
Mayden Aurora dan Jayden Arsena, putra dan putri dari pasangan Alya dan Arsen yang sampai detik ini, saat usia mereka sudah lima belas tahun, Arsen sama sekali tidak mengetahui kalau ternyata dia memiliki anak-anak yang sangat cerdas dan memiliki kecantikan dan ketampanan yang luar biasa.
Hari ini Arsen dan Ferdinand sudah tiba di Indonesia, keduanya langsung pergi ke rumah yang baru saja Arsen beli di dekat rumah Bella.
Ya, Arsen sudah mengetahui alamat lengkap Bella dan langsung membeli rumah yang berada di sebrang rumah Bella.
Walaupun dia sudah memiliki rumah di Indonesia, tapi tetap saja laki-laki itu membeli rumah agar bisa dekat dengan Bella terus.
Arsen masih belum tahu kalau Alya memiliki anak saat ini, karena memang dia baru saja tiba dan belum melihat Alya sama sekali.
"Sen, lo ga bisa duduk aja gitu?" tanya Ferdinand yang kesal karena Arsen terus saja berdiri di jendela untuk mengintip Alya.
"Diem deh lo, gue penasaran! Udah lima belas tahun, apa dia sudah berubah atau masih tetap Alya yang dulu gue kenal." balas Arsen.
"Gue ingetin ya, gue mau ikut lo ke sini sekarang karena kebetulan kita ada acara penting malam ini." ucap Ferdinand.
Mendengar ucapan Ferdinand membuat Arsen langsung menoleh ke arah asistennya itu dengan kening yang di kerutkan.
"Maksudnya? Kita ada acara apa?" tanya Arsen.
"Yaampun Arsen! Lo lupa kemarin gue kasih tau kalo kita ada undangan pesta perayaan sepupunya Lili." Balas Ferdinand.
"Ah iya aku lupa, siapa namanya?" tanya Arsen.
"Liam! Namanya Liam Sen, dulu kita pernah ketemu beberapa kali saat SMA." balas Ferdinand.
"Entahlah aku lupa." ucap Arsen yang langsung kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Arsen terus menunggu dan menunggu sampai akhirnya hari pun sudah mulai petang namun tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.
"Kenapa ga ada orang? Apa dia selalu pulang malam?" gumam Arsen.
"Sudahlah ayo kita bersiap dan berangkat ke pesta." Ajak Ferdinand.
"Lo aja deh yang berangkat Fer, gue mau nunggu Alya kembali di sini." Tolak Arsen.
"Jangan ngaco! Ini acara keponakan aunty Chyntia, ga enak kalo lo ga dateng ke acara itu." tegas Ferdinand.
Akhirnya dengan pasrah dan sambil menghela napas panjang, Arsen segera menuruti ajakan Ferdinand.
Kedua laki-laki gagah dan tampan itu akhirnya bersiap untuk ke acara pesta perusahaan Liam.
__ADS_1
Ini adalah pesta pembukaan perusahaan mode baru yang di buat oleh Liam sendiri tanpa campur tangan keluarganya.
***
Dentuman musik dan juga suara dari pembawa acara terdengar ke penjuru ruangan, sehingga May dan Jay yang sejak tadi di panggil oleh Bella tidak bisa mendengar suara mamanya itu.
Bukannya menyahut, May dan jay yang tidak kedengaran itu malah dengan semangat berlari entah ke mana membuat Bella semakin pusing dengan tingkah kedua anaknya itu.
"Yaampun anak-anak itu!" gumam Bella sambil memegang kepalanya yang tidak pusing.
"Bel, kamu dari tadi bingung nyari siapa?" tanya Liam yang sejak tadi seperti ingin mengejar seseorang namun tertahan.
"Itu biasa, May dan Jay ga tau deh di mana, aku takut mereka bikin keributan di pesta kamu." balas Bella.
"Tenang saja, mereka tidak akan membuat keributan kok, mereka berdua anak yang pintar." balas Liam yang di balas helaan napas dan anggukan pelan oleh Bella.
"Tapi tetap saja aku merasa khawatir, bisakah aku mencari mereka sebentar? Aku hanya memastikan saja kalau mereka tidak membuat masalah." pinta Bella.
"Baiklah, tapi segera kembali karena kita akan naik ke atas panggung sebentar lagi." balas Liam.
Bella hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, dia akhirnya segera berjalan ke halaman belakang, tempat di mana anak-anaknya itu pergi.
Kebetulan perusahaan yang di miliki Liam memiliki halaman dan juga kolam renang yang di peruntukkan untuk tamu hotel yang berkunjung di sana.
Entah apa maksudnya tapi Liam memang suka memiliki ide yang aneh, kalau kata Liam hotel menyatu dengan mall itu sudah biasa, itulah kenapa dia membuat hotel yang menyatu dengan perusahaan.
Dia ingin rekan bisnis nya yang berasal dari luar negara bisa menyempatkan diri untuk beristirahat di hotelnya dan menikmati semua fasilitas yang ada.
Sedangkan di sisi lain, Arsen dan Ferdinand yang sudah tiba di perusahaan Liam segera masuk ke dalam untuk mencari keberadaan Liam.
Ferdinand masih belum bisa menemukan Liam, namun kedua mata Arsen bisa menangkap sosok wanita yang selama ini dia cari sedang mengobrol dengan seorang laki-laki sambil tersenyum manis.
"Apa dia Alya? Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, kalau benar itu adalah dia, beraninya dia tersenyum kepada laki-laki lain!" gumam Arsen dengan tangan yang mengepal menahan kesal.
Melihat wanita yang seperti Alya itu pergi membuat Arsen dengan segera mengikutinya, meninggalkan Ferdinand yang masih bingung mencari keberadaan Liam.
Arsen tidak memperdulikan hal itu saat ini karena memang dia tidak ingat bagaimana wajah Liam.
Yang di pikirkan Arsen saat ini adalah mengikuti wanita itu entah ke mana.
Laki-laki itu terus berjalan sampai akhirnya dia tiba di halaman belakang, langkahnya terhenti saat melihat wanita yang sangat dia rindukan.
__ADS_1
Amat sangat dia rindukan karena udah lima belas tahun ini mereka terpisah dan selama itu juga Arsen selalu mencarinya.
Dia melihat Alya yang sedang berdiri di tepi kolam renang sambil membenarkan heelsnya yang sedikit longgar.
Arsen berjalan selangkah demi selangkah, namun langkahnya terhenti saat melihat seorang laki-laki menghampirinya.
"Bel, ayo kita masuk, acara akan segera di mulai." ajak Liam.
"Tapi Liam, aku belum menemukan anak-anak." blas Bella.
"Tidak masalah, mereka anak baik dan cerdas, tidak mungkin mereka melakukan hal yang akan membuat kamu marah." jelas Liam.
Akhirnya Bella pasrah lalu dia mengangguk mengikuti Liam kembali masuk ke dalam karena acara sambutan akan segera di mulai.
Keduanya masuk ke dalam tanpa melihat ke arah Arsen sama sekali karena memang di sana ada cukup banyak orang yang membuat Bella dan Liam tidak melihat keberadaannya.
Arsen menatap tajam ke arah dua orang yang saat ini sedang lewat di hadapannya. Rasanya sakit melihat istrinya bersama dengan laki-laki lain.
Arsen terus mengikuti kedua orang itu tanpa melihat ke sekitarnya sampai akhirnya...
Brakkk!!! Tiba-tiba saja Arsen menabrak seseorang sampai membuat minuman yang di pegang orang itu jatuh ke bawah.
"Duh om kalo jalan lihat-lihat dong! Untung jatohnya ke bawah, kalo sampe kena jas om pasti aku di suruh ganti rugi!" ketus anak tersebut yang tidak lain adalah Jayden.
Arsen menatap tidak suka ke arah Jay, dia kesal karena di ganggu saat Arsen sudah menemukan Alya dan mau mengikutinya.
"Lain kali kalo main jangan sembarangan, di mana sih orang tuanya? Nanti mereka cariin kamu!" balas Arsen dengan nada ketus juga.
Arsen tidak mau berlama-lama, dia langsung melanjutkan langkahnya masuk ke dalam gedung.
Mayden yang sejak tadi berada di belakang Jayden langsung menggenggam lengan saudara kembarnya itu.
"Dia kan..."
"Iya, aku tau dia papa kita, tapi menyebalkan!" potong Jayden yang sudah mengerti apa yang mau di katakan oleh Mayden.
Sedangkan Arsen yang sudah masuk ke dalam langsung di cegat oleh Ferdinand.
"Lo ngilang malah buat masalah sama bocah Sen! By the way, anak itu mirip sama lo waktu kecil deh." ucap Ferdinand.
__ADS_1
"Apaan sih lo, jangan samain gue sama bocah ingusan itu!" ketus Arsen yang langsung berjalan meninggalkan Ferdinand begitu saja.