
Saat ini Alya, Arsen, May dan Jay sedang berada di dalam ruangan Alya yang ada di perusahaan itu.
Alya memang meminta waktu kepada Liam untuk membiarkannya menyelesaikan semuanya hari ini.
Alya bisa melihat ketidak sukaan anak-anaknya kepada Arsen, itu dia lihat dari tatapan mata May dan Jay yang tajam sampai Arsen terlihat mati kutu.
Sebenarnya Alya ingin sekali tertawa, karena baru pertama kali ekspresi wajah Arsen seperti itu, namun dia masih menjaga sikapnya untuk tetap tegas.
"Oke, anak-anak dia adalah papa kandung kalian yang selama ini kalian tanyakan pada mama." ucap Alya mengenalkan Arsen kepada anak-anaknya.
"Dan Arsen, mereka berdua adalah anak-anakmu, tapi aku yang selama ini membesarkannya, jadi kalau sampai kamu mengambil mereka dariku, maka aku tidak akan diam saja!" ucap Alya mengenalkan anak-anaknya kepada Arsen namun nadanya sangat tegas seperti mengancam.
"Siapa yang mau merebut mereka darimu Al? Aku tidak pernah memikirkan hal itu sama sekali, aku bahkan ingin kita membesarkan mereka bersama-sama." ucap Arsen.
Namun tentu saja hal itu tidak bisa membuat Alya luluh begitu saja, dia masih tetap mengingat nada manja yang di lontarkan oleh Anjali, dan juga janji Arsen yang terdengar sangat yakin.
"Maaf Arsen, tapi aku tidak bisa percaya begitu saja kepadamu." balas Alya.
__ADS_1
"Awalnya kami memang sangat ingin bertemu dengan papa kandung kami, tapi aku rasa itu tidak perlu lagi, nilai anda sudah sangat rendah di mata kami tuan Arsen!" tegas Jayden.
"Jay.." ucap Alya mengingatkan.
"Jayden, namamu sangat bagus! Papa tau kalau kesan pertemuan pertama kita sangatlah buruk, tapi percayalah papa tidak bermaksud begitu."
"Tadi papa hanya tidak bisa menahan emosi melihat mama kalian bersama dengan laki-laki itu." jelas Arsen.
Baru saja dia bertemu dengan anak-anaknya, Arsen tidak mau anak-anaknya jadi membencinya karena kesalahpahaman yang terjadi kepada mereka.
"Laki-laki itu adalah papa Liam, dia punya nama!" ketus Mayden.
"Pokoknya Jay sama May ga mau dia jadi papa kami!" ketus Jay sambil menyilangkan kedua tangannya di depan.
Alya hanya bisa menghela napas panjang mendengar ucapan putranya, dia juga bisa melihat raut kesedihan di wajah Arsen.
Akhirnya Alya memutuskan untuk menghampiri Arsen yang masih terdiam di tempatnya.
__ADS_1
"Arsen, bisakah kita bicara berdua?" tanya Alya.
"Tentu saja." balas Arsen dengan nada yang masih lemas.
Alya dan Arsen pun menuju balkon ruangan Alya yang tidak begitu besar, Alya mempersilahkan Arsen duduk di kursi kecil yang ada di sana.
"Maaf karena anak-anak bersikap seperti itu kepadamu Arsen, jujur mereka berdua sangat bersemangat mencari keberadaan papa kandung mereka." jelas Alya.
"Hanya saja kesan pertama kamu pada mereka sangat tidak baik dan membuat mereka mencap kamu sebagai orang yang jahat." lanjutnya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu Al, aku sangat merindukanmu dan aku juga sangat ingin bertemu denganmu, namun saat aku menemukanmu kamu sedang tersenyum kepada laki-laki lain." balas Arsen yang membuat Alya menghela nafas panjang.
"Aku tau aku bersalah karena tidak mengkonfirmasi kepadamu lebih dulu, tapi aku tidak menyesal melakukan hal itu, karena saat itu aku benar-benar sakit hati dan tidak ingin anakku di ambil." jelas Alya.
"Aku dan Anjali sudah tidak ada hubungan apa-apa Al, sumpah! Waktu itu aku bicara seperti itu saat kita baru menikah dan di situ aku masih belum mencintaimu." jelas Arsen.
"Sudahlah, jangan bahas tentang hubungan kita Arsen, yang terpenting saat ini bagaimana caranya kamu bisa membuat anak-anak menyukaimu." balas Alya.
__ADS_1
"Jika anak-anak pada akhirnya tidak juga menyukaimu, maka jangan harap kita bisa membicarakan tentang hubungan kita." tegas Alya yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam lagi menemui anak-anaknya.