
Hari ini adalah hari di mana Alya dan Arsenio untuk melakukan fitting baju pernikahan mereka. Tidak ada permintaan khusus tentang baju yang akan dia pakai di pernikahannya, Alya hanya memperbaiki sedikit gaun yang tadinya dia siapkan untuk pernikahannya dengan Tommy.
“Tapi gaunku terlalu megah untuk acara kita yang hanya di hadiri keluarga dan kerabat dekat saja.” Ucap Alya kepada Arsenio saat keduanya melihat gaun milik Alya.
“Tidak apa-apa, walaupun keluarga dan kerabat aku tetap mengadakan acara yang megah.” Ucap Arsenio.
“Pernikahan kita itu hanya pernikahan kontrak bukan? Kenapa harus di buat megah sih?” tanya Alya.
“Pernikahan kontrak juga suci bukan? Lagian ini pernikahan kita yang pertama, bukankah keluarga kita akan curiga kenapa acaranya sangat sederhana?” ucap Arsenio.
Alya berpikir sejenak lalu dia mengangguk mengiyakan ucapan Arsenio, dan akhirnya dia kembali mengukur gaun pernikahannya untuk memastikan kalau ukurannya masih pas di tubuhnya.
Ternyata tidak ada yang perlu di ubah masalah ukurannya, hanya saja Alya ingin menambahkan poin-poin penting di gaunnya yang terlihat polos itu.
Sedangkan Arsenio memiliki tubuh yang kekar mirip seperti model-model luar pada umumnya, jadi tidak perlu waktu lama untuk menemukan jas yang cocok untuknya.
Keduanya sudah selesai dengan pakaiannya masing-masing, keduanya juga tidak menampilkan pakaian yang mereka coba tadi karena menurut mereka itu tidak penting karena pernikahan mereka hanyalah sebuah formalitas jadi apa pun yang satu sama lain pakai itu tidak penting.
“Mau di antar ke mana? Rumah apa apartemen?” tanya Arsenio.
“Ga dua-duanya, antar aku ke butik yang ada di dekat rumah aja ya, mami dan Azzu ada di sana.” Ucap Alya.
“Baiklah.” Balas Arsenio sambil menganggukkan kepalanya.
Keduanya segera menuju ke butik yang ada di dekat perumahan yang tidak lain adalah salah satu cabang butik milik Kalandra, namun Alya tidak mengatakannya kepada Arsenio.
Arsenio menghentikan mobilnya di depan butik, Alya bisa melihat ada mobil adiknya yang sudah terparkir di sana.
“Kamu pergi aja, nanti aku pulang sama mami dan Azzu.” Ucap Alya saat dia mau membuka pintu mobil.
“Ya ga sopan kalo aku pergi gitu aja ninggalin kamu masuk sendirian, aku juga harus nganter kamu masuk terus menyapa mami dan adik kamu.” Ucap Arsenio.
Alya hanya mengangguk sambil sedikit kagum, karena setidaknya laki-laki kejam seperti Arsenio masih memiliki rasa sopan santun.
“Kakak!” Teriak Azzura dengan semangat saat melihat Alya masuk ke dalam butik.
“Yaampun Azzu jangan teriak begitu.” Ucap Alya.
__ADS_1
“Kamu sudah datang Al? bagaimana dengan gaunnya? Kamu mengganti gaunnya atau tidak?” tanya Belinda.
“Engga mi, butuh waktu lama lagi kalo harus ganti, jadi Al cuma mendesain beberapa poin di gaunnya aja biar beda dari aslinya.” Jelas Alya yang di balas anggukan oleh Belinda.
Arsenio yang dari tadi seperti tidak terlihat langsung berdehem dan menyapa Belinda dan Azzura.
“Tante, Azzu, saya pulang dulu ya.” Ucap Arsenio.
“Kakak tampan ga mau makan malam di rumah aja?” tanya Azzura kepada Arsenio.
“Ah sepertinya lain kali saja, aku masih ada kerjaan yang belum di selesaikan.” Balas Arsenio.
“Ya, lebih baik kamu segera selesaikan pekerjaanmu yang penting agar nanti setelah menikah kamu memiliki banyak waktu luang untuk berbulan madu dan memberikan cucu padaku.” Ucap Belinda yang membuat Alya tersedang dengan air liurnya sendiri.
“Mami, kenapa mami bilangnya gitu sih?” ucap Alya.
“Loh kan bener, emang kamu sama Arsen berniat untuk menunda memiliki momongan?” tanya Belinda.
“Kalau sudah waktunya kan pasti di kasih mi, kalau mami bicara seperti itu sama saja seperti beban untukku loh.” Ucap Alya.
“Yah pokoknya kita serahin aja sama Allah mi, Al mau duduk capek dari tadi berdiri nyobaik gaun.” Ucap Alya yang tidak mau memperpanjang masalah lagi.
“Kalau gitu Arsen juga pamit pulang dulu ya tante, titip Alya, kalo dia nakal buang aja ke sungai.” Ucap Arsenio yang membuat mata Alya melotot.
Sedangkan Azzura dan Belinda tertawa mendengar Arsenio menggoda Alya.
“Yaelah, awalnya aku melting loh kak Arsen suruh jagain kak Al, eh ternyata habis di terbangin malah di lempar begitu saja.” Ucap Azzura.
“Azzu!!!” ucap Alya dengan tatapan tajamnya.
Azzura nyengir kuda memamerkan gigi putihnya, lalu segera berlindung di belakang tubuh Belinda.
“Jangan ladenin mereka Arsen, kau pulanglah dan hati-hati di jalan ya.” Ucap Belinda.
Arsenio tersenyum lalu mengangguk sebelum akhrinya pergi dari butik itu mengendarai mobil sportnya.
Alya menyandarkan tubuhnya di sofa yang ada di sana sambil memejamkan kedua matanya, sedangkan Azzura dan Belinda mulai memilih gaun yang di rancang langsung oleh Alya, karena kebanyakan desain di seluruh butik milik keluarga Kalandra di rancang langsung oleh Alya.
__ADS_1
Padahal banyak sekali yang menyukai pakaian rancangan Alya, hanya saja Alya tidak ingin di kenal banyak orang dengan cara seperti itu, dia ingin merintis benar-benar dari bawah, bukannya langsung terkenal karena mendesain di tempat milik keluarganya.
“Kak, aku belum pernah lihat gaun yang ini, kakak baru desain yang ini ya?” tanya Azzura.
Alya yang matanya masih tertutup langsung membuka kedua matanya dan melihat ke arah gaun yang di pegang oleh Azzura.
Alya baru tersadar kalau gaun yang di pegang oleh Azzura adalah gaun yang dia siapkan untuk di pakai oleh Teresa saat pernikahannya dengan Tommy sebelum dia tahu kalau Teresa dan Tommy sudah mengkhianatinya.
“Iya, itu gaun terbaru yang aku desain.” Ucap Alya dengan santai.
“Buat aku boleh ga kak? Bagus banget aku suka.” Ucap Azzura.
“Boleh ga kali ini kakak bilang jangan?” balas Alya yang membuat Azzura mengerutkan keningnya.
Pasalnya sang kakak tidak pernah menolak apa yang Azzura inginkan kecuali kalau memang ada alasan tertentu.
“Kenapa emang kak? Ada sesuatu sama gaun ini?” tanya Azzura.
“Itu gaun yang aku desain buat Tere, kesel aja tiap lihat gaun itu.” Balas Alya.
Azzura terkejut mendengar ucapan kakaknya, lalu dia segera melepaskan gaun yang dia pegang itu.
“M-maaf kak, aku ga jadi pake ini deh, aku pilih gaun yang lain aja.” Ucap Azzura.
“Tapi kalo kamu mau pake ga apa-apa kok, kakak bisa rubah sedikit.” Ucap Alya.
“Beneran kak? Tapi kakak yakin ga apa-apa?” tanya Azzura dengan ragu.
“Yakin kok, ga apa-apa sini biar kakak rubah.” Ucap Alya.
Akhirnya Alya mulai berkutik dengan mesin jahit dan kain-kain, gaun putih yang tanpa lengan itu seketika di sulap dan di beri lengan sedikit namun tetap menampilkan keanggunan bagi orang yang memakainya.
“Ini masih sementara, belum aku jahit paten, bagaimana? Kamu suka kalau seperti ini?” tanya Alya kepada adiknya.
“Suka banget kak! Aku lebih suka yang kayak gini dari pada yang terlalu terbuka kayak tadi.” Sahut Azzura dengan bahagia.
Gaun yang di desain oleh Alya memang tidak pernah gagal, di kantornya pun desainnya selalu di pilih jika ada acara modeling dan lainnya, banyak desainer lain yang iri kepada Alya.
__ADS_1