
Sampai akhirnya Arsenio sudah menemukan kunci pintu balkonnya dan segera membukakan pintu, sedangkan Alya langsung membawa cangkir kopi itu dan mengikuti Arsenio berjalan keluar balkon.
“Yaampun, balkonnya benar-benar seperti orangnya ya, hampa.” Gumam Alya yang masih bisa di dengar oleh Arsenio.
“Enak aja aku di samain sama balkon!” celetuk Arsenio tidak terima.
Alya hanya tertawa sedikit mendengar celetukan suaminya itu, dia lalu menaruh cangkir di atas meja dan duduk tanpa di suruh oleh Arsenio.
“Kamu harus sering buka balkon apa lagi kalau lagi kerja biar ada udara segar yang masuk terus bikin otak kamu seger.” Jelas Alya.
“Aku ga pernah perduli masalah itu.” Ucap Arsenio.
“Ya ga boleh kayak gitu, otak juga butuh refreshing loh biar ga stres.” Ucap Alya.
Arsenio hanya diam tidak mengatakan apapun, lalu matanya beralih pada kopi yang ada di atas meja.
“Ini kopi siapa? Kok cuma satu?” tanya Arsenio.
“Tadi kan aku bilang ini kopi buat kamu, aku emang bikin cuma buat kamu aja soalnya aku ga bisa tidur kalo ngopi.” Jelas Alya.
“Aku minum ya.” Ucap Arsenio yang di balas anggukan oleh Alya.
Arsenio mencium aroma kopi itu lebih dulu lalu dia mengerutkan keningnya karena merasa aneh dengan aromanya yang berbeda dari kopi yang biasanya di buatkan oleh pelayan mereka.
Namun laki-laki itu tidak ingin mengatakan apa-apa kepada Alya karena dia ingin menghargai Alya yang sudah mau membuatkan kopi untuknya.
Namun saat Arsenio sudah meneguk kopi itu seketika dia mematung sejenak merasakan kopi yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
Enak, sangat enak, hanya itu yang ada di pikiran Arsenio karena kopi itu benar-benar sangat enak lebih enak dari kopi yang pernah dia rasakan.
Alya menoleh ke arah Arsenio, dia heran karena Arsenio malah diam saja tidak mengatakan apa-apa.
“Kamu kenapa diem aja? Ga enak ya? Kalo ga enak aku ganti aja aku minta pelayan buatin kopi yang biasa kamu minum mau?” tanya Alya.
“Enak! Enak kok, aku ga mau ganti kopi.” Tegas Arsenio dengan cepat.
__ADS_1
“Beneran enak? Kamu ga lagi bohong cuma buat aku seneng aja kan?” tanya Alya.
“Aku ga pernah bohong cuma buat orang lain seneng aja, kalo ga enak ya aku bilang ga enak, tapi ini beneran enak kok.” Balas Arsenio.
“Baiklah kalau begitu, syukurlah kalau kamu suka sama kopi buatan aku.” Ucap Alya sambil tersenyum.
“Kayaknya kamu serba bisa ya? Masak enak, buat kopi juga rasanya lebih enak dari barista yang ada di cafe berbintang.” Ucap Arsenio.
“Yah kebetulan aja lah itu.” Balas Alya sambil menunduk malu.
“Terimakasih ya.” Ucap Arsenio membuat Alya yang sedang menunduk langsung menoleh ke arah Arsenio.
“Terimakasih buat apa?” tanya Alya sambil mengerutkan keningnya.
“Terimakasih karena kamu sudah mau menemani aku.” Ucap Arsenio.
“Ngapain harus terimakasih, aku harusnya minta maaf soalnya aku ga sengaja nguping pembicaraan kamu di telfon tadi.” Balas Alya.
“Ga masalah kok, aku juga yang salah teriak-teriak padahal udah malem.” Ucap Arsenio.
Arsenio menoleh ke arah Alya, dia melihat wajah Alya malam itu terlihat sangat bersih dan bercahaya, terlihat sangat cantik. Alya merasa kalau Arsenio sedang memandangi wajahnya.
“Ngapain sih liatin aku terus?” ucap Alya tanpa menoleh membuat Arsenio langsung memalingkan wajahnya dari Alya.
“Kamu tadi dengar pembicaraan aku di telfon bukan? Pasti kamu udah tau kan kalau om ku sudah mengambil investor terbesar perusahaanku.” Ucap Arsenio.
“Aku sebenernya ngerti sedikit tentang perusahaan karena papi sering ngajarin dan nyuruh anak-anaknya ke perusahaan untuk belajar secara langsung, tapi aku ga pernah tau kalau investor bisa pindah haluan semudah itu, kamu cuma dua hari lengah loh.” Ucap Alya yang menanggapi masalah Arsenio dengan serius.
“Bisa saja, selama ada uang semua akan terselesaikan, pasti om ku mengimingi banyak hal yang menggiurkan sampai dia bisa beralih.” Jelas Arsenio.
“Kamu juga harus hati-hati, selama berada di sini kamu akan sering bertemu dengan mereka, kalau mereka melakukan hal yang tidak-tidak langsung bilang aku.” Ucap Arsenio mengingatkan Alya.
“Kamu ini ngeremehin aku ya? Aku ga semudah itu di tindas kok santai aja.” Ucap Alya.
“Yah kamu memang kuat, tapi kalau setiap hari apa masih kuat?” tanya Arsenio.
__ADS_1
“Jangan bahas masalah itu dulu, yang penting di jalanin dulu, aku ini ga akan nyerah sebelum berperang tenang aja.” Ucap Alya dengan yakin.
Arsenio hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Alya, dia kembali meneguk kopi buatan Alya sampai benar-benar hanya tersisa ampasnya saja.
“Kopiku habis, kamu ga ada niatan buat bikinin lagi?” tanya Arsenio sambil menunjukkan cangkir yang sudah kosong.
“Mending sekarang tidur aja, kamu udah capek juga kan mikir masalah perusahaan? Tidurlah, besok pagi akan aku buatkan lagi.” Balas Alya sambil tersenyum.
Arsenio dengan pasrah akhirnya mengangguk mengiyakan ucapan Alya dan keduanya memutuskan untuk masuk ke dalam.
Alya lebih dulu naik ke atas tempat tidur, sedangkan Arsenio memilih untuk mandi air hangat lebih dulu sebelum tidur.
Setelah keluar dari kamar mandi, lebih dulu Arsenio memakai pakaiannya di walk in closet dan melihat ponselnya yang bergetar.
Arsenio tersenyum tipis melihat pesan yang masuk di ponselnya, lalu pandangannya beralih ke arah Alya yang sudah tertidur lelap di atas tempat tidur.
Seketika wajah Arsenio berubah menjadi sendu tidak bisa di artikan. Setelah beberapa detik menatap Alya barulah Arsenio naik ke atas tempat tidur juga lalu dia berinisiatif untuk memeluk tubuh Alya lebih dulu.
Alya yang memang sudah terlelap itu tidak berkutik sama sekali saat tangan kekar itu melingkar di tubuhnya.
Entah kenapa Arsenio seperti tertarik untuk memeluk tubuh Alya, rasanya tubuh Alya memiliki magnet yang membuat Arsenio tertarik untuk memeluknya, terutama aroma tubuh dan rambut Alya benar-benar membuat Arsenio tenang.
Sedangkan di ruangan lain, oma Nani sedang berbicara dengan Ferdinand asisten pribadi Arsenio, karena setelah Ferdinand memberitahu tentang situasi perusahaan kepada Arsenio, dia juga langsung mengatakan hal itu kepada oma Nani, dan oma Nani segera menyuruh Ferdinand untuk datang ke mansionnya.
“Entah kenapa anak-anakku tidak pernah akur satu sama lain, bahkan sama keponakan mereka aja mereka bisa melakukan hal seperti itu.” Ucap oma Nani sambil memegang kepalanya.
“Ini salahku karena tidak bisa menghandle perusahaan dengan baik oma.” Ucap Ferdinand.
Ferdinand adalah anak dari sahabat orang tua Arsenio, orang tua Arsenio telah membantu orang tua Ferdinand dengan tulus hingga membuat orang tua Ferdinand bersumpah untuk menjadi orang kepercayaan keluarga mereka dan berjanji akan setia selamanya.
Oma Nani menganggap Ferdinand juga sebagai cucunya, dan Arsenio juga menganggap Ferdinand sebagai saudaranya dan Arsenio sangat percaya dengan Ferdinand.
“Tidak ini bukan salah kamu Fer, ini salah oma yang tidak bisa mendidik anak-anak oma dengan baik.” Ucap oma Nani.
“Lalu apa yang harus kita lakukan oma? Arsen hanya diam karena mereka adalah keluarganya, kalau tidak mereka pasti tidak akan selamat dari amukan Arsen.” Ucap Ferdinand.
__ADS_1
Oma Nani menatap wajah Ferdinand, dia juga tau cucunya tidak memiliki kesabaran setebal itu, hanya karena om nya yang melakukan hal itu makanya Arsenio tidak menganggapnya serius. Tapi oma Nani khawatir kalau sampai anak-anaknya membuat kesabaran Arsenio habis.