
Teresa yang sudah pasrah jika dirinya di tampar tiba-tiba terkejut saat ada tangan seseorang yang menahan tangan laki-laki itu.
Teresa menoleh kearah laki-laki itu dan langsung terpesona karena laki-laki itu sangat tampan bahkan lebih tampan dari Tommy, di lihat dari penampilannya juga bisa di lihat jelas kalau laki-laki itu juga orang yang memiliki banyak uang.
Saat melihat siapa yang menahan tangannya, laki-laki itu langsung membuka lebar matanya dan segera melepas tangannya dengan wajah ketakutan.
Teresa sedikit bingung karena laki-laki yang nyolotnya minta ampun itu malah menyerah begitu saja tanpa ada perlawanan dan segera pergi dari sana.
“Terimakasih karena sudah menolongku, aku akan membayar kebaikanmu, apa yang kamu inginkan?” Tanya Teresa.
“Tidak perlu, memang sudah seharusnya aku menolong wanita yang sedang membutuhkan pertolongan.” Balas laki-laki itu sambil tersenyum singkat lalu pergi meninggalkan Teresa begitu saja.
Setelah laki-laki itu pergi, teman-teman Teresa segera menghampiri Teresa di sana.
“Lo ga apa-apa Re?” tanya salah satu temannya.
“Ga apa-apa kok.” Balas Teresa.
“Wih gila lo Re, lo bisa ngebuat pemilik bar ini ngebantu lo itu ngebuktiin kalo lo udah buat dia tertarik.” Sahut yang lain.
“Pemilik bar ini? Laki-laki itu pemilik bar ini? Bukannya pemiliknya ga pernah ke sini ya?” ucap Teresa.
“Iya emang jarang banget pemiliknya ke sini karena dia punya usaha lain yang lebih penting, dia itu anaknya dan kabarnya dia yang menjalankan bar ini, namanya Arnold, Arnold Alexander.” Jelas temannya.
Teresa tersenyum miring sambil menatap punggung laki-laki itu yang sebenarnya sudah tidak terlihat lagi.
“Arnold? Aku harus mendapatkannya.” Gumam Teresa yang di otaknya penuh dengan rencana.
***
Hari ini semua orang sudah pulang dan rumah Kenan kembali sepi, apa lagi Arsen dan Alya juga akan pergi hari ini.
“Sebentar lagi Arsen dan Al pergi, El dan Azzu juga akan kembali ke apartment mereka masing-masing, rumah kita kembali sepi sayang.” Ucap Kenan kepada sang istri.
“Iya, tapi jangan memasang wajah sedih seperti biasanya, tidak akan mempan kepada anak-anak kita yang sangat mandiri itu.” Ucap Belinda.
“Iya kamu benar, sudah berkali-kali aku memasang wajah sedih tapi mereka sama sekali ga ada iba-ibanya sama aku.” Ucap Kenan mengingat dia seringkali memasang wajah sedih saat anak-anaknya mau kembali ke apartment mereka masing-masing, tapi hal itu sama sekali tidak mempan untuk anak-anaknya.
“Itu karena mereka memiliki sifatmu yang terlalu mandiri.” Ucap Belinda sambil menahan tawa.
__ADS_1
“Makanya aku kan udah bilang, ayo kita bikin anak lagi sayang biar rame lagi rumah kita.” Ucap Kenan dengan wajah memohon membuat mata Belinda melotot.
“Ngarang! Kamu ini ngerasa masih muda banget ya? Kita bahkan udah punya menantu bisa-bisanya kamu mikirin buat nambah anak, bisa-bisa saat anak itu lahir dia pasti langsung di buang sama kakak-kakaknya.” Ucap Belinda kesal.
Kenan malah tertawa mendengar ucapan istrinya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana murkanya Aciel dan Azzura saat mengetahui kalau mereka akan memiliki adik lagi, kalau Alya anak itu pasti malah senang.
“Sudah jangan membahas hal yang tidak-tidak lagi! Ayo cepat keluar, Arsen dan Al pasti lagi nunggu kita untuk berpamitan.” Ajak Belinda.
Kenan segera mengangguk dan beranjak dari sofa di kamarnya, dia dan Belinda pun akhirnya turun ke bawah. Dan benar saja, di bawah Arsen, Al, El dan Azzu sudah duduk di ruang tamu dengan tas mereka masing-masing.
“Loh El sama Azzu juga pergi hari ini?” tanya Kenan.
“Iya pi, banyak kerjaan yang numpuk.” Jawab Aciel.
“Aku banyak tugas kampus pi, mau ngelembur tugas.” Sahut Azzura.
Kenan dan Belinda hanya bisa menghela nafas panjang lelu saling menatap satu sama lain.
“Yah, baiklah kalau memang kalian semua harus pergi hari ini, hati-hati di jalan ya, kalian harus tetap menginap di sini setiap weekend.” Ucap Belinda.
Alya, Aciel dan Azzura mulai memeluk Belinda dan Kenan secara bergantian, Arsenio yang notabenenya anggota baru di sana hanya bisa diam tidak tau harus melakukan apa.
Arsenio segera berjalan menghampiri Kenan, lalu tiba-tiba Kenan memeluk Arsenio membuat hati Arsenio seketika teduh.
“Tolong jaga putri papi dengan baik, dan kalian berdua harus menjaga kesehatan agar kalian bisa terus mengunjungi kami di sini.” Ucap Kenan.
Arsenio tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, dia benar-benar merasakan kasih sayang orang tua yang sebenarnya, karena Kenan dan Belinda memperlakukan Arsenio sama seperti perlakuan mereka ke pada Alya, Aciel dan Azzura.
“Jangan sungkan jika membutuhkan sesuatu, kamu sudah menjadi putraku sekarang.” Ucap Kenan.
“Terimakasih banyak pi.” Ucap Arsenio yang di balas senyuman oleh Kenan.
“Kalau pingin masakan yang kemarin kamu makan dan Alya tidak bisa membuatkan, kamu bisa minta mami buat masakin kamu Sen.” Ucap Belinda.
“Terimakasih mi.” ucap Arsenio.
Setelah semuanya berpamitan, mereka segera masuk ke dalam mobil mereka masing-masing kecuali Alya yang naik mobil bersama Arsenio.
Kenan dan Belinda melambaikan tangan mereka sampai mobil anak-anak mereka tidak terlihat lagi.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan, Alya dan Arsenio hanya berdiam tidak mengatakan apapun, sampai keduanya tiba di kediaman oma Nani.
Di depan rumah oma Nani sudah menunggu di depan pintu, oma Nani duduk di kursi rodanya bersama dengan pelayan yang biasa mengurus oma Nani yang berdiri di sebelah kursi roda oma Nani.
Arsenio dan Alya segera turun dari mobil dan segerqa menghampiri oma Nani.
“Cucu, cucuku...” ucap oma Nani sambil merentangkan kedua tangannya dengan lebar.
“Oma, kenapa oma menunggu di luar?” tanya Alya dengan lembut.
“Oma ga sabar nunggu kalian berdua dateng.” Jawab oma Nani.
“Tapi Arsen kan udah bilang oma ga boleh sering-sering di luar, ada banyak debu di luar.” Sahut Arsenio.
“Jangan bawel deh! Oma dari tadi mau meluk kalian loh.” Ucap oma Nani.
Arsenio menghampiri omanya dan langsung memeluk tubuhnya, sedangkan Alya hanya berdiri, dia berniat untuk menunggu Arsenio melepaskan pelukan dari oma Nani barulah dia yang akan memeluk oma Nani.
“Al, kemarilah, kamu ga mau meluk oma?” ucap oma Nani yang membuat Alya terkejut.
“Eh? Masih ada Arsen oma.” Ucap Alya.
“Oma mau peluk kalian berdua bersama-sama.” Ucap oma Nani.
Akhirnya dengan ragu Alya berjalan menghampiri oma Nani dan memeluk tubuh oma Nani di sebelah Arsenio.
Tubuh Alya dan Arsenio sangat dekat sekali benar-benar dekat, apa lagi saat oma Nani malah mengeratkan pelukannya membuat Alya dan Arsenio benar-benar tidak memiliki celah sampai Alya menahan napasnya.
Sedangkan Arsenio sudah tau kalau ini adalah salah satu trik omanya untuk mendekatkan dia dan Alya. Arsenio sudah terbiasa dengan oma Nani yang seperti ini.
Oma Nani memiliki banyak sekali trik agar Arsenio mau menuruti permintaannya, apa lagi oma Nani sadar kalau hubungan Arsen dan Alya tidak romatis sama sekali.
Alya seperti kehabisan napas karena oma Nani sama sekali tidak melepaskan pelukannya, dia langsung menoel paha Arsenio yang membuat Arsenio langsung peka.
“Oma, kalo gini caranya oma bisa buat aku dan Alya mati sebelum ngasih cicit buat oma.” Ucap Arsenio.
Mendengar ucapan Arsenio membuat oma Nani langsung melepaskan pelukannya, membuat Alya langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu sedetik kemudian dia langsung menatap tajam ke arah Arsenio.
“Why?” tanya Arsenio tanpa bersuara membuat Alya semakin kesal.
__ADS_1