DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 67


__ADS_3

"Tuan, besok kita harus pergi ke Indonesia." ucap Ferdinand.


"Indonesia? Untuk apa?" tanya Arsen.


"Perusahaan cabang sudah selesai di bangun dan merekrut karyawan baru, tentu saja anda harus menghadiri pembukaan tersebut tuan." Balas Ferdinand.


"Apa aku harus ikut Fer? Aku tidak mau kemana-mana saat ini."


"Tuan, semua karyawan baru harus mengetahui siapa atasan mereka, tuan harus ikut dan aku janji tuan hanya akan menghadiri acara lalu kembali."


"Baiklah kalau begitu, siapkan saja semuanya aku mau tidur sebentar, bangunkan aku saat jam pulang nanti." ucap Arsen yang di balas anggukan oleh Ferdinand.


Ferdinand langsung membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan Arsen dengan perlahan agar istirahat Arsen tidak terganggu, pasalnya Arsen memang jarang sekali tidur dan saat dia sudah lelah Ferdinand akan melarang semua orang untuk mengganggu Arsen dan membiarkan Arsen untuk beristirahat selama yang dia mau.


"Bagaimana dia? Apa dia baik-baik saja?" tanya Daisy yang melihat Ferdinand keluar dari ruangan Arsen.


"Dia terlihat baik-baik saja, tapi aku yakin hatinya sedang tidak baik-baik saja." balas Ferdinand.

__ADS_1


"Sampai kapan dia akan seperti itu." gumam Daisy yang masih bisa di dengar oleh Ferdinand.


"Sampai Alya di temukan mungkin, kenapa Alya tidak kembali juga ya?" ucap Ferdinand.


"Aku tidak menyalahkan Alya untuk hal ini, hatinya juga pasti sakit Fer, di saat dia mulai membuka hatinya lagi malah harus patah lagi, wajar lah kalo kabur." ucap Daisy.


Tanpa mereka sadari, di dalam ruangan Arsen mendengar semua percakapan mereka karena pintu ruangan Arsen belum sepenuhnya tertutup karena terhalang dokumen Ferdinand yang tanpa sengaja terjatuh.


"Udah ah gausah di bahas lagi, kita cuma bisa berdoa aja biar Alya bisa kembali lagi, aku kangen sama pertanyaan-pertanyaan dia." ucap Daisy.


"Hem aku juga." balas Ferdinand.


"Fer! Dokumen lo!" panggil Daisy dengan suara yang lantang.


Ferdinand langsung berbalik dan menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Daisy.


"Yaampun untung aja lo lihat, kalo engga bisa abis gue sama Arsen." ucap Ferdinand.

__ADS_1


"Pintunya jadi ga ketutup rapet, tuan Arsen dengar ga ya?" tanya Daisy.


Ferdinand langsung membuka sedikit pintu ruangan itu dan melihat apakah Arsen sudah tidur apa belum.


"Sepertinya dia sudah tidur dan tidak akan mendengar." balas Ferdinand sambil menutup pintu dengan rapat.


Akhirnya Ferdinand dan Daisy kembali ke aktifitas mereka masing-masing.


Sedangkan di dalam ruangannya, Arsen yang tadi pura-pura menutup mata langsung membuka kembali kedua matanya lalu menatap lurus ke langit-langit ruangannya.


Arsen seketika memikirkan apa yang di ucapkan Daisy tadi, harusnya Arsen terus berusaha mencari keberadaan Alya, tapi dengan bodohnya dia malah membenci istrinya yang baik itu.


"Al, aku benar-benar sudah mencintai kamu, kenapa kamu malah pergi begitu saja tanpa bertanya dulu kepadaku." gumam Arsen sambil menatap foto Alya yang berukuran kecil di dalam dompetnya.


Tidak ada yang mengetahui tentang foto Alya di dalam dompetnya itu, karena memang tidak ada yang pernah melihat isi dompetnya.


"Aku akan selalu menunggumu Al, selama ini tidak ada wanita lain yang sepertimu." gumam Arsen.

__ADS_1


Sampai akhirnya Arsen pun tertidur dengan dompet yang masih berada di atas perutnya dengan posisi terbuka.


__ADS_2