
Oma Nani melihat Arsen dengan tatapan tajam, Alya melongo melihat tatapan tajam oma Nani yang sangat mirip dengan Arsen.
“Kenapa tidak ada pesta? Ini adalah pernikahan cucu pertamaku, tentu saja harus ada pesta yang megah!” ketus oma Nani.
“Oma, bisakah kita bicarakan ini di ruang kerjaku? Aku akan menjelaskan kenapa aku tidak ingin ada pesta pernikahan.” Ucap Arsen mencoba untuk menenangkan neneknya.
Arsen melirik sekilas ke arah Alya yang membuat oma Nani akhirnya mengerti dan segera mengangguk mengiyakan saran dari sang cucu.
“Nak Alya, kamu duduk dulu di sofa situ ya biar oma dan Arsen berbcara lebih dulu.” Ucap oma Nani yang di balas anggukan kaku oleh Alya.
Alya segera duduk di sofa saat melihat Arsen mendorong kursi roda oma Nani menaiki lift.
Sedangkan Arsen segera mendorong kursi rosa neneknya masuk ke dalam ruang kerjanya unruk membicarakan tentang pernikahannya.
“Jadi? Ada apa? Kenapa kamu tidak mau membuat pesta pernikahan?” tanya oma Nani.
“Oma tau kan kalau aku memiliki banyak musuh di perusahaan dan di tempat lain, aku tidak ingin kalau sampai seseorang mengetahui tentang Alya dan menyakitinya.” Ucap oma Nani beralasan.
Padahal dia sama sekali tidak mementingkan hal itu, Arsen tidak perduli jika ada seseorang yang akan menyakiti Alya karena Alya tidak berarti apa-apa untuknya, dia hanya menikahi wanita itu karena dia sudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat dan hanya itu satu-satunya cara agar dia bisa terus mengawasi pergerakan Alya dengan leluasa.
“Apa Alya tau tentang hal ini? Apa dia tidak masalah? Pernikahan bagi seorang wanita adalah yang terpenting, itu akan menjadi kenangan yang sangat indah bagi mereka, apa dia tidak masalah jika pernikahan kalian tidak di rayakan?” tanya oma Nani.
“Dia baik-baik saja, aku sudah membicarakan tentang pernikahan dan dia mengerti.” Ucap Arsen.
“Baiklah kalau begitu, oma juga tidak bisa memaksa jika Alya juga menerima hal ini.” Balas oma Nani.
Semua keluarga Arsen mengetahui tentang pekerjaan Arsen selain sebagai pengusaha, Arsen juga adalah seorang mafia yang terkenal sangat sadis dan berdarah dingin. Dia tidak akan segan untuk membunuh musuh-musuhnya dan juga pengkhianat yang ada di sekitarnya.
Bahkan di dalam keluarganya, ada banyak musuh dalam selimut yang membuat Arsen harus selalu berhati-hati dan dia hanya mempercayai sang nenek, terutama saat kematian kedua orang tuanya.
Setelah lama berbicang, Arsen dan oma Nani kembali ke bawah menghampiri Alya yang sedang meminum air putih yang tadi di siapkan oleh pelayan di rumah itu.
__ADS_1
Alya yang melihat kedatangan Arsen dan oma Nani langsung berdiri dengan sopan.
“Arsen dan Alya pulang dulu oma, oma harus banyak istirahat jangan kelelahan.” Ucap Arsen yang di balas anggukan dan senyuman oleh oma Nani.
“Sayang, seminggu lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga ini, selama itu kamu harus sering-sering datang ke mari oke?” ucap oma Nani kepada Alya.
“Akan Alya usahakan oma.” Balas Alya dengan tersenyum sopan.
Dengan segera Arsen menarik tangan Alya hingga membuat tubuh Alya beralih begitu saja sebelum dia sempat pamit kepada oma Nani.
“Lepasin! Aku masih belum pamit sama oma.” Ucap Alya yang langsung melepaskan genggaman tangan Arsen.
Alya segera berlari menghampiri oma Nani dan berjongkok di hadapannya sambil menggenggam tangan oma Nani dan tersenyum tulus.
“Aku juga punya dua oma yang sangat baik sama seperti oma Nani, dan aku rasa aku akan senang jika aku memiliki tiga oma, terimakasih karena sudah menerima Alya.” Ucap Alya.
Arsen mengerutkan keningnya saat melihat Alya berbicara dengan omanya, dia merasa kalau wanita yang ada di hadapannya itu terlalu mendramatisir, padahal mereka menikah juga bukan atas dasar suka sama suka.
Di dalam, oma Nani tersenyum bahagia karena dia merasa kalau Alya adalah wanita yang tepat untuk cucunya yang berdarah dingin itu, Alya sangat polos dan baik hati.
Di dalam mobil, keduanya hanya berdiam diri, Arsen fokus menyetir sedangkan Alya fokus melihat ke luar jendela, dia tersenyum melihat pemandangan yang sangat indah, sudah lama sekali dia tidak keluar karena memang dia tidak punya banyak teman dan satu-satunya teman yang dia miliki sudah mengkhianatinya.
“Ironis sekali.” Gumam Alya sambil tersenyum sinis.
“Apa? Kamu bilang apa tadi?” tanya Arsen yang mendengar gumaman Alya.
“Haahh,, ironis sekali, karena aku di khianati oleh orang-orang terdekatku dan sekarang aku harus berhadapan dengan laki-laki sepertimu.” Ucap Alya memperjelas apa yang dia gumamkan tadi.
Arsen hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Alya, sedangkan Alya yang merasa kalau perasaan Arsen sedang bagus langsung kembali berucap.
“Bisakah kita tidak menikah? Toh apa yang kamu dapatkan dengan menikahiku? Aku tidak akan mengatakan pada siapapun tentang apa yang aku lihat tadi.” Ucap Alya dengan sangat berharap.
__ADS_1
“Apa kamu tau? Bahkan aku tidak mempercayai keluargaku sendiri, lalu bagaimana bisa aku mempercayai orang asing sepertimu?” ucap Arsen dengan santainya.
“Kamu tidak mempercayai keluargamu? Kenapa? keluarga adalah orang pertama yang akan membantumu kalau kamu kesulitan.” Ucap Alya.
“Jangan samakan keluargaku dengan keluargamu, keluargaku bahkan menyewa orang untuk membunuhku.” Ucap Arsen.
Alya melotot, mulutnya menganga tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Arsen. Bahkan keluarganya yang bukan keluarga kandungnya saja sangat menyayanginya, tapi kenapa keluarga Arsen berbeda?
“Kamu tenang saja, setelah menikah kamu hanya akan tinggal di apartmentku dan bekerja, kamu hanya bertemu dengan keluargaku sesekali saja.” Jelas Arsen.
“Apa kamu punya kekasih?” tanya Alya dengan ragu.
“Punya! Dia adalah wanita yang paling aku cintai, kebahagiaannya adalah prioritasku.” Jawab Arsen dengan yakin.
“What!? Lalu kenapa kamu menikah denganku? Aku ga mau sampai di tuduh jadi pelakor ya!” ketus Alya dengan kesal.
Alya benar-benar tidak percaya, dia membenci Tommy dan Teresa yang sudah mengkhianatinya, tapi sekarang dia malah menjadi duri untuk wanita lain?
“Kekasihku tidak ingin menikah karena dia sangat mencintai karirnya, dan aku akan menerimanya jika itu adalah kebahagiaannya.” Ucap Arsen.
“Cih! Kamu merelakan kebahagiaan kekasihmu dengan merenggut kebahagiaanku!” ketus Alya.
“Karena kamu tidak berarti apa-apa untukku, jadi aku tidak perduli dengan kebahagiaanmu!” ketus Arsen.
“Makanya jangan menikahiku!” teriak Alya yang membuat Arsen kesal dan langsung membanting stir dan menginjak rem secara mendadak membuat Alya hampir terpental andai dia tidak memakai sabuk pengaman.
Arsen menatap Alya dengan tajam, dia membuka sabuk pengamannya dan langsung meraih dagu Alya dengan kasar.
“Lepas!” teriak Alya.
“Berani sekali kamu membentakku! Kamu tidak memiliki pilihan lain selain menurut padaku! Hanya itu pilihanmu agar keluargamu selamat.” Ucap Arsen dengan tegas.
__ADS_1
Alya benar-benar ketakutan, tubuhnya bergetar hebat melihat tatapan Arsen yang sangat menyeramkan saat itu. Dia hanya bisa menelan salvilanya sambil menatap Arsen dengan tatapan kosong.