
Semua orang sudah berkumpul di meja makan dan mulai menikmati sarapan mereka dengan tenang, kecuali satu orang.
Ya, satu orang itu adalah Arsenio, dia benar-benar tidak bergerak, rasanya seperti orang yang sedang mematung membuat Alya yang duduk di sebelahnya menyadari tingkah Arsenio.
“Kamu kenapa diem aja?” tanya Alya dengan berbisik.
Arsenio menggeleng sedikit lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Alya “Ini makanan apa?” tanya Arsenio dengan nada yang bingung.
Alya sedikit terkejut dengan pertanyaan Arsenio, lalu sedetik kemudian Alya baru tersadar kalau laki-laki itu memang bule tulen, tentu saja dia tidak mengenal makanan-makanan Indonesia yang biasa di masak di rumah Alya.
Walaupun Arsenio memiliki keturunan Indo dan bisa berbahasa Indonesia sedikit-sedikit, tapi sejak lahir sampai saat ini dia tinggal di luar negeri, tentu saja dia tidak pernah memakan makanan yang ada di depannya saat ini.
Alya yang awalnya terdiam beberapa detik sambil berpikir seketika tertawa keras membuat semua orang terkejut dan langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Alya dengan tatapan aneh karena tidak biasanya Alya tertawa di tengah-tengah sarapan.
“Alya! Ga sopan ketawa gede banget masih makan juga.” Tegur Kenan.
“M-maaf pi, maaf semuanya Alya ga bisa nahan ketawa ini.” Ucap Alya yang berusaha untuk menghentikan tawanya.
“Kamu kenapa sih Al? ada yang lucu?” tanya Belinda.
Arsenio sadar kalau Alya pasti sedang menertawakannya, dia langsung berbisik kepada Alya.
“Kamu ngetawain aku ya?” bisik Arsenio.
“Kak, kenapa sih?” tanya Aciel yang ikut penasaran.
Alya menghirup udara dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan hingga tawanya mulai berhenti dan dia berniat untuk menjelaskan kepada semua orang hal yang membuatnya tertawa.
“Maaf ya, Al bukannya mau bersikap ga sopan, tapi Al ngetawain Arsen lucu banget.” Ucap Alya.
“Kenapa memangnya Arsen?” tanya Kalandra.
“Opa, tadi Al bingung soalnya Arsen cuma diem aja ga makan-makan, terus pas Al tanya dia malah balik tanya makanan ini makanan apa.” Ucap Alya yang kembali terkekeh.
“Yaampun Arsen maaf ya, mami lupa kalau kamu tidak biasa makan makanan ini.” Ucap Belinda yang baru sadar kalau anggota keluarga baru mereka tidak familiar dengan makanan Indonesia.
__ADS_1
“Ga apa-apa mi, dia harus biasa karena memiliki istri yang berasal dari Indonesia, lama-lama juga terbiasa kok.” Ucap Alya.
“Iya kan?” ucap Alya sambil menoleh dan tersenyum manis ke arah Arsenio.
Arsenio hanya melirik kesal ke arah Alya, lalu dengan terpaksa dia mengangguk saat melihat Belinda yang terlihat berharap kepadanya.
“Itu nasi goreng buatan kak Al kak, enak banget deh soalnya kak Al jago masak apa lagi masak nasi goreng.” Sahut Azzura saat menyadari kalau Arsenio terus melirik ke arah nasi goreng yang berada tepat di hadapannya.
“Kak Al, ambilin nasi gorengnya buat kak Arsen, kayaknya dia penasaran banget.” Sahut Karren.
Alya mengangguk lalu mengambil piring Arsenio dan mulai menyendok nasi goreng sedikit, lalu mengambil rollade buatannya dan juga telur mata sapi.
“Ini rollade di sini pasti ada kayak gini, tapi ini buatan tangan sendiri bukan yang instan yang tinggal goreng, kalo ini telur mata sapi, di sini juga ada tapi setengah mateng kalo yang ini mateng.” Ucap Alya menjelaskan satu per satu kepada Arsenio.
“Nih makan.” Ucap Alya sambil menyodorkan piringnya ke Arsenio.
Namun bukannya di ambil, Arsenio semakin merasa aneh karena dia tidak pernah memakan makanan seperti itu, setiap sarapan dia hanya makan roti atau spaghetti, sedangkan kalau siang dan malam dia hanya makan steik saja.
Alya yang geregetan langsung menarik kembali piring itu dan menyuapi makanan itu ke Arsenio.
Arsenio awalnnya memundurkan kepalanya, lalu akhirnya dia membuka mulutnya dan membiarkan Alya untuk menyuapinya karena Azzura dan Karren terus bersorak menyuruhnya membuka mulut.
Hap! Arsenio langsung melahap makanan di sendok yang Alya berikan, lalu seketika dia mematung sesaat sebelum akhirnya mulai mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
“Enak kan?” tanya Alya sambil tersenyum miring.
Arsenio mengangguk perlahan sambil melihat ke semua orang yang ada di meja makan membuat mereka semua tertawa melihat ekspresi wajah Arsenio yang terkejut karena rasa yang baru pertama kali dia rasa.
“Enak kan? Itu adalah buatan Al, jadi kalau kamu memang menyukainya kamu bisa meminta Al untuk membuatkannya untukmu.” Ucap Kenan.
“I-ini buatan Al? benarkah?” tanya Arsenio yang langsung melotot sambil melihat ke arah Alya dengan tatapan tidak percaya.
Alya yang merasa kalau Arsernio sedang meremehkannya langsung menaruh piringnya dan langsung bersedekap dada sambil menatap ke sinis ke arah Arsenio.
“Kau sedang meremehkan aku sekarang?” tanya Alya dengan nada kesalnya.
__ADS_1
“Bukan begitu, aku cuma sedikit kaget aja ternyata kamu bisa masak.” Balas Arsenio dengan santainya.
Arsenio tersenyum manis ke arah Alya sambil mengangkat piringnya yang ada di meja, lalu dia menyodorkannya ke arah Alya membuat wanita itu bingung.
“Kenapa di kasih ke aku?” tanya Alya.
“Suapin lagi, ternyata enakan di suapi kalo makan.” Balas Arsenio dengan santainya.
“What? Makan sendiri! Tangan kamu baik-baik aja jadi ga perlu di suapin.” Ketus Alya.
“Please... Hari ini aja ya, lain kali aku ga minta di suapin deh janji.” Ucap Arsenio memohon.
“Yaampun Al, udah sana suapin aja, pengantin baru emang begitu suka manja.” Sahut Khansa.
Alya hanya mengendus kesal lalu segera mengambil alih piring yang di pegang oleh Arsenio dan mulai menyuapkan se sendok demi se sendok nasi goreng yang tersisa di piring.
“Yaampun yaampun, pagi ini kayaknya menggoda iman sekali ya.. Mam, mami Karren mau nikah aja.” Ucap Karren sambil menyindir Arsenio dan Alya yang menurut Karren sangat mesra.
“Karren, jangan menggoda kakakmu! Ayo habiskan makananmu, kita akan segera pulang.” Tegas Key yang tau bagaimana malunya jika ada seseorang yang mengejeknya saat masih pengantin baru.
Akhirnya semua orang memakan sarapan mereka dengan tenang kecuali Alya karena dia harus menyuapi bayi besarnya dulu sebelum dia menghabiskan sarapannya.
Arsenio melahap sarapannya dengan lahap, dia sangat menyukai masakan Alya bahkan sampai nambah sekitar dua kali.
“Ini banyak sekali loh kamu masih mau nambah?” tanya Alya.
“Emangnya udah habis? Mungkin karena baru pertama kali ngerasain jadi mau nambah terus.” Ucap Arsenio yang seketika teringat kalau di sekitarnya ada keluarga besar istrinya.
“Maaf.” Ucap Arsenio kepada semuanya.
“Tidak apa Arsen, makanlah yang banyak, kita malah senang karena seorang bule tampan menyukai makanan negara kita.” Ucap Kalandra yang di balas anggukan oleh semua orang.
Arsenio merasa terharu, dia tidak percaya baru kali ini dia makan bersama keluarga besar dengan keadaan yang harmonis, dia bisa melihat mereka saling mengambilkan lauk dan menaruh di piring masing-masing, sesekali ada orang yang bercanda sehingga acara makan mereka tidak canggung sama sekali.
Sangat berbanding terbalik dengan keluarganya yang sama sekali tidak harmonis, tidak semua orang bisa duduk bersama di meja makan, saat makan keadaan sangat canggung karena tidak ada yang mulai pembicaraan, sekalipun berbicara pasti yang di bicarakan adalah tentang perusahaan.
__ADS_1
Seluruh keluarga Arsenio di penuhi dengan rasa haus akan kekuasaan dan berlomba untuk menjadi yang paling sukses antar saudara sendiri, sedangkan keluarga Alya, mereka justru saling mensupport satu sama lain agar keluarga yang lain bisa lebih sukses lagi.