
Hari ini, May, Jay dan Alya menemani Arsen ke bandara karena hari ini Arsen akan pergi ke Belanda untuk mengurus pekerjaan di sana.
“Papa jangan lama-lama di sana ya.” Ucap May.
“Papa cepetan balik ke sini lagi ya pa.” sahut Jay.
“Iya anak-anak papa, papa pasti akan langsung kembali ke sini setelah semuanya selesai.” Ucap Arsen dambil mengusap rambut kedua anaknya.
“Kalian berdua janji tidak boleh nakal dan membuat mama kalian kesulitan ya? Tidak boleh sering bermain game dan tidak boleh bangun kesiangan.” Ucap Arsen kembali sambil mengingatkan kedua anaknya yang memiliki kebiasaan buruk sampai membuat Alya harus berteriak mengingatkan keduanya.
“Iya pa, kami tidak akan membuat mama kesulitan kok.” Ucap Jay yang di angguki oleh May.
“Baiklah, belajar yang rajin karena setelah ini papa akan memasukkan kalian ke universitas terbaik yang ada di Belanda.” Ucap Arsen.
“Papa tenang saja, kalau masalah itu kita pasti akan lulus dengan nilai terbaik!” seru Jay.
“Good!” seru Arsen sambil mengacungkan jempol nya.
Ferdinand yang baru saja tiba untuk menjemput Arsen pun langsung menghampiri keluarga kecil itu.
“Tuan, sudah waktunya untuk penerbangan kita.” Ucap Ferdinand.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu, jaga mama kalian ya, kalau nanti ada cowok yang deketin mama kalian, kalian langsung usir aja oke?” bisik Arsen kepada kedua anaknya.
“Siap bos!” seru May dan Jay sambil mengangkat tangan kanannya ke pelipis seperti sedang hormat.
“Kalian ngomongin apa sih kok bisik-bisik?” tanya Alya penasara.
“Udah deh mama jangan kepo, ini urusan bisnis!” sahut Jay yang membuat Alya memanyunkan bibirnya.
“Uncle, jaga papa ya! Kalo sampe papa lecet sedikit aja nanti May bakal marahin uncle Ferdi!” ucap May dengan tegas.
“Siap tuan putri!” seru Feridnand dengan sigap.
“Jangan biarin papa deket-deket sama cewek lain ya uncle.” Ucap May kembali.
Setelah cukup lama berpamitan, barulah Arsen dan Ferdinand segera berangkat ke Belanda meninggalkan Alya, May dan Jay yang masih berdiri di tempatnya sambil melambaikan tangan mereka ke arah Arsen.
Arsen pun terus melihat ke belakang sambil tersenyum, bahkan tubuhnya hampir bertabrakan dengan tiang jika tidak di tarik oleh Ferdinand.
“Tuan, apa tuan tidak bisa berhati-hati?” tanya Ferdinand.
“Sorry Fer, aku masih berat banget ninggalin mereka.” Balas Arsen.
__ADS_1
“Sabar tuan, selesaikanlah pekerjaan tuan dengan cepat lalu segera kembali kemari untuk menjemput mereka.” Ucap Ferdinand.
“Hem, kamu benar!” balas Arsen sambil menganggukkan kepala.
Setelah melihat Arsen dan Ferdinand sudah tidak terlihat lagi, Alya pun mengajak anak-anak mereka untuk pulang ke rumah.
“Papa akan kembali menjemput kita kan ma?” tanya May.
“Tentu saja sayang, papa pasti akan menepati janjinya.” Balas Alya.
Alya tau kekhawatiran anak-anaknya, karena sejak lahir mereka tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah, walaupun Liam selalu ada untuk mereka dan memberikan kasih sayang yang tulus kepada keduanya, tapi tentu saja rasanya berbeda di bandingkan dengan kasih sayang ayah kandung mereka.
Sebenarnya bisa saja Alya menerima perasaan Liam membuat anak-anaknya jadi memiliki seorang ayah, tapi sayangnya Alya tidak mau memaksakan perasaannya yang akan menyakiti hati Liam juga nantinya.
Toh Liam masih muda dan sukses, dia bisa mendapatkan wanita yang lebih baik di bandingkan dengan Alya. Terlebih rasa cinta Alya kepada Arsen begitu besar membuat wanita itu tidak bisa membuka hatinya untuk laki-laki lain.
“May, ayo sampai di rumah langsung belajar bersama!” ajak Jay yang di balas anggukan oleh May.
“Hari ini hari libur loh, kalian ga mau main game? Atau nonton drakor?” tanya Alya yang tau kalau hari libur adalah waktu ‘me time’ bagi anak-anaknya.
“Engga ma, sampai hari kelulusan nanti kita akan memakai waktu libur untuk belajar.” Ucap Jay dengan tegas.
__ADS_1
“Kalian yakin?” tanya Alya memastikan.
May dan Jay kompak menganggukan kepala mereka dan segera berjalan berdampingan mendahului mamanya yang masih diam di tempatnya sambil melihat anak-anaknya yang terlihat bersemangat untuk mendapatkan nilai yang sempurna.