DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 35


__ADS_3

Di dalam mobil, suasana seketika hening karena Arsenio fokus menyetir sedangkan Alya fokus melihat ke luar jendela, hingga tiba-tiba Arsenio memulai pembicaraan.


“Al, lain kali jangan pernah meminta maaf kepada mereka semua kalau kamu merasa tidak bersalah.” Ucap Arsenio.


“Kenapa? kan ga ada salahnya kalo meminta maaf kalaupun aku ga salah, dari pada masalahnya jadi panjang kan harus ada yang ngalah.” Balas Alya.


“Terus kamu mau selamanya mengalah? Mereka akan terus menindasmu kalau kamu terus menerus mengalah dan meminta maaf, lain kali kamu juga harus tegas dengan mereka agar mereka tidak menindasmu lagi.” Ucap Arsenio.


“Apa begini cara yang kamu bilang bisa menangani keluargaku?” tanya Arsenio.


“Ini salah satu cara yang paling mudah, aku hanya mencari cara yang mudah tanpa bertengkar.” Balas Alya.


“Kamu adalah istri Arsenio, Arsenio tidak pernah mau tertindas oleh siapapun, begitu juga denganmu, aku tidak ingin istriku tertindas, jadi tegaslah kepada mereka agar mereka tidak bisa meremehkanmu dan mereka tidak menganggap kamu adalah kelemahanku.” Ucap Arsenio.


Mendengar ucapan Arsenio membuat Alya tersadar, dia baru menyadari kalau dengan cara dia mengalah begitu bisa membuat semua orang berpikir kalau kelemahan Arsenio adalah istrinya, mereka akan mencelakai aku suatu saat nanti untuk menjatuhkan Arsenio dan Alya tidak mau hal itu terjadi.


“Baiklah, aku tidak akan pasrah seperti tadi lagi, aku akan menjadi kuat dan menunjukkan kepada mereka kalau istri Arsenio tidak bisa tersentuh sama sekali.” Ucap Alya.


Arsenio tersenyum sambil menganggukkan kepala, dia juga mengelus rambut panjang Alya dengan lembut.


Sampai akhirnya mereka tiba di perusahaan Arsenio, terlihat sangat besar dan memiliki lantai yang bertingkat-tingkat.


Saat Arsenio dan Alya berjalan masuk ke dalam perusahaan, semua karyawan menghentikan aktifitasnya dan menunduk menyapa Arsenio, ada beberapa karyawan yang tersenyum genit padahal Arsenio tidak menoleh ke arah mereka, ada juga yang menatap sinis ke arah Alya lalu saling berbisik.


Alya merasa biasa saja, dia juga tau kalau hal itu pasti terjadi karena seorang Arsenio yang memiliki banyak sekali penggemar membawa sorang wanita asing yang entah berasal dari mana.


Awalnya Alya berjalan di belakang Arsenio, dia sengaja melambatkan langkahnya agar tidak terlalu mencolok, lalu tiba-tiba Arsenio berhenti dan menoleh ke belakang membuat Alya ikut menghentikan langkahnya.


Arsenio memberi kode melalui kepalanya untuk menyuruh Alya berjalan di sebelahnya, namun Alya menggeleng perlahan dan tangannya mengayun menyuruh Arsenio untuk berjalan lebih dulu.


Namun bukannya menurut, Arsenio malah berjalan mendekati Alya dan menggandeng tangan istrinya itu membuat semua karyawan semakin gencar menggosip dan hal itu membuat Alya menundukkan kepalanya agar semua karyawan tidak melihat wajahnya.


Saat masuk ke dalam lift, Alya langsung menarik tangannya membuat gandengan tangan Arsenio terlepas.


“Kenapa kamu malah gandeng tangan aku sih? Harusnya tadi kamu jalan duluan aja.” Ucap Alya kesal.


“Kamu ini kenapa sih? Aku ga suka kalau kamu jalan di belakang aku.” Balas Arsenio.

__ADS_1


“Kamu ga lihat semua karyawati tadi ngeliat aku kayak mau makan aku begitu?” tanya Alya.


“Ya emangnya kenapa? baru tadi aku bilang kalau kamu tidak boleh merasa tertindas, kamu harus tegas, tegakkan bahumu dan jangan memperlihatkan sifat baikmu.” Jelas Arsenio.


Memang dasarnya orang yang baik, Alya tidak bisa menghilangkan kebiasaannya untuk berbuat baik kepada orang lain, Alya lebih suka mengalah dari pada membuat masalah semakin besar.


“Bisakah kamu jadi orang jahat sekali saja?” tanya Arsenio.


“Kamu ini suami macam apa yang menyuruh istrinya jadi jahat?” balas Alya tidak suka.


“Maksudnya bukan jahat dalam artian itu, maksudnya tegaslah kepada siapapun terutama keluargaku dan karyawanku.” Ucap Arsenio.


“Ya aku akan mencobanya, tapi aku tidak bisa langsung berubah, aku bukan robot yang bisa di ubah mode nya.” Ucap Alya.


Arsenio hanya mengangguk, lalu sampailah mereka di lantai lima belas, di sana hanya ada ruangan Arsenio dan satu ruangan lain yang bisa di pastikan kalau itu adalah ruangan asisten pribadi Arsenio, dan ada sebuah meja di depan ruangan Arsenio yang di sana terdapat seorang wanita cantik nan seksi yang sudah bisa di pastikan kalau itu adalah sekretaris Arsenio.


“Selamat pagi tuan..”  Sapa sekretaris itu dengan sopan bahkan dia tersenyum manis ke arah Alya membuat Alya tersenyum juga untuk membalas wanita itu.


“Al, dia Daisy sekretarisku, Daisy dia Alya....”


“Kamu tau?” tanya Arsenio heran.


“Tentu saja saya tau tuan, selain nona Anjeli tuan tidak pernah membawa orang asing ke mari.” Ucap Daisy.


Arsenio tidak menyangka kalau Daisy akan menyebut nama Anjeli, begitu juga dengan Daisy yang tanpa sadar sudah menyebut kekasih atasannya.


“M-maaf tuan, nona saya tidak bermaksud..” ucap Daisy.


“Tidak apa nona Daisy, saya tidak apa-apa kok.” Ucap Alya dengan lembut.


“Saya tidak akan mengulanginya lagi nona.” Balas Daisy.


Alya hanya tersenyum sambil mengangguk, dia tau walaupun berpenampilan seksi tapi Daisy bukanlah sekretaris yang suka menggoda atasannya seperti yang biasa dia lihat di drama drama.


“Di mana Ferdinand?” tanya Arsenio.


“Tuan Ferdi ada di ruangannya tuan, mungkin dia tidak melihat tuan dan nona datang.” Jawab Daisy yang di balas anggukan oleh Arsenio.

__ADS_1


“Al, kamu masuklah dulu, aku akan ke ruangan Ferdi dulu.” Ucap Arsenio.


Alya hanya mengangguk mengiyakan ucapan Arsenio dan segera masuk ke dalam rungan Arsenio, setelah Alya masuk ke dalam, Arsenio menyuruh Daisy untuk menyiapkan jus mangga untuk Alya karena dia tau kalau Alya sangat menyukai mangga.


Setelah memesankan minuman untuk Alya, Arsenio segera pergi ke ruangan asisten pribadinya itu.


Ferdinand yang sedang fokus dengan laptopnya segera menghentikan aktifitasnya saat seseorang membuka pintu ruangannya, lalu dia segera berdiri saat melihat Arsenio yang datang.


“Kau tidak istirahat? Cuti mu masih dua hari lagi kan?” ucap Ferdinand.


“Apa kau fikir aku bisa diam saja saat keadaan perusahaan seperti ini? Aku bahkan tidak kuat melihat wajah uncle Arthur saat sarapan tadi.” Balas Arsenio sambil menyilangkan kedua tangannya di depan.


“Apa kau menunjukkan kepadanya kalau kau sudah mengetahui hal ini?” tanya Ferdinand.


“Tentu saja tidak! Itulah yang membuatku stress, aku tidak bisa meluapkan emosiku saat bertemu dengannya tadi.” Jawab Arsenio.


“Tahan dulu, jangan asal meluapkan emosi saja, bertingkah bodoh lah sesekali.” Ucap Ferdinand yang membuat Arsenio menatapnya dengan tajam.


“Aku tidak pernah bodoh!” balas Arsenio tidak terima jika dirinya di bilang bodoh.


“Siapa yang bilang kamu bodoh? Aku kan hanya bilang berpura-pura, apa kamu tidak tau artinya berpura-pura?” ucap Ferdinand kesal.


“Ya ya ya aku tau.”


Ferdinand segera memberikan beberapa lembar kertas kepada Arsenio, Arsenio segera mengambil kertas yang di berikan Ferdinand lalu dia duduk di sofa untuk membaca kertas tersebut dengan nyaman.


“Itu adalah bukti-bukti penggelapan dana investor kita, kita bisa menggunakan itu untuk mengancam mereka agar mereka kembali kepada kita, atau mau kau publikasi saja agar mereka hancur?” tanya Ferdinand.


Arsenio tersenyum sinis mendengar pertanyaan dari Ferdinand, lalu dia menoleh ke arah asisten pribadinya itu.


“Sepertinya kamu sudah tau apa jawaban yang akan aku berikan Fer.” Balas Arsenio.


“Yah aku tau, seorang Arsenio tidak akan memberi kesempatan kedua untuk siapapun yang sudah mengkhianatinya.” Balas Ferdinand.


Arsenio tersenyum sambil menaruh kertas yang dia pegang di atas meja, dia menyadarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memejamkan kedua matanya.


“Apa mereka tidak sadar sedang bermain dengan siapa?” gumam Arsenio yang hanya di balas gelengan kepala oleh Ferdinand.

__ADS_1


__ADS_2