
Tidak lama kemudian, Alya memarkirkan mobilnya di depan sekolah, matanya menyipit saat melihat betapa ramainya orang-orang berkumpul tidak jauh dari tempatnya memarkirkan mobil.
“Ada apa ini? Biasanya memang ramai tapi ibu-ibu ngerumpi, kenapa sekarang bapak-bapak bahkan satpam sampai ikut melihat?” gumam Alya sambil keluar dari dalam mobil.
Alya berjalan mendekati ibu-ibu yang ada di dekatnya.
“Permisi bu, saya mau tanya ada apa di sana ribut-ribut?” tanya Alya.
“Oh itu, katanya ada bapak-bapak yang saling berdebat membela anak-anaknya.” Jawab ibu-ibu itu.
“Wah kenapa bapak-bapaknya malah seperti anak kecil begitu.” Gumam Alya yang masih bisa di dengar oleh ibu itu.
“Ya itu, katanya bapaknya Septian biasa lah bu langganan dia, terus debat sama bapaknya si kembar Jay dan May.” Sahut ibu itu.
“Oh begitu...” ucap Alya sambil mengangguk-anggukan kepala karena memang bapaknya Septian memang selalu mencari keributan.
“Eh! Tapi tunggu, siapa tadi bu? Sama bapaknya Jay dan May?” tanya Alya yang baru menyadari sesuatu yang menjanggal.
“Iya bu, katanya bapaknya May dan Jay yang misterius itu akhirnya menampakan dirinya, dan dia baru tahu kalau Septian membuat masalah dengan anak-anaknya.” Jelas ibu itu.
Mendengar ucapan ibu itu, tanpa pikir panjang lagi Alya langsung berlari sekuat tenaga dan menyerobot beberapa orang yang sedang mengerumun di sana.
“Permisi, permisi.” Ucap Alya sambil menyenggol beberapa orang yang menghalangi jalannya.
__ADS_1
Sampai akhirnya Alya sudah berada di tengah-tengah kerumunan dan melihat anak-anaknya dan juga Arsen sedang berada di sana.
“Kalian!” ucap Alya dengan nada yang tinggi membuat semua orang menoleh ke arah Alya yang sudah menatap Arsen dan kedua anaknya dengan tatapan tajam.
“Mama?” ucap May dan Jay secara bersamaan.
“Sayang..” sahut Arsen.
“Sayang, pala lu peyang!” ketus Alya dengan kesal.
“Kalian bertiga! Cepat ke mobil sekarang juga!” tegas Alya yang di balas anggukan oleh ketiga orang itu.
Setelah kepergian Arsen dan anak-anaknya, barulah dia menatap tajam ke arah bapak Septian yang ikut ketakutan dengan tatapan tajam Alya.
Walaupun hanya dengan tatapan saja, tapi sudah mampu membuat bapak Septian ketar-ketir, setelah itu Alya langsung pergi meninggalkan orang-orang yang masih bergerombol di sana.
Namun di sisi lain juga Arsen merasa ingin tertawa karena melihat ekspresi kedua anaknya yang lucu itu.
“Apa ini yang di namakan the power of emak-emak?” gumam Arsen sambil terkekeh, namun gumaman dan kekehannya itu masih bisa terdengar oleh yang lain.
“Apa kamu bilang tadi?!” tanya Alya dengan ketus dan tatapan mata yang tajam.
“Hehehe, tidak sayangku yang cantik...” balas Arsen dengan nada yang menggoda.
__ADS_1
“Sekali lagi kamu mengatakan hal itu maka aku akan meninggalkanmu di sini!” ketus Alya yang membuat Arsen langsung menutup mulutnya.
Tentu saja Arsen tidak ingin kalau dia sampai di tinggalkan lagi oleh Alya, Arsen juga sudah lelah dan ingin segera pulang dan beristirahat di rumahnya.
Setelah Arsen diam, barulah Alya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak ada pembicaraan di dalam sana membuat Arsen merasa gemas dan akhirnya membuka suara.
“Al, kenapa kamu diam saja begitu? Aku dan anak-anak sama sekali tidak membuat kesalahan, dia lah yang lebih dulu mengatai anak-anakku, dan tentu saja aku harus membela mereka!” jelas Arsen.
“Apa kalian semua sadar kalau apa yang di lakukan kalian bertiga itu sudah keterlaluan! Dan kau Arsen, kamu itu orang baru, bisa saja kamu di keroyok sama orang-orang yang ada di sana tadi, mereka semua sudah mengenal bapaknya Septian tapi mereka tidak mengenalmu!”
“Selama ini mereka mendapat bantuan dan pinjaman uang dari bapaknya Septian, tentu saja mereka semua akan berpihak kepada bapaknya Septian, sedangkan kamu akan membuat anak-anakku berada di dalam bahaya jika hal itu sampai terjadi.”
Alya menjelaskan panjang lebar tanpa ada jeda sama sekali layaknya sirkuit balap yang mengharuskan para pembalapnya untuk melaju sekencang mungkin.
“Oh jadi kamu mengkhawatirkan aku ya.” Ucap Arsen dengan senangnya.
“Aku tidak mengkhawatirkanmu, aku hanya mengkhawatirkan anak-anakku saja!” ketus Alya.
Arsen hanya mengangguk-angguk mengerti, lalu dia kembali fokus pada jalan raya yang sudah padat dengan anak sekolah yang baru saja pulang. Lalu tiba-tiba saja dia mengingat dengan ponselnya yang tertinggal di mobil Alya.
“Oh iya, kamu ga lihat ada ponselku tertinggal di sini ya?” tanya Arsen.
“Ada, aku tadi menemukannya karena sejak tadi ponselmu terus bergetar tapi aku tidak berani mengangkatnya.” Ucap Alya sambil memberikan ponsel Arsen kepada pemiliknya.
__ADS_1
“Ah ini hanya rekan bisnisku saja, terimakasih.” Ucap Arsen yang di balas anggukan oleh Alya.
Sedangkan sejak tadi May dan Jay hanya terdiam sambil menyimak pembicaraan kedua orang tuanya itu.