DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 76


__ADS_3

Sesampainya di sekolah, May dan Jay segera turun dari mobil, diikuti dengan Alya dan juga Arsen yan mengikuti Alya yang keluar dari mobil.


“Hati-hati ya kalian berdua, mama ga mau sampe di panggil lagi gara-gara kalian ngerjain teman kalian!” tegas Alya.


“Kenapa emangnya? Wajar kan sesama teman saling bercanda.” Sahut Arsen.


“Diem deh! Kamu baru mau ngambil hati anak-anak udah ngajarin yang ga bener?” ketus Alya dengan tatapan tajamnya.


“Iya ma, kami berdua tidak akan melakukan hal itu lagi dan akan menjadi anak baik.” Ucap Jay yang tiba-tiba saja dengan mudahnya menuruti ucapan sang mama.


Sebenarnya jay senang karena Arsen membela mereka, hanya saja saat mengingat kalau mereka sedang menguji Arsen, maka Jay mau tidak mau langsung menuruti ucapan mamanya walaupun sebenarnya tidak rela.


“Bagus kalau kamu langsung menuruti omongan mama, ingat! Yang di maksud bercanda itu kalau kedua belah pihak sama-sama bahagia, kalau salah satunya merasa tidak suka maka itu namanya pembullyan dan mama tidak menyukai hal itu!” tegas Alya dengan wajah yang serius.


May dan Jay hanya mengangguk, sebenarnya May tidak pernah mengganggu siapapun, hanya saja karena mereka anak kembar, maka yang di lakukan Jay tak luput dari May yang terus di sangkut pautkan.


Saat May mengatakan kalau dia tidak ada hubungannya dengan apa yang di lakukan Jay, semua guru tidak ada yang mempercayainya.


May dan Jay pun salim setelah mendengarkan ceramah dari mamanya, namun setelah mencium tangan mamanya, mereka langsung mau pergi begitu saja tanpa bersalaman dengan Arsen.


“Anak-anak!” tegas Alya yang membuat langkah keduanya terhenti dan kembali berbalik ke arah Alya.


“Mama tau kalian berdua tidak menyukai papa kalian, tapi walaupun dia bukan papa kalian, dia tetap orang yang lebih tua dari kalian dan kalian harus menghormatinya!” tegas Alya.


Mendengar ucapan Alya membuat Arsen terkejut, Alya benar-benar mendidik anak-anak mereka dengan sangat baik, dan tanpa sadar Arsen tersenyum sambil melihat ke arah Alya.


“Ehem! Telat ya sadarnya kalo mama cantik!” ketus Jay yang membuat arsen langsung tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


“Jay..” tegur Alya.


Akhirnya Jay dan May mencium punggung tangan Arsen dengan enggan dan setelah itu keduanya segera berlari masuk ke dalam gerbang sekolah.


“Jangan tersinggung, mereka berdua sama sepertimu, tidak bisa berpura-pura jika tidak suka pada seseorang.” Ucap Alya tanpa menoleh ke arah arsen lalu dia kembali masuk ke dalam mobil.


Arsen tersenyum mendengar ucapan Alya, dia sama sekali tidak tersinggung dengan sikap anak-anaknya, ya walaupun dia merasa sedih karena karma untuknya dia dapatkan dari anak-anaknya sendiri, tapi tidak masalah karena itu tandanya May dan Jay benar-benar anak-anaknya.


Arsen segera membuka pintu mobil, namun tidak bisa karena ternyata Alya mengunci pintu mobilnya membuat Arsen mengetuk kaca mobil membuat Alya menurunkan kaca mobilnya sedikit.


“Al, bukain dong pintunya.” Ucap Arsen.


“Kita bukan muhrim jadi ga boleh dua-duaan, kamu pulang naik angkot aja, pernah naik angkot kan? Kamu juga bawa uang cash kan? Kalo ga bawa ini aku kasih uang buat ongkos, bye..” ucap Alya yang sudah mengeluarkan uang sepuluh ribu dari dalam mobil dan segera melajukan mobilnya saat Arsen sudah mengambil uang yang dia berikan.


Arsen masih terpaku di tempatnya, dia masih tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi, matanya tertuju pada uang sepuluh ribu yang dia pegang saat ini, otaknya seketika kosong seperti habis di kuras.


“Angkot angkutan umum mas.” Jawab salah satu bapak-bapak yang kebetulan baru mengantar anaknya dan mendengar gumaman Arsen.


“Angkutan umum? Di mana saya bisa naik angkutan umum?” tanya Arsen.


“Pfftt,, mas nya ga pernah naik angkutan umum ya? Apa baru di sini?” tanya bapak-bapak itu sambil menahan tawanya.


Arsen sebenarnya kesal karena bapak-bapak yang ada di hadapannya itu malah mengejeknya, tapi mau bagaimana lagi, dia juga butuh seseorang yang bisa di tanyai.


“Mas nya bisa jalan bentar ke sana, di sana ada banyak angkot tinggal rumah mas nya di daerah mana nanti ikutin nomor angkotnya aja.” Jelas bapak itu.


“Nomor? Alamat? Emang angkot ada berapa banyak?” tanya Arsen yang semakin kebingungan.

__ADS_1


“Yaampun mas, kalo alamat di daerah mawar naik angkot 03, kalo di daerah melati naik angkot 05.” Jelasnya.


“Duh bapak malah bikin saya makin pusing deh! Sebenernya bisa ga sih bapak langsung kasih tau aja saya harus naik angkot nomor berapa?” ucap Arsen yang semakin kesal.


“Gini deh, alamat mas nya di mana? Daerah apa namanya?”


“Saya aja ga tau, saya baru pindah kemarin, tadi itu yang tinggalin saya mantan istri saya, saya baru ketemu lagi sama mereka kemarin dan saya mau ikut anter anak-anak saya sekolah, tapi saya malah di tinggal.” Jelas Arsen.


Bapak itu hanya bisa menganga mendengar penjelasan Arsen, dia tidak menyangka ternyata hidup Arsen serumit itu.


“Walah pak saya ya ga bisa bantu kalo gitu, mending telfon mantan istrinya aja tanya alamat rumah.”


“Oh iya bener juga bapak, makasih ya udah ngingetin.” Ucap Arsen yang segera mencari ponselnya.


Namun sayangnya, ponsel Arsen tertinggal di mobil Alya dan hari ini adalah hari yang benar-benar sial baginya.


“Saya lupa bawa hp pak!” ucap Arsen dengan pasrah.


“Waduh kalo gitu saya ga bisa bantu mas, mas nya nunggu anak-anaknya pulang aja lah nanti jam setengah lima sore.”


“What!? Kenapa sekolah lama banget pak?”


“Iya kan full day, sekarang memang jamannya begitu mas, sudah deh saya tinggal ya mas, maaf nih ga bisa bantu saya masih harus bantu istri buka warung.” Pamit bapak itu.


“Oh iya pak silahkan semoga ramai warungnya.” Balas Arsen yang mempersilahkan bapak-bapak itu pergi.


Sedangkan Arsen hanya bisa duduk di bawah pohon yang ada di dekat sekolahan, dia memutuskan untuk membeli kopi di sana dengan uang yang di berikan Alya kepadanya sambil menunggu anak-anaknya pulang sekolah.

__ADS_1


__ADS_2