DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 24


__ADS_3

Hari pun sudah larut, beberapa anggota keluarga sudah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


“Al, kamu sama Arsen sebaiknya istirahat juga, ini adalah malam pertama untuk kalian berdua jadi silahkan beristirahat lebih dulu.” Ucap Kalandra menggoda cucu dan cucu menantunya itu.


“Opa!” rengek Alya dengan mulut yang cemberut.


“Kenapa Al?” tanya Kalandra.


“Al mau tidur sama Karren sama Azzu aja, besok kan Karren udah pulang jadi aku mau ngobrol-ngobrol sama mereka.” Ucap Alya.


“No no no kak! Aku cuma mau di temenin sama Azzu aja, kak Al mending cepetan buat keponakan buat aku aja.” Balas Karren.


Alya kesal dengan jawaban Karren, dia ingin sekali menjitak kepala sepupunya itu karena tidak peka jika dia meminta tolong untuk diselamatkan dari malam pertama.


“Al, udah sana tidur, kamu sekarang udah jadi istri orang, kamu harus tidur sama suami kamu bukan sama adik-adik kamu.” Sahut Belinda.


Dengan pasrah akhirnya Alya berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, di ikuti oleh Arsenio yang sebelumnya berpamitan lebih dulu kepada semuanya.


Alya masuk ke dalam kamar, tanpa ba bi bu be bo lagi dia segera naik ke atas tempat tidur karena sebenarnya tubuhnya sudah sangat lelah dan matanya sudah sangat mengantuk.


Dia berharap setelah melihatnya berada di atas tempat tidur, Arsenio akan sadar diri dan tidur di sofa, namun ternyata harapannya salah besar.


Karena tiba-tiba saja Arsenio menaiki tempat tidur tanpa meminta ijin membuat Alya terlonjak kaget dan melotot menatap Arsenio.


“Kenapa kamu naik ke atas tempat tidurku?” tanya Alya.


“Tentu saja aku mau tidur, untuk apa lagi aku naik ke atas tempat tidur.” Balas Arsenio.


“Kenapa harus tidur di sini?” tanya Alya.


“Kalo ga di sini terus aku harus tidur di mana?” tanya Arsenio.


“Kan di lantai bisa, dia sofa juga bisa.” Balas Alya.


“What?! Kamu menyuruhku tidur di lantai atau sofa? Apa kamu sudah tidak waras?” tanya Arsenio.


“Kenapa aku tidak waras? Aku tidak mau tidur satu tempat tidur denganmu.” Balas Alya.


“Kalau begitu kenapa tidak kamu saja yang tidur di sofa atau di lantai? Kenapa harus aku?”


“Karena ini tempat tidurku, ini kamarku.”


“Tapi aku suami kamu sekarang, jadi tidak masalah kan kalau aku tidur di atas tempat tidur.” Ucap Arsenio.

__ADS_1


“Tapi aku ga mau tidur satu ranjang.”


“Aku kan udah bilang aku ga tertarik sama tubuh kamu, ga usah khawatir aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya ingin tidur aku sudah lelah.” Ucap Arsenio.


Alya melihat wajah Arsenio yang memang sudah kelelahan, dia akhirnya mengalah dan membiarkan Arsenio tidur di sebelahnya.


“Baiklah, tapi kamu ga boleh melewati guling ini!” tegas Alya yang sudah menaruh guling di tengah-tengah mereka.


“Berisik! Kalo sampe kamu yang melewatinya bagaimana?” tanya Arsenio.


“Tidak akan! Aku tidak akan melewatinya!” ucap Alya yang langsung membalikkan tubuhnya dan memakai selimut sampai menutupi kepalanya.


Arsenio yang melihat hal itu hanya bisa berdecak kesal lalu dia berusaha untuk memejamkan matanya karena dia sudah sangat lelah.


***


Pagi pun tiba, sinar matahari mulai memasuki jendela kamar Alya dan mengenai mata Arsenio hingga akhirnya dia harus terbangun, padahal dia masih ingin memejamkan kedua matanya.


Laki-laki itu merasakan tangan yang melingkar di pinggangnya membuatnya melihat tangan siapa yang sedang melingkar di pinggangnya itu.


Tiba-tiba saja sebuah senyuman sinis terbit di bibir Arsenio, padahal semalam Alya dengan yakin tidak akan melewati Guling yang dia taruh untuk menghalangi mereka dan mewanti-wanti Arsenio untuk tidak melewatinya, tapi malah dia yang melewati guling itu bahkan sampai memeluk tubuh Arsenio.


Arsenio sengaja tidak membangunkan Alya karena dia ingin melihat bagaimana reaksi Alya saat menyadari kalau dia tidur sambil memeluk tubuh Arsenio.


Alya yang mulai membuka kedua matanya dengan perlahan langsung melotot saat menyadari kalau dia sedang memeluk tubuh Arsenio saat ini, dia berusaha untuk memindahkan tangannya dengan sangat perlahan agar tidak membuat Arsenio terbangun.


Sampai akhirnya Alya berhasil menjauhkan tangannya dari tubuh Arsenio dan bisa bernafas lega sambil mengutuk dirinya sendiri.


“Bodoh banget Alya sumpah!” gumam Alya sambil perlahan dia turun dari tempat tidur.


Setelah berhasil turun dari tempat tidur, Alya langsung berlari kecil ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Arsenio yang sadar kalau Alya sudah masuk ke dalam kamar mandi lngsung membuka matanya dan mulai mengeluarkan tawanya yang sudah dia tahan sejak tadi.


Untung saja Alya berada di dalam kamar mandi dengan air yang mengalir jadi dia tidak akan mendengar tawa Arsenio.


Arsenio memutuskan untuk turun dari tempat tidur saat tawanya sudah mulai berhenti, dia memutuskan untuk berjalan menuju balkon kamar untuk melihat pemandangan dari balkon.


Drtt,, drttt.. ponsel Arsenio berdering, dengan segera Arsenio mengangkat telfonnya saat melihat yang menghubunginya adalah sang kekasih.


“Halo...” ucap Arsenio dengan berbisik.


“Halo beib, kenapa kamu bisik-bisik gitu? Kamu lagi sama istri kamu ya?” balas Anjeli.

__ADS_1


“Jel, bukannya aku udah bilang jangan menghubungiku dalam beberapa hari kedepan? Oma masih memantau kehidupanku dan istriku.” Ucap Arsenio dengan serius.


“Istriku? Kamu sudah mengakui dia sebagai istrimu beib? Padahal di sini aku nahan kangen loh, tapi kamu malah enak-enakan sama istri baru kamu.” Balas Anjeli dengan nada yang sedih.


“Seneng-seneng apa sih Jel? Aku bahkan tidak menyentuhnya sama sekali, aku hanya takut kalau oma tau tentang hubungan kita yang belum berakhir.” Balas Arsenio.


“Benarkah? Apa tubuhnya tidak semenarik tubuhku beib?” goda Anjeli.


“Tentu saja beib, kalau masalah itu kamu juaranya.” Balas Arsenio mencoba untuk menyenangkan hati kekasihnya.


“Uhhh, kamu memang yang terbaik beib, miss you.. Aku akan menunggumu datang, jadi cepatlah datang okey?” ucap Anjeli dengan nada menggoda.


“Aku akan segera datang kalau keadaan sudah mereda.” Ucap Arsenio.


Anjeli segera mematikan ponselnya, sedangkan Arsenio menoleh ke belakang untuk memastikan kalau Alya tidak mendengar pembicaraannya dengan Anjeli.


Setelah mengetahui kalau Alya belum selesai mandi, Arsenio akhirnya bisa bernafas lega dan kembali menikmati pemandangan dan udara pagi di sana.


Sampai akhirnya Alya selesai mandi, Arsenio langsung menoleh dan melihat Alya sudah memakai pakaiannya dan juga sudah berdandan? Ya, saat ini Alya lebih sering memakai make up tipis-tipis.


Arsenio terus melihat Alya dengan senyum di wajahnya, hal itu membuat Alya risih dan menatap tajam ke arah Arsenio.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Alya.


“Aku penasaran, semalam kamu ga memelukku?” tanya Arsenio dengan wajah mengintimidasi.


Mendengar pertanyaan Arsenio yang tiba-tiba membuat Alya terkejut, dia mulai gugup sambil menelan salvilanya dengan susah payah.


“Apa dia sadar kalau aku memeluknya? Apa dia hanya mengetes aku saja?” batin Alya di dalam hatinya.


“Tapi jelas-jelas tadi dia masih tidur kok, jadi dia pasti hanya ngetes aku.” Batin Alya kembali.


Lagi-lagi Arsenio berusaha untuk menahan tawanya, dia ingin sekali tertawa melihat ekspresi wajah Alya yang gugup begitu.


“Kenapa kamu malah bengong?” tanya Arsenio membuat Alya terkejut.


“Hah? eh, kenapa kamu tiba-tiba nanya begitu?” tanya Alya.


“Engga, semalem aku kayak ngerasain ada yang meluk, ga tau mimpi apa bukan.” Balas Arsenio mencoba untuk memancing Alya.


“Mimpi kali! Pede banget sih jadi orang, ngapain juga aku meluk kamu yang ada gatel-gatel aku alergi!”


ketus Alya yang langsung berjalan keluar dari kamar dan langsung mentup pintu kamarnya kembali dengan kencang.

__ADS_1


Lagi-lagi saat Alya menutup pintu, Arsenio kembali tertawa dengan keras bahkan sampai air mata keluar dari ujung matanya.


__ADS_2