
Hari ini adalah jadwal Arsen dan Ferdinand kembali ke Indonesia.
Ferdinand sudah siap dengan kopernya, namun tidak dengan Arsen yang sejak tadi hanya melihat ke luar jendela menunggu Alya dan anak-anaknya keluar dari rumahnya.
“Sen, lo ga siap-siap? Pesawat kita ntar lagi berangkat.” Ucap Ferdinand.
“Lo ngajak gue?” tanya Arsen.
“Emang di sini ada siapa lagi selain lo? Setan?” tanya Ferdinand yang kesal kepada teman sekaligus atasannya itu.
“Gue ga mau! Gue mau di sini aja, lo kan tau kalo gue punya misi penting saat ini.” Balas Arsen.
“Iya gue tau, misi lo adalah meluluhkan hati anak-anak lo kan? Tapi pekerjaan juga penting Arsen,,, lo harus banyak duit biar anak-anak lo kedepannya bisa hidup enak tujuh turunan.” Ucap Ferdinand.
Kali ini laki-laki itu sudah frustasi karena temannya itu sudah semakin lemot setelah bertemu dengan istri dan anak-anaknya.
“Itu gampang! Selama ada lo pasti perusahaan aman terkendali.” Jawab Arsen dengan santainya.
“Ogah gue, capek sendiri!” ketus Ferdinand.
“Sialan lo! Emang lo ga mau liat gue akur lagi sama Alya terus gue bawa ponakan yang cakep-cakep?” tanya Arsen.
“Ya mau sih, tapi ga gini caranya juga Arsen, gue capek sendiri lah.”
“Lo kan di gaji emang buat capek, udah ah sono lo mendingan pergi aja! Handle semua kerjaan yang penting, kali ga terlalu penting bisa lo tunda dulu sampe gue dateng.” Ucap Arsen.
“Ngeselin lo sumpah sen!” keluh Ferdinand.
“Udeh lo tenang aja, nanti gue bantuin deket sama si Daisy, terus lo bisa buat anak cakep-cakep kayak gue.” Ucap Arsen yang membuat Ferdinand semakin kesal.
“Apaan sih lo Sen! Awas lo minta tolong gue!” ketus Ferdinand yang langsung pergi sambil menarik kopernya keluar dari rumah Arsen.
Dan di sana juga kebetulan Ferdinand bertemu dengan Alya yang baru saja keluar dari rumahnya.
“Loh, kak Fer? Kakak beli rumah di sini?” tanya Alya yang memang baru tahu kalau rumah kosong yang ada di depan rumahnya sudah ada yang menempati.
“Iya si Arsen yang beli Al, biar dia bisa deket sama lo terus katanya, itu sebelum dia tau kalo kalian udah punya anak, sekarang dia malah bucin sama anak-anak kalian.” Jelas Ferdinand.
__ADS_1
Alya hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Ferdinand.
“Biarkan saja dia merasakan bagaimana
perjuangan untuk mendapatkan hati anak-anaknya kak, semain sulit di dapatkan dia akan semakin merasa takut kehilangan mereka.” Balas Alya.
Saat itu Alya memang sudah siap dengan pakaian kerjanya, lalu tidak lama kemudian May dan Jay keluar dari rumah bersama-sama dengan pakaian sekolah mereka.
“Wah ponakan-ponakan uncle sudah rapih sekali, pasti kalian berdua mau berangkat sekolah ya?” tanya Ferdinand berbasa-basi.
“Udah tau kalo pake seragam mau sekolah, pake nanya lagi!” ketus Jay yang membuat Ferdinand terkejut.
“Jay! Kenapa kamu bicara begitu? Ga sopan!” tegas Alya.
Jay hanya diam, dia tidak mengatakan apapun saat mamanya menegurnya, justru dia hanya memalingkan wajahnya dari Alya.
“Wah, benar-benar copyan Arsen banget ya Al, kamu memang ga bisa jauh dari laki-laki yang sifatnya kayak Arsen.” Ucap Ferdinand.
“Yah begitulah, aku kira jika aku yang membesarkannya tanpa ada campur tangan Arsen, anak-anakku akan menjadi orang yang baik dan sopan, tapi ternyata memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya ya kak.” Balas Alya.
Ferdinand dan Alya tertawa karena mereka membicarakan keburukan Arsen, sampai akhirnya tawa keduanya berhenti saat melihat Arsen sudah keluar dari rumahnya dengan penampilan yang rapih membuat Ferdinand terkejut.
“Sen, lo mau ke mana? Mau pulang ya? Apa mau nganter gue ke bandara?” tanya Ferdinand dengan semangat.
“Dih, kepedean lo! Gue cuma mau nganter anak-anak sama istri gue aja.” Ketus Arsen.
“Sialan lo Sen! Gue kira lo kamu nganterin gue ke bandara atau lo mau ikut gue balik ke Belanda.” Balas Ferdinand.
“Engga deh, gue masih pengen di sini, gue kan mau menghabiskan waktu sama mereka.” Ucap Arsen.
“Inget Sen, lo sama Alya jangan sampe di luar batas, inget kalian secara agama udah pisah dan kalian harus nikah lagi sebelum melakukan sesuatu.” Jelas Ferdinand yang membuat Alya dan Arsen melotot.
“Gila ya lo!” ketus Arsen.
“Apaan sih kak! Lagian siapa juga yang mau di apa-apain sama dia!” ketus Alya sambil melirik ke arah Arsen.
Arsen yang merasa tidak terima itu langsung menoleh ke arah Alya dengan tatapan kesal.
__ADS_1
“Awas aja nanti aku buat ketagihan!” ketus Arsen yang membuat Alya melotot.
“Gila ya! Udah tau ada anak-anak, dasar ga sopan!” ketus Alya yang langsung mengajak anak-anaknya masuk ke dalam mobil.
Arsen juga baru sadar jika dirinya salah bicara, dia malah mengatakan hal yang tidak pantas di hadapan anak-anaknya.
Arsen segera mengikuti Alya masuk ke dalam mobil tanpa meminta ijin terlebih dahulu meninggalkan Ferdinand yang ada di sana sendirian.
“Lah gue di tinggal, gini amat yak nasib jomblo.” Gumam Ferdinand yang meratapi nasibnya di dalam hatinya.
Sedangkan Alya terkejut saat tiba-tiba saja Arsen membuka pintu mobil dan duduk di sebelahnya.
“Apa yang kamu lakukan Arsen!” ucap Alya kesal.
“Aku mau anter kalian, kamu pindah gih biar aku aja yang nyetir.” Ucap Arsen.
“Ga mau! Aku ga butuh kamu anter Arsen, aku bisa anter anak-anak aku sendiri.” Tegas Alya.
“Al come on, ada anak-anak di sini. Bukannya kamu yang bilang kalau aku harus ambil hati anak-anak? Ini aku lagi berusaha.” Jelas Arsen.
Alya pusing mendengar hal itu, di sisi lain dia memang tidak ingin anak-anaknya bersikap acuh kepada papanya sendiri, hanya saja di sisi lain Alya merasa tidak nyaman jika bersama dengan laki-laki yang sudah lama tidak dia jumpai itu.
“Terserah kamu, tapi itu juga butuh persetujuan dari anak-anak.” Ucap Alya yang langsung menoleh ke belakang.
May dan Jay hanya diam, mereka tahu kalau mama mereka paling tidak suka jika ada seseorang yang memotong pembicaraannya.
“Kenapa kalian diam saja?” tanya Arsen.
“Mama ga suka kalo kita motong pembicaraannya.” Balas May.
Arsen hanya mengangguk sambil mulutnya
membentuk huruf O tanpa mengatakan apa-apa lagi.
“Gimana? Kali ini papa kalian mau anter kalian ke sekolah.” Ucap Alya kepada anak-anaknya.
Selama ini Alya memang selalu bertanya lebih dulu pendapat-anak-anaknya sebelum membuat keputusan, dia tidak ingin sampai anak-anaknya terpaksa menuruti ucapannya.
__ADS_1
“Terserah deh ma, yang penting cepetan sampe aja ini udah hampir jam tujuh!” ketus Jay.
Alya dan Arsen pun sama-sama terkejut, karena sedari tadi mereka berdebat tanpa melihat jam. Tentu saja karena hal itu Alya segera menancap gas tanpa bergantian lebih dulu dengan Arsen.