
Di kamar Alya...
Alya dan Arsenio baru saja masuk kedalam kamar setelah acara pernikahan mereka benar-benar selesai dan para tamu undangan sudah bubar semuanya.
Keluarga besar Alya ingin berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang-bincang setelah mereka semua berganti pakaian,
Itu mereka lakukan karena mereka semua jarang sekali berkumpul full team seperti sekarang karena kesibukan masing-masing dan semuanya tinggal di negara yang berbeda.
Di dalam kamarnya, Alya merasa canggung sendiri walaupun dia ada di dalam kamarnya namun di kamarnya saat ini ada orang lain dan terlebih orang itu adalah seorang laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya.
“Kamu duluan aja mandi sama ganti baju sana.” Ucap Alya tanpa menoleh ke arah Arsenio sama sekali.
“Kamu nyuruh aku mandi tanpa ngasih baju dan handuk?” tanya Arsenio.
Alya lupa kalau Arsenio memang tidak membawa apa-apa dari rumahnya karena mengira mereka akan segera ke apartment Arsenio.
“Tapi kan kamu punya asisten, suruh dia nganter keperluan kamu lah.” Balas Alya.
“Lupa ya kalo asistenku di suruh liburan tadi sama oma?” balas Arsenio.
Alya baru ingat setelah acara pernikahan mereka, oma Nani menyuruh asisten Arsenio untuk berlibur dan mengurus pekerjaan sendiri tanpa melibatkan Arsenio, jika ketahuan mereka berdua akan mendapat hukuman dari oma Nani yang katanya oma Nani selalu memberi hukuman yang di luar nalar.
“Kau ini menyusahkan saja! Tunggu aku mau pinjam baju papi.” Ucap Alya yang langsung berjalan mau membuka pintu kamar namun di cegah oleh Arsenio.
“Tunggu.” Ucap Arsenio sambil memegang tangan Alya.
“Ck! Apa lagi sih?” tanya Alya kesal karena dia sudah sangat lelah meladeni para tamu undangan.
“Kamu mau keluar pake gaun begitu? Emangnya ga ribet?” tanya Arsenio.
Mendengar ucapan Arsenio membuat Alya refleks menoleh ke bawah yang masih terpasang gaun pengantinnya.
“Ah iya aku lupa! Kalo gitu aku dulu yang mandi dan ganti baju, kamu tunggu di sini dan jangan ngintip!” tegas Alya dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
Mendengar peringatan Alya membuat Arsenio berdecak lalu tersenyum sinis seperti mengejek ucapan Alya.
“Kenapa kamu senyum begitu?” tanya Alya dengan heran.
“Kamu terlalu percaya diri sekali, padahal tubuh mu itu sama sekali tidak menggoda, jadi untuk apa aku mengintip!” balas Arsenio yang membuat Alya kesal.
“Menyabalkan!” ketus Alya yang langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya.
Alya berendam dengan air hangat yang penuh dengan busa untuk membuat tubuhnya yang pegal-pegal itu menjadi relaks.
“Biarin aja gue lama-lamain di kamar mandi biar nunggu sampe tahun jebot!” gumam Alya sambil melirik ke arah pintu kamar mandi dengan maksud mau mengerjai Arsenio.
Dan benar saja, Alya membutuhnya waktu lama untuk berendam di dalam kamar mandi membuat Arsenio kesal sendiri karena menunggu terlalu lama.
Akhirnya Arsenio memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi karena hampir satu jam dia menunggu di dalam kamar tanpa melakukan apapun.
Namun saat tangannya terangkat untuk mengetuk pintu, tiba-tiba pintu kamar mandi itu terbuka membuat Arsenio terkejut dan mematung saat melihat Alya yang baru saja membuka pintu kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang terlilit di tubuh layaknya kemben yang memperlihatkan pundak dan leher Alya yang putih mulus.
Glek!! Arsenio menelan salvilanya sendiri, terutama saat tatapannya turun ke bawah ke tempat di mana bukit kembar Alya berada. Tubuh yang awalnya di ejek oleh Arsenio malah sekarang membuat Arsenio gelagapan.
“Dasar mesvm!!” teriak Alya sambil mendorong tubuh Arsenio dan dengan cepat dia kembali masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup pintu dengan kencang.
“Pergi sana dasar mesvm! Katanya ga suka sama aku tapi matanya tetep melotot liat tubuh aku!” ketus Alya dari dalam kamar mandi.
Arsenio langsung tersadar mendengar ucapan Alya tadi, dia bahkan menepuk pipinya sendiri untuk menyadarkan dirinya dari pikiran-pikiran yang ada di kepalanya.
“Shit! Bisa-bisanya aku tergoda dengan wanita itu!” gumam Arsenio sambil mengacak-acak rambutnya dan langsung meninggalkan kamar mandi.
Alya yang ada di dalam kamar mandi segera memakai baju handuknya lalu kembali membuka pintu kamar mandi sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat apakah Arsenio masih ada di sana atau tidak.
Setelah di rasa aman, Alya segera berlari kecil ke arah walk in closet untuk mengganti pakaiannya dengan segera, barulah dia keluar dari walk in closet dan berjalan menghampiri Arsenio dengan tatapan mata yang tajam.
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Arsenio seolah tidak merasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
“Cih! Dasar mata keranjang!” ketus Alya yang berjalan begitu saja melewati Arsenio dan keluar dari kamarnya.
Entah Alya mau keluar mengambil pakaian ganti untuk Arsenio atau hanya ingin meninggalkan Arsenio saja, tapi Arsenio hanya mematung karena kata-kata yang di lontarkan oleh Alya padanya.
“Mata keranjang? Mata keranjang itu bahasa apa?” gumam Arsenio pada dirinya sendiri.
Karena Alya menyebut ‘mata keranjang’ menggunakan bahasa indonesia yang tidak Arsenio mengerti karena selama ini mereka berbicara dengan bahasa inggris saja.
Namun Arsenio tidak memusingkan hal itu lagi, dia segera berjalan masuk ke dalam kamar mandi karena tubuhnya sudah merasa gerah sekali.
Arsenio tidak perduli apakah pakaian gantinya nanti sudah ada atau belum, yang penting saat ini tubuhnya bersih lebih dulu.
Sedangkan di tempat lain, Alya sedang menghampiri papinya untuk meminjam pakaian yang sekiranya muat untuk Arsenio yang tubuhnya lebih besar dari papinya.
“Ini pakaian yang sedikit kebesaran ke papi, sepertinya muat untuk Arsen.” Ucap Kenan sambil memberikan beberapa kaos dan celana selutut untuk menantunya.
“Baiklah, terimakasih ya pi.. Kalo gitu Al kasih baju ini dulu ke Arsen ya.” Ucap Alya.
“Al, dia suami kamu sekarang dan dia juga lebih tua dari kamu, bukankah panggilanmu seharusnya di ganti?” tanya Kenan.
“Itu di Indonesia papi, sepertinya kalau di sini tidak seperti itu.” Balas Alya.
“Al, di manapun kita tinggal, kalau masalah seperti itu papi masih menjunjung tinggi adat yang ada loh.” Ucap Kenan yang membuat Alya tidak bisa membalas ucapan Kenan.
Alya menghela nafas panjang lalu akhirnya dia segera mengangguk sedikit sambil memikirkan apa yang di katakan papinya.
“Al usahain ya pi, bye...” pamit Alya yang langsung meninggalkan papinya.
Alya membuka pintu kamarnya dengan ragu karena dia malas untuk melihat wajah Arsenio, namun saat alya mengintip ke dalam kamar dia tidak melihat Arsenio di sana, dan terdengar suara germericik air yang berasal dari dalam kamar mandi.
Bisa di pastikan kalau Arsenio sedang mandi dan itu membuat Alya bernafas lega karena dia tidak harus melihat wajah menyebalkan laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
Alya segera masuk ke dalam kamarnya lalu menaruh beberapa pakaian yang tadi di berikan papinya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Kenan memang memberikan beberapa pakaian agar Arsenio bisa memilih pakaian mana yang cocok untuk dia kenakan. Setelah menaruh pakaian di atas tempat tidur, Alya segera keluar dari kamarnya sebelum Arsenio keluar dari kamar mandi.