DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 64


__ADS_3

"Arsen! Lo mau terus kayak gini hah!?" ucap Ferdinand yang sudah emosi karena sudah tengah malam tapi Arsen masih tetap berada di depan laptopnya.


"Arsen, tolong lah lo jangan kayak gini terus, udah sebulan lo kerja sampe tengah malem gini, mau jadi zombie lo hah!?" ketus Ferdinand.


"Diem lo! Sampe lo ga berhasil nemuin istri gue, gue bakal terus kerja lembur kayak gini!" ketus Arsen.


"Lo kalo mau lembur di rumah aja jangan di kantor! Lo bikin gue jadi ikut lembur!" balas Ferdinand.


"Itu emang maksud gue! Gue lembur kerjaan lo lembur cari Alya sampe ketemu!" ketus Arsen.


Ferdinand benar-benar di buat pusing oleh Arsen, teman sekaligus atasannya itu benar-benar tidak bisa mengerti. Dia memang pernah bilang kepada Arsen untuk melupakan Alya sambil bekerja, tapi bukan berarti kerja lembur bagai kuda seperti ini.


Ferdinand benar-benar menyesal sudah mengatakan hal itu kepada Arsen.


"Ga usah perduliin gue! Sono lo cari istri gue sampe ketemu! Ga ada yang mau bantuin gue, jadi lo harus bantuin gue cari Alya!"


Arsen benar-benar seperti orang yang sedang kalap, kalap terhadap pekerjaannya, dia terlalu melampiaskan kekesalannya kepada laptop yang ada di hadapannya.


Arsen bahkan menyuruh orang-orangnya untuk mencari Anjali yang juga ikut menghilang bersamaan dengan Alya.


"Come on Arsen, gue janji gue akan mencari Alya sampai ketemu, tapi ga gini caranya, lo ga boleh terus terusan memforsir diri sendiri untuk bekerja seperti ini." Ucap Ferdinand yang kali ini nadanya terdengar sendu karena dia sudah lelah memberitahu sahabatnya itu.


"Gue ga bisa Fer, gue ga bisa lupain dia kalo ga kerja kayak gini, setiap tidur gue inget dia ada di samping gue, gue inget dia yang nyiapin baju gue, masakan dia yang khas banget, gue kangen semuanya.." ucap Arsen yang kini tidak meninggikan suaranya dan bahkan bisa terdengar suara serak seperti menahan tangis.


"Gue tau, lo pasti sedih gue tau Arsen, gue akan berusaha untuk ngebantu lo nemuin dia gimanapun caranya." ucap Ferdinand.


"Sekarang lo pulang ya, lo butuh makan dan istirahat, jangan biarin Alya ngeliat lo kayak sekarang, lo harus tetap terlihat tampan kalo suatu saat nanti lo ketemu Alya, biar dia ga ilfeel sama lo." lanjutnya.


Arsen hanya diam, saat ini penampilannya memang sangat berantakan, janggut dan kumis yang sudah mulai panjang, wajah yang tidak pernah terurus, dan badan yang mulai kekurangan gizi hingga membuat roti sobek Arsen mulai menghilang.


"Dia bukan perempuan seperti itu yang memandang seseorang sebelah mata!" ucap Arsen.

__ADS_1


"Gue tahu, tapi ingatlah kalau Alya bukan perempuan yang diam saja setelah hatinya terluka, dia akan menjadi orang yang lebih baik lagi dan lo ga akan pernah menduga perubahan apa yang terjadi kepada Alya selama ini." jelas Ferdinand yang membuat Arsen terdiam dan memikirkan kembali apa yang di ucapkan oleh Arsen.


***


Sedangkan di tempat lain, Bella yang baru saja selesai make up dan memakai pakaian di kejutkan dengan ketukan pintu di depan rumahnya.


Bella mengerutkan keningnya lalu dia berjalan keluar dari kamar untuk melihat siapa yang mengetuk pintu rumahnya sore sore seperti ini.


"Liam?" gumam Bella setelah melihat keluar dari jendela rumahnya.


"Hai!" sapa Liam dengan senyum lebarnya setelah Bella membukakan pintu rumahnya.


"Liam? Apa yang kamu lakukan sore-sore begini?" tanya Bella.


Liam dan Bella sudah mulai dekat selama sebulan ini, Liam juga menyempatkan diri setiap pagi untuk membawakan sarapan untuk Bella sebelum dia berangkat kerja.


Liam bukanlah laki-laki biasa, dia memiliki perusahaan di bidang properti dan memiliki saham di mana mana membuatnya sering ke luar kota untuk menghadiri rapat para pemegang saham di perusahaan lain.


Butiknya dia beri nama 'Arabella's boutique' yang baru berdiri beberapa hari namun sudah memiliki pelanggan tetap yang dari awal memang sudah menyukai desain-desain di butiknya.


"Kebetulan aku lewat sini, terus ada pempek Palembang kesukaan kamu." Balas Liam.


Bella hanya tersenyum melihat Liam membawakan pempek kesukaannya, sedangkan Liam baru sadar kalau Bella sudah rapih seperti ingin pergi.


"Kamu udah rapih mau ke mana?" tanya Liam.


"Usia kandunganku sudah masuk 8 Minggu dan selama ini aku belum pernah USG sama sekali, jadi aku berniat untuk ke rumah sakit dan melihat apakah bayiku sehat." Jelas Bella.


"Kalau begitu aku akan mengantarmu." ucap Liam.


"Tidak perlu Liam, aku tidak mau terus-menerus merepotkanmu." ucap Bella.

__ADS_1


"Kamu sama sekali tidak merepotkan Bel, aku senang bisa membantu dan aku sangat tidak sabar melihat anakmu." ucap Liam.


"Orang akan berpikir kalau kamu adalah ayah dari anakku karena terlalu berlebihan." Canda Bella.


"Tidak apa, aku juga tidak keberatan kalau memang anakmu kelak mau menjadikanku ayahnya." Balas Liam yang membuat Bella menatap mata Liam beberapa detik.


"Pffttt, jangan bercanda Liam, aku masih memiliki suami dan sedang mengandung anak suamiku, jangan pernah berpikir hal yang tidak-tidak karena aku tidak pernah membuka hati untuk laki-laki lain." jelas Bella sambil tertawa kecil.


"Aku tau, tapi tidak salah kan kalau berusaha?" tanya Liam.


"Salah! Jadi lupakan saja dan kamu lebih baik pulang karena aku sudah memanggil taxi online." balas Bella.


Liam hanya menghela napas panjang mendengar jawaban Bella, walaupun awalnya bercanda tapi kali ini dia sepertinya memang sudah menyukai Bella terlebih karena kepribadiannya yang sangat baik.


"Aku tetap akan mengantarmu, batalkan saja pesanan taxi online nya." ucap Liam.


Tin tin... Tiba-tiba saja suara klakson mobil terdengar membuat perhatian Bella dan Liam teralih ke asal suara.


"Lihat kan? Mobilnya sudah datang jadi lebih baik kamu pulang." ucap Bella yang langsung berbalik untuk masuk ke dalam rumah mengambil tasnya.


Setelah selesai mengambil tasnya, Bella kembali ke depan rumah. Namun dia terkejut karena dia tidak melihat taxi online yang tadi ada di depan halaman rumahnya.


"Loh, kemana taxi online yang aku pesan?" tanya Bella dengan kening yang di kerutkan.


"Sudah pulang, katanya supirnya mules jadi buru-buru mau pulang, ayo aku antar." balas Liam sambil tersenyum.


Bella hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tahu kalau semua itu pasti ulah Liam.


"Terserah kamu deh!" ucap Bella dengan pasrah yang di balas senyuman lebar dari Liam.


Liam segera berjalan ke arah mobil dan langsung membukakan pintu untuk Bella yang masih mengunci pintu rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2