DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 85


__ADS_3

“Oh iya, besok pagi-pagi sekali papa akan kembali ke Belanda untuk mengurus beberapa pekerjaan, jadi besok pagi papa ga bisa sarapan di sini sama kalian.” Lanjut Arsen.


“Apa!?” teriak May dan Jay yang terkejut dengan kabar kembalinya sang papa ke Belanda.


***


“Kenapa? Kenapa papa mau balik ke Belanda? Papa mau ninggalin kita lagi?” tanya May.


“May, kenapa kamu bilang kayak gitu?” tanya Alya yang tidak menyangka kalau anaknya akan mengatakan hal seperti itu.


“Tidak apa-apa sayang, biar aku yang menjelaskannya kepada mereka.” Ucap Arsen yang membuat Alya hanya bisa menghela napas panjang.


“Sayang, papa bukannya mau meninggalkan kalian, tapi papa juga harus bekerja karena tugas papa sudah menumpuk beberapa bulan ini, kasihan kalau uncle Ferdinand yang menghandle semuanya, dia juga butuh refreshing untuk mencari kekasih bukan? Apa kalian tidak mau melihat uncle Ferdinand menikah dan memiliki adik untuk kalian?” tanya Arsen.


“Tapi aku ga mau papa pergi, aku mau sama papa terus.” Ucap May sambil menundukkan kepalanya dan suara yang bergetar menahan tangisnya.

__ADS_1


Alya tau putrinya itu tetaplah anak kecil yang bisa menangis karena hal-hal yang tidak terduga, walaupun selama ini dia selalu bertingkah seperti orang dewasa.


“Jay, kenapa kamu diam saja?” tanya Arsen kepada putranya yang sejak tadi hanya diam.


“Lalu aku harus apa? Laki-laki itu harus kuat, tidak boleh mengeluh dan menangis, papa juga harus bekerja untuk mencari uang yang nantinya juga buat kita.” Ucap Jay seperti orang dewasa namun Arsen dan Alya tau kalau Jay sama seperti May yang ingin meluapkan emosinya.


Arsen tidak mengatakan apa-apa. Laki-laki itu hanya tersenyum lalu beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri anak laki-lakinya.


“Anak laki-laki juga boleh menangis di depan keluarganya kok.” Ucap arsen dengan lembut sambil berjongkok di hadapan putranya.


Alya, May dan tentunya Arsen terkejut melihat Jay yang biasanya tegar dan selalu terlihat kuat itu bisa menangis hanya karena hal seperti ini.


“Papa janji papa akan sering menghubungi kalian, papa juga akan datang kemari kalau semua pekerjaan di sana selesai.” Ucap Arsen.


“Jay mau ikut papa, Jay mau ikut ke Belanda.” Ucap Jay.

__ADS_1


“Jay..” ucap May yang terkejut dengan jawaban kembarannya.


“Aku mau ikut papa, kita harus bersama-sama selamanya!” ucap Jay.


May menundukkan kepala, dia memikirkan beberapa saat masalah pindah ke Belanda lalu akhirnya wanita itu mengangguk setuju dan membuat semua orang tersenyum senang.


“Memangnya apa yang kalian takutkan pindah ke Belanda? Semua keluarga kita ada di sana pasti mereka senang jika kalian tinggal di sana.” Ucap Arsen.


“Kita hanya tidak ingin berpisah dengan teman-teman pa, kita berdua susah buat berteman, May takut kalau di sana nanti kita tidak akan mudah bergaul dengan orang sana.” Jelas May.


“Papa yakin anak-anak papa akan mendapatkan banyak teman di sana, toh kalian di sana untuk belajar dan papa yakin kalian akan sibuk mengerjakan tugas di bandingkan berteman disana.” Ucap Arsen.


“Jadi, papa akan ke Belanda nanti bareng kita kan?” tanya Jay.


“Papa tetap akan terbang ke Belanda besok sayang, papa juga akan menyiapkan semua berkas untuk mengurus surat pindah kalian dan papa akan memasukkan kalian berdua ke kampus terbaik di sana, jadi selama papa mengerjakan pekerjaan papa di sana, kalian harus giat belajar dan mendapatkan nilai sempurna saat ujian nanti ya?” ucap Arsen.

__ADS_1


May dan Jay keduanya mengangguk dengan yakin, mereka tidak pernah ragu jika masalah nilai karena mereka berdua adalah murid terpintar di seluruh sekolah, bahkan saat mereka masih duduk di kelas 1 SMA, mereka sudah bisa bersaing dengan kelas 3 SMA dengan nilai sempurna.


__ADS_2