DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 44


__ADS_3

Sarapan pun di sajikan, semua orang sudah berkumpul di meja makan tanpa terkecuali. Namun saat mereka mau menyantap sarapan mereka, tiba-tiba saja seseorang datang membuat semua orang menoleh kepadanya dan terkejut saat melihat siapa yang datang.


“Morning semuanya...” sapa Anjali dengan ceria seolah tidak ada yang salah terjadi di sana.


Semua karyawan yang sudah siap untuk menyantap sarapan yang tersedia seketika mematung saat melihat kehadiran Anjali di sana.


Begitu juga dengan Alya yang moodnya kembali hancur saat melihat wanita seksi itu, terutama saat wanita itu sudah mengganti pakaiannya menjadi bikini yang memamerkan tubuh putih mulusnya.


Namun Alya yang sedang berdiri sambil memegang piring di tangannya itu ingin duduk di sebelah Arsen, namun belum sempat dia duduk tiba-tiba saja Anjali sudah duduk di kursi yang mau di duduki oleh Alya.


Tentu saja hal itu membuat suasana semakin canggung dan dingin, Arsen juga tidak menyangka kalau Anjali akan melakukan hal seperti itu di hadapan orang banyak, padahal semua orang yang ada di sana sudah tau kalau Alya adalah istrinya.


“Apa yang kamu lakukan Anjali?” tanya Arsen dengan nada yang tegas.


“Aku duduk beb, emang salah?” balas Anjali.


“Lo apaan sih Jel, ga tau malu banget jadi orang.” Sahut Ferdinand yang ikut kesal dengan sikap Anjali.


“Apaan sih lo Fer sewot aja deh!”


“Nona, tapi itu tempat duduk nona Alya.” Sahut Daisy.


“Ah jadi dia yang namanya Alya? Dia istri kontrak kamu beb?” tanya Anjali dengan ketus dan lantang membuat semua orang langsung beralih menoleh ke arah Alya.


Alya merasa malu saat melihat pandangan orang-orang kepadanya, seperti orang yang sedang meremehkannya, padahal apa yang di katakan Anjali tidak benar, tidak ada kontrak di pernikahan dia dan Arsen.


Yang lebik menyakitkan lagi adalah Arsen yang sama sekali tidak membelanya, dia hanya menatap tajam ke arah Anjali namun tidak membela Alya.


Alya yang sudah merasa terpojok akhirnya langsung berlari begitu saja, namun Arsen sengaja tidak mengejar Alya karena dia ingin memberi pelajaran kepada Anjali lebih dulu.


Brakkk!!! Tiba-tiba saja Arsen menggebrak meja dengan kencang membuat semua orang termasuk Anjali terkejut dan langsung menoleh ke arah Arsen.

__ADS_1


“Cukup Jel! Cukup!!” teriak Arsen sambil menatap tajam ke arah Anjali.


 “A-Arsen..” ucap Anjali yang tidak percaya kalau Arsen berani membentaknya.


“Dari tadi aku diam bukan karena mendukung apa yang kamu ocehkan tentang istriku! Aku diam karena aku ingin tau sampai mana kamu menghinanya!” ucap Arsen.


“Dan sekarang aku sudah muak Anjali! Kamu sudah sangat menyakiti hati istriku!”


“Kamu lah yang menolak untuk menikah denganku, kamu yang lebih mementingkan karirmu daripada hubungan kita, kamu yang menyuruhku untuk menikah dengan wanita lain.”


“Tapi aku hanya meminta kamu menikah beberapa tahun saja Arsen, aku akan menikah denganmu setelah karirku kokoh.” Balas Anjali.


“Tapi bagaimana kalau ternyata aku sudah jatuh cinta padanya? Bagaimana aku bisa membatasi hatiku jika kita berdua sering bertemu?” ucap Arsen.


Anjali tidak bisa berkata-kata lagi, dia tidak percaya Arsen mengatakan hal itu di depan semua orang banyak.


“Arsen, kamu bukan orang yang mudah jatuh cinta pada orang baru, aku tau hal itu, aku yakin itu bukan cinta tapi hanya rasa penasaran.” Ucap Anjali yang berusaha untuk meraih tangan Arsen namun tidak bisa karena Arsen segera mundur selangkah.


Arsen hanya diam, dia hanya menatap Anjali dengan penuh keyakinan di matanya akan kata-kata yang baru saja dia ucapkan, lalu dia segera pergi meninggalkan Anjali yang masih mematung di tempatnya, antara sakit hati dan malu bercampur jadi satu saat mendengar laki-laki yang sangat mencintainya sudah berpaling dan mencintai wanita lain.


Kaki Anjali seketika lemas, dia langsung terduduk di kursi makan dengan tatapan kosong ke depan.


Semua karyawa saling berbisik satu sama lain sambil menatap sinis ke arah Anjali. Sedangkan Cessa segera menghampiri sahabatnya itu.


“Jel, are you okay?” tanya Cessa.


“Apa menurutmu aku baik-baik saja hah?!” ketus Anjali yang kesal dengan pertanyaan sahabatnya itu.


“Sorry, kita ke kamar aku aja yuk, di sini terlalu ramai.” Ucap Cessa.


Mendengar ucapan sahabatnya itu, Anjali langsung melihat sekelilingnya dan menyadari kalau dirinya sudah menjadi pusat perhatian dan bahan gosip.

__ADS_1


“Lo pada liat apa hah!? pada ngomongin gue ya?!” ketus Anjali dengan penuh amarah.


“Jel sabar Jel..” bisik Cessa.


“Lo juga! Ini karena lo bilang kalo kalian ada di sini makanya gue ke sini, kalo lo ga bilang mereka berdua lagi mesra-mesraan gue juga ga akan ke sini!” ketus Anjali.


“Kok lo malah nyalahin gue sih Jel? Lo sendiri yang nyuruh gue buat mantau mereka dan selalu memberitahu apa yang mereka lakuin.” Sahut Cessa yang tidak terima karena di salahkan oleh Anjali.


“Kenapa kalian berdua malah berdebat di sini? Bisakah kalian berdua pindah tempat? Kalian membuat sarapan yang lain terganggu!” ketus Ferdinand.


Anjali kesal, dia ingin membalas ucapan Ferdinand, hanya saja Cessa langsung menghentikannya dan langsung menarik paksa Anjali pergi ke kamarnya. Karena bagaimanapun juga Ferdinand adalah atasan Cessa dan Cessa tidak ingin karirnya hancur karena masalah yang di timbulkan oleh sahabatnya ini.


Setelah Anjali dan Cessa pergi meninggalkan ruang makan, Ferdinand mempersilahkan semua karyawan untuk kembali melanjutkan sarapan mereka walaupun suasananya tidak sesantai tadi.


“Silahkan lanjutkan sarapan kalian, jangan memikirkan atau membicarakan masalah yang baru saja terjadi, nona Alya adalah wanita baik-baik, dia tidak pernah menandatangani kontrak apapun mengenai pernikahannya dengan tuan Arsen.” Jelas Ferdinand.


Setelah mengatakan hal itu Ferdinand segera pergi meninggalkan meja makan menyusul Arsen dan Alya.


“Setelah sarapan kalian semua bisa menikmati liburan di bali sepuasnya, meeting pagi ini kita batalkan dan di ganti nanti malam kalau suasana sudah kembali normal.” Sambung Daisy yang segera berjalan mengikuti Ferdinand.


Ferdinand dan Daisy segera mencari keberadaan Arsen dan Alya namun tidak kunjung ketemu dan itu membuat Ferdinand frustasi.


“Tenanglah Fer, mereka pasti baik-baik saja kok.” Ucap Daisy berusaha untuk menenangkan Ferdinand.


“Mereka baik-baik saja, tapi aku takut kalau Arsen akan memaksa Alya untuk mengerti dan memaafkannya.” Balas Ferdinand.


Yah, memang Arsen adalah orang yang sangat pemaksa, dia ingin semua orang mengerti dirinya padahal dia sendiri tidak pernah mau mengerti orang lain.


“Kita tunggu di sini aja ya, tuan Arsen tidak mungkin menyakiti nona Alya.” Ucap Daisy.


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Ferdinand mengangguk mengiyakan saran dari Daisy. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menunggu Arsen dan Alya di sofa yang ada di ruang tamu villa yang di tempati Arsen dan Alya.

__ADS_1


__ADS_2