
Hai kakak-kakak maaf karena author lama tidak up, author sedang liburan keluarga sampai tidak sempat untuk membuat cerita huhuhu🙏🙏
Tapi author usahakan akan terus update agar kakak-kakak semuanya tidak lama menunggu~ Saranghaeee đź’™
...****************...
Hari sudah malam dan semua orang langsung masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk beristirahat, begitu juga dengan Alya dan Arsenio yang sudah berada di kamar mereka dan sudah bersiap untuk tidur.
“Apa tanganmu benar baik-baik saja?” tanya Arsenio kepada Alya.
“Yaampun Arsen, ini udah pertanyaan kesekian kali loh ya, aku baik-baik saja kok tenang saja.” Balas Alya.
“Aku takut kalau luka itu akan infeksi, kamu yakin ga mau ke dokter aja?” tanya Arsenio.
“Aku ga apa-apa, aku udah biasa nanganin hal kayak gini kamu tenang aja ya, ga perlu sampe ke dokter kok.” Balas Alya meyakinkan.
“Baiklah kalau begitu ayo kita tidur.” Ajak Arsenio.
Alya segera menghentikan kegiatannya yang saat itu sedang memakai skincare malamnya, dia langsung menoleh ke arah suaminya yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur sambil membaca buku.
Padahal Arsenio hanya mengajaknya tidur karena hari sudah malam, tapi di pikiran Alya berbeda, wanita itu mengira kalau Arsenio sedang meminta haknya.
Seketika Alya mengingat ucapan maminya dan juga omanya, apapun alasannya Alya harus siap saat suaminya meminta haknya.
Bahkan aunty Chyntia sempat memberikan paper bag yang di suruh di buka saat sudah di Bali dan memakainya saat mau tidur, Alya pun baru ingat dan langsung mengambil paper bag pemberian aunty Chyntia dan berjalan ke kamar mandi.
“Bentar ya aku ke kamar mandi dulu.” Ucap Alya sambil berjalan terus masuk ke dalam kamar mandi.
Arsen sama sekali tidak melihat Alya karena dia masih fokus dengan buku yang dia baca, Arsen hanya berdehem saat Alya bilang mau ke kamar mandi.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Alya berdiri di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi dan membuka paper bag yang tadi dia bawa ke dalam kamar mandi.
Matanya melotot saat dia mengeluarkan isi yang ada di dalam paper bag itu, dia tidak percaya kalau ternyata aunty Chyntia memberi Alya sebuah pakaian kekurangan bahan berwarna merah cabai benar-benar sangat mencolok.
__ADS_1
Tentu saja Alya tau pakaian apa itu, dia juga sudah besar dan pernah bermimpi akan melakukan malam pertama dengan suaminya, tentu saja Alya juga membeli pakaian seperti itu saat dia mau menikah dengan Tommy waktu itu.
Tapi itu dia persiapkan untuk orang yang dia sukai, tapi Arsen? Apa dia sudah menyukai Arsen? Apa Arsen benar-benar akan berusaha untuk membuka hati untuknya dan tidak akan meninggalkannya? Alya juga tidak tau akan hal itu.
Namun setelah dia berpikir sejenak, dia akhirnya memakai pakaian transparan itu dengan perasaan penuh keraguan. Alya terus menerus menghela nafas panjang saat memakai pakaian itu karena dia sangat malu bahkan pipinya sangat merah.
Sebelum memakai pakaian tipis itu, Alya lebih dulu membersihkan tubuhnya sampai ke daki-dakinya, dia bahkan mencukur bulu-bulu yang ada di setiap tubuhnya tanpa terkecuali, karena sebentar lagi Arsen akan melihat seluruh tubuhnya tanpa sehelai benangpun dan tentu saja itu membuat Alya harus bersiap.
Setelah menyelesaikan semua ritualnya dan memakai pakaiannya, Alya mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, tentu saja itu membuat jantung Alya semakin berdetak dengan cepat.
Wajahnya semakin memerah saat langkahnya semakin mendekati Arsen yang berada di atas tempat tidur.
Alya berdiri terus di tempatnya sambil menunduk malu, sedangkan Arsen yang sudah merasakan kalau Alya sedang berdiri di depan tempat tidur langsung mendongak untuk melihat dari balik bukunya.
Betapa terkejutnya dia saat melihat pemandangan yang sangat menggoda imannya itu, bagaimana tidak? Penampilan Alya dengan pakaian tipis itu membuat Arsen bergairah hingga membuat adik kecilnya berdiri tanpa sadar.
“A-alya? A-apa yang kamu pakai?” tanya Arsen yang saat ini sudah menaruh bukunya di atas tempat tidur dan fokus melihat ke arah sang istri.
“I-iya memang sih tapi bukan begini maksudnya.” Balas Arsen yang membuat Alya terkejut.
Bukan itu? Bukan meminta haknya? Dia hanya murni menyuruh Alya istirahat saja? Alya benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini, dia sangat malu dan langsung berlari masuk kembali ke dalam kamar mandi.
Arsen yang melihat Alya berlari masuk ke dalam kamar mandi lagi akhirnya segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi juga untuk menyusul Alya.
“Al...” panggil Arsen sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, tentu saja Arsen tahu kalau istrinya itu pasti sedang malu karena salah paham dengan ucapannya.
“Al, kenapa kamu masuk kamar mandi lagi?” tanya Arsenio dari luar pintu.
“Jangan kesini, aku ga mau di lihat kamu.” Teriak Alya dari dalam kamar mandi.
“Keluarlah, bukankah tubuhmu itu adalah hakku? Jangan malu ayo keluarlah.” Ucap Arsen.
__ADS_1
“Engga mau, aku hanya salah mengartikan kata-katamu saja barusan, pergilah aku mau mengganti pakaianku lagi.” Ucap Alya.
“Jangan di ganti, aku lebih suka kamu yang seperti itu.” Balas Arsen.
Alya diam sejenak, lalu seketika terdengar bunyi pintu yang di buka dan keluarlah kepala Alya dengan wajah yang merah.
Arsen yang melihat istrinya sudah mengeluarkan kepalanya langsung ikut menoleh dan tersenyum manis.
“Ayo keluarlah.” Ajak Arsen yang membuat pipi Alya semakin memerah.
“Kamu terlihat semakin menggoda saat pipimu memerah seperti itu.” Puji Arsen yang membuat Alya memanyunkan bibirnya.
“Jangan menggodaku terus!” ketus Alya.
Arsen hanya tertawa lalu dia mengulurkan tangannya untuk meminta Alya keluar dari kamar mandi. Dan dengan ragu Alya membalas uluran tangan Arsen dan akhirnya dia sekarang sudah keluar dari kamar mandi dengan sempurna.
Tentu saja hal itu membuat Arsen bisa melihat seluruh tubuh Alya dari balik pakaiannya yang transparan itu, dan saat ini adik kecilnya semakin meronta ingin segera di keluarkan.
"Tidak bisa, aku tidak bisa menahannya lagi." ucap Arsen yang langsung menggendong tubuh Alya ala bridal style.
Tentu saja Alya terkejut dengan apa yang di lakukan Arsen, dia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya menahan rasa malunya.
Arsen membaringkan tubuh Alya di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati. Sedangkan Alya masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Arsen tersenyum melihat tingkah istrinya, dia tidak menyangka kalau wanita yang membuat adik kecilnya berdiri adalah wanita seperti Alya.
Wajah cantik Alya, wangi tubuh Alya, sikap malu-malu Alya, semuanya yang ada pada diri Alya bisa membuat bulu kuduk Arsen berdiri bahkan sampai adik kecilnya.
Selama ini Arsen memang sering menyewa wanita malam, hanya saja Arsen hanya menyuruh mereka untuk memainkan adiknya dengan mulut mereka sampai tuntas.
Arsen tidak pernah menembus lubang wanita manapun terutama kekasihnya. Arsen ingin menjaga kekasihnya agar tidak rusak sebelum menjadi istrinya.
Dan sekarang, adik kecilnya berdiri dengan gagahnya, keegoisannya menguasai pikirannya saat ini, dia tidak perduli apakah Alya siap atau tidak, yang ada di pikirannya saat ini adalah meminta haknya sebagai seorang suami.
__ADS_1