DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 38


__ADS_3

Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu oleh para karyawan pun tiba, hari ini mereka semua akan pergi berlibur ke Bali sesuai dengan ucapan Arsenio.


Begitu juga dengan Arsen dan Alya yang sedang bersiap di dalam kamarnya. Alya m,enyiapkan barang-barangnya dan juga barang-barang Arsen yang ingin di bawa ke Bali.


Alya memang hanya membawa satu koper saja karena mereka hanya beberapa hari saja di pulau dewata itu.


“Kak Daisy dan kak Ferdi juga ikut?” tanya Alya.


“Hem, mereka juga ikut karena di sana juga aku sambil bekerja.” Balas Arsenio yang di balas anggukan oleh Alya.


Setelah semua barang selesai di susun rapih, Alya segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi dan bersiap, dan setelah Alya yang mandi barulah Arsenio yang masuk ke dalam kamar mandi.


Alya menuruni tangga, di sana sudah ada keluarga Arsen yang duduk di meja makan, Alya memang sudah menyiapkan sarapan untuk mereka semua, namun menunya sesuai yang biasa mereka makan.


“Kamu kesiangan sampe ga masak ya?” tanya Lucas.


“Engga kok, ini semua aku yang masak sama seperti kemarin-kemarin.” Jawab Alya dengan santai.


“Tapi kenapa menunya beda?”


“Apanya yang beda? Bukannya selama aku masak makanan Indonesia kalian selalu bilang terpaksa menghabiskannya padahal kalian tidak berselera? Jadi aku memutuskan untuk memasak menu makanan yang biasa kalian makan.” Jelas Alya.


Ya, selama ini Alya tau sebenarnya semua orang sangat menikmati masakannya, namun hanya oma Nani, Chyntia dan suaminya saja yang memuji masakannya, sedangkan yang lainnya selalu bilang terpaksa menghabiskan makanannya.


Jadilah saat ini Alya sengaja merubah menu makanan untuk melihat ekspresi semua orang.


“Baguslah! Memang makanan ini yang sangat enak bagi kami! Makanan yang kemarin-kemarin kamu masak sama sekali tidak enak.” Sahut Luciana.


“Baiklah, mulai besok juga bukan aku lagi yang masak karena aku akan pergi dengan Arsen dan koki pribadi yang akan memasak untuk kalian seperti dulu.” Ucap Alya sambil tersenyum.


Luciana menatap sinis ke arah Alya yang masih tersenyum manis ke arah Luciana dan itu benar-benar sangat menyebalkan bagi Luci.


“Al, duduklah dan sarapan sayang, kamu dan Arsen akan segera berangkat kan.” Ucap oma Nani.


“Iya oma, Al tunggu Arsen turun dulu.” Ucap Alya.

__ADS_1


Alya bukannya duduk, dia malah menuju dapur mengambil dua piring berisi lauk yang membuat semua orang kebingungan.


“Al, itu apa?” tanya Chyntia.


“Ini namanya pecel lele aunty, Arsen mau coba jadi aku buatin.” Jawab Alya.


“Loh, kamu ga makan steik juga?” tanya Chyntia.


“Engga aunty, Al biasanya makan nasi jadi kalo cuma makan steik kayaknya ga akan kenyang deh.” Balas Alya sambil nyengir kuda.


Lucas dan Luciana menatap makanan Alya yang sangat menggoda, apa lagi sambal berwarna merah itu membuat kedua bulepotan itu merasa penasaran dengan rasa makanan yang di makan Alya.


Namun rasa gengsi mereka lebih besar dari rasa keinginan mereka terhadap lauk yang di makan Alya, mereka terus memakan sarapan mereka sampai habis.


Arsen yang baru menuruni tangga pun langsung duduk di sebelah istrinya setelah menyapa oma Nani dan om tantenya lalu dia mulai menyantap sarapannya dengan nikmat.


“Ini enak banget Al sumpah, besok masak gini lagi ya.” Ucap Arsenio.


“Ya ga bisa, besok kita kan di Bali, beli aja di sana banyak pecel lele begini.” Balas Alya.


Arsen hanya mengangguk mengiyakan ucapan Alya lalu kembali menikmati sarapannya hingga habis tanpa tersisa.


“Yaampun aunty kenapa bilang begitu pas kita lagi ngomong sih?” ucap Arsenio.


“Sorry, sorry, aunty udah ga sabar nih, soalnya Lili susah banget aunty suruh cepetan nikah.” Ucap Chyntia.


“Lili masih kuliah aunty, jangan menyuruhnya cepat menikah karena menikah itu bukan main-main yang asal comot aja.” Balas Arsen.


“Lo juga asal comot, kok ngomongin orang!” ketus Lucas yang membuat Arsen langsung menatap tajam ke arah Lucas.


“Lo emang selalu mulai ngajak ribut ya.” Balas Arsenio.


“Emang omongan gue salah? Gue bener kan? Lo juga nikah asal comot padahal lo punya pacar yang statusnya lebih bagus.” Ucap Lucas kembali.


“Lucas! Apa harus kamu mengatakan hal itu di hadapan Arsen dan Alya? Bukankah sebaiknya kamu yang memperbaiki diri agar tidak jajan kesana kemari dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya?” ketus oma Nani yang sudah lelah mendengar cucu-cucunya yang setiap hari berdebat.

__ADS_1


“Kalian semua memang bermaksud baik, kalian kemari setiap sarapan dan makan malam untuk menemani oma agar tidak kesepian, tapi kalau setiap pagi dan malam oma mendengar kalian hanya berdebat, bisa mati duduk oma!” lanjut oma Nani.


“Mom, tenanglah.” Ucap Carolina.


“Kamu juga Arthur, apa kamu takut dengan anak-anakmu sendiri?” tanya oma Nani kepada putranya.


“Kenapa jadi aku mom?” ucap Arthur tidak terima.


“Tentu saja kamu salah! Selama ini apa kamu tidak sadar kalau perdebatan selalu di mulai dari anak-anakmu yang selalu menyindir Arsen, bukannya kamu tegur, tapi kamu malah membiarkan anak-anakmu terus berdebat.”


“Itulah yang membuat anak-anakmu semakin seenaknya.”


Oma Nani meluapkan semua uneg-uneg yang dia rasakan sejak dulu, selama ini oma Nani diam saja karena menurutnya menghentikan cucu-cucunya akan membuat mereka merasa kalau oma Nani membela Arsen.


Tapi saat ini Lucas memang sudah keterlaluan, dia bahkan menghina Alya di hadapannya langsung membuat oma Nani akhirnya murka.


Lucas yang melihat oma Nani tidak seperti biasanya itu hanya bisa terdiam, namun hatinya semakin membenci Arsen yang terus di bela oleh omanya.


Arsen pun ikut terdiam sambil terus menatap tajam ke arah Lucas, sedangkan Alya terus memegang tangan Arsen agar tidak terbawa emosi.


“Oma, tenanglah Al tidak apa-apa kok.” Ucap Alya dengan lembut kepada oma Nani.


“Lucas, Luci, aku tidak tau kenapa kalian berdua sangat membenciku, tapi aku di sini sebagai istri Arsen, aku di sini bukan untuk membuat kalian berdua kagum dan memujiku, aku tidak masalah jika kalian menjelekkan aku atau menghinaku karena aku sama sekali tidak perduli dengan penilaian kalian.”


“Yang aku butuhkan dan menjadi tujuan utamaku saat ini adalah Arsen, selama Arsen menyukaiku dan merasa nyaman berada di sampingku, maka aku tidak menginginkan hal lain.”


Alya mulai berbicara dengan lembut namun terdengar tegas, hal itu membuat Lucas dan Luciana kesal, mereka berusaha membuat Alya marah dan kesal tapi wanita itu malah dengan santai dan seperti tidak emosi sama sekali.


Alya sama sekali tidak terusik dengan kata-kata hinaan dan sindiran yang di lontarkan Lucas dan Luciana, justru malah Lucas dan Luciana yang terbawa emosi karena tidak berhasil membuat Alya kesal.


“Beraninya kamu mengatakan hal itu kepada anak-anakku! Kenapa penilaian mereka tidak penting? Mereka adalah keluarga, dan penilaian keluarga sangat penting.” Ketus Arthur.


Alya tersenyum bahkan terkekeh lalu dia menoleh ke arah Arthur dengan masih tersenyum.


“Keluarga? Apa uncle yakin kalau uncle adalah keluarga Arsen? Apa yang sudah uncle lakukan sebagai keluarga Arsen?” tanya Alya.

__ADS_1


Entah makan obat apa Alya saat itu karena berani sekali berbicara seperti itu kepada Arthur, Lucas dan Luciana juga terlihat kaget dengan sikap alya hari itu.


Pasalnya mereka berdua tidak berani melawan papinya, tapi Alya malah menjawab ucapan papinya dengan tersenyum tanpa rasa takut sama sekali.


__ADS_2