang terkejut dan menoleh ke arah Arsenio dengan tatapan tajam terutama Kenan.


“Wanita yang aku maksud itu Alya, kan sekarang dia istri aku jadi dia satu-satunya wanitaku entah dalam tanda kutip atau tidak.” Jelas Arsenio dengan gugup.


Baru kali ini dia merasa gugup di tatap dengan tajam oleh orang lain, biasanya orang lain lah yang gugup karena tatapan tajamnya.

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan dari Arsenio barulah semua orang bernapas lega dan tertawa serentak karena menurut mereka Arsenio ingin bercanda dengan mereka.


Hanya Alya saja yang tersenyum tipis saat itu karena dia tau kalau Arsenio memang memiliki wanita lain yang sampai saat ini keduanya masih memiliki hubungan.


__ADS_2