DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 9 (PERTUNANGAN)


__ADS_3

Acara pertunangan pun selesai, sejak pertama acara sampai terakhir Alya hanya bisa memaksakan senyumnya tanpa mengatakan apapun, dia bahkan tidak membalas semua pertanyaan Tommy, hanya sesekali saja saat pembawa acara menyuruhnya.


“Alya, apa kamu baik-baik saja? Kenapa sepertinya sejak tadi kamu tidak bicara padaku?” tanya Tommy kepada Alya.


“Aku bicara padamu kok.” Balas Alya.


“Kapan?” tanya Tommy dengan kening yang berkerut.


“Tadi saat aku menerima lamaranmu, bukankah aku berbicara padamu?” tanya Alya.


“Bukan itu, maksudku saat aku bertanya padamu tentang hal lain.”


“Aku hanya sedang tidak mood saja.” Balas Alya dengan malas.


“Tidak mood? Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Tommy yang mulai panik dengan sikap wanita yang saat ini sudah menjadi tunangannya itu.


Drrtt,, drrtt... Tiba-tiba saja ponsel Alya bergetar menandakan ada pesan yang masuk membuatnya langsung melihat ponselnya.


“Maaf Tom, aku harus menemui adikku dulu.” Ucap Alya yang langsung pergi begitu saja.


Tommy ingin mencegah Alya pergi, hanya saja dia tidak bisa karena dia tidak ingin Alya merasa terkekang berada di sampingnya.


Teresa yang sejak tadi memang memantau Tommy dan Alya hanya bisa menatap Tommy dengan tajam, dia langsung berjalan menghampiri Tommy saat memastikan kalau Alya sudah tidak terlihat lagi.


“Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kamu merasa khawatir dengan wanita itu? Apa kamu khawatir karena wanita itu berubah? Bukankah itu bagus, karena itu akan mempermudah kamu meninggalkannya.” Bisik Teresa penuh dengan penekanan.


Mendengar ucapan Teresa membuat Tommy terdiam, dia menatap tajam ke arah Teresa, entah kenapa rasanya dia tidak suka karena Teresa mengatakan hal itu.


“Kenapa kamu menatapku begitu? Kamu sudah terlena dengan make up nya itu? Dia seperti itu hanya jika ada acara tertentu, apa kamu lupa kalau dia bahkan tidak suka memakai bedak, bagaimana bisa dia akan membuatmu puas nantinya?” ucap Teresa dengan mata yang membara.


“Apa kamu bisa diam Tere? Aku lelah hari ini jadi aku mohon jangan mengajakku berbedat sekarang.” Ucap Tommy yang sudah malah meladeni Teresa.


Tommy langsung berjalan meninggalkan Teresa yang masih kesal, wanita itu merasa kalau kekasihnya sekarang sudah mulai tertarik dengan Alya, dan Teresa tidak ingin hal itu terjadi, tidak ada yang boleh memiliki Tommy selain dirinya.


Karena walaupun Tommy tidak berhasil mendapatkan kekayaan Alya pun dia masih memiliki perusahaan orang tuanya, Tommy bukanlah orang biasa, dia dan keluarganya juga memiliki kekayaan yang lumayan, hanya saja memang keluarga Alya jauh lebih kaya di bandingkan Tommy.

__ADS_1


Tapi Teresa tidak perduli, dia hanya menginginkan Tommy saat ini karena hanya Tommy lah laki-laki kaya yang berhasil dia goda sampai mau meninggalkan kekasih polosnya itu.


Setelah melihat Tommy pergi, Teresa yang penasaran dengan yang di lakukan Alya pun segera mengikuti wanita itu, dia penasaran kenapa hari ini Alya terlihat tidak semangat padahal dari dulu dia sangat ingin menjadikan Tommy sebagai laki-laki pertama dan terakhirnya.


Teresa melihat Alya yang sedang berada di halaman belakang sedang fokus dengan ponselnya, sesekali dia mengendus kesal membuat Teresa mengerutkan keningnya.


“Dia lagi chattingan sama siapa sampe kayak gitu?” gumam Teresa penasaran.


Karena selama ini Alya hanya memiliki nomer telfon Tommy, Teresa, dan keluarganya saja, Alya memang tidak pernah menyimpan nomer ponsel orang yang tidak dekat dengannya.


Sedangkan Alya yang sudah membuka pesan di ponselnya hanya bisa mengendus kesal saat membaca pesan masuk.


“Bertahanlah sebentar, aku akan segera menjemputmu setelah laki-laki itu menyesal, aku tunggu di apartmentmu.” Itu adalah pesan yang di kirim oleh Arsenio Finn Craig yang baru saja bertemu dengan Alya hari ini tapi sudah memporak porandakan hari Alya yang biasanya tenang.


“Dia tau nomerku? Oke mungkin dia ngambil nomerku pas ponselku dia pegang, tapi dari mana dia tau apartmentku? Apa dia bekerja sebagai mata-mata? Apa dia salah satu orang suruhan musuh papi buat melukai aku?” gumam Alya berpikir semua sekenario yang mungkin saja terjadi.


“Tapi papi hanya seorang dokter yang memiliki beberapa perusahaan saja jadi tidak mungkin kalau memiliki banyak musuh, kalau musuh opa Kalandra kenapa orang itu harus menargetkan aku? Cucu opa Kalandra kan ada banyak.” Gumam Alya yang masih berpikir keras.


Entah kenapa Alya ingin sekali keluar dari masalah ini, dia ingin memutuskan hubungan dengan Tommy, ingin terbebas dari Arsenio dan kembali ke Indonesia untuk memulai hidup baru yang menyenangkan.


“Kak Tere? Kakak ngapain di sini?” tanya Azzura dengan suara melengkingnya membuat Alya dan Teresa terkejut.


“Oh, kak Tere mau nyamperin kakak ya?” tanya Azzura saat melihat ternyata ada kakaknya di taman belakang.


Sedangkan Teresa yang tadinya salah tingkah langsung mengangguk mengiyakan ucapan Azzura.


“I-iya aku nyariin Alya dan ternyata dia di sini.” Ucap Teresa berbohong.


“Kamu sudah lama di sini Tere?” tanya Alya.


Sebenarnya Alya tau kalau Teresa tidak benar-benar ingin menemuinya, dia hanya penasaran dengannya saja.


“Baru kok, aku baru ke sini tadi tanya Tommy katanya kamu ke sini.” Ucap Teresa berbohong.


“Ada apa cari aku? Kamu mau ngomong sesuatu?” tanya Alya.

__ADS_1


“Engga jadi, aku cuma mau ngomong selamat buat kamu karena udah jadi tunangan Tommy, kamu kan emang berharap banget bisa berakhir sama Tommy.” Jawab Teresa.


Alya hanya tersenyum mendengar jawaban dari Teresa, ingin sekali dia berteriak dan menjambak rambut wanita yang mengaku sahabatnya ini.


“Cuma mau ngomong itu? Terus kamu Azzu, ngapain di sini?” tanya Alya.


“Aku mau jalan-jalan aja, di dalem bosen ga punya temen.” Jawab Azzura yang di balas anggukan oleh Alya.


Hari pun sudah malam, semua orang sudah meninggalkan kediaman Kenan, dan hanya tersisa keluarga Alya dan para pelayan yang sedang membersihkan sisa-sisa acara.


“Al, bisakah kita bicara?” tanya Belinda kepada putrinya.


“Bisa mi, mau bicara di sini atau di mana?” tanya Alya.


“Di taman aja, mami buatin teh hangat sama beberapa camilan, kamu duluan aja ke belakang.” Ucap Belinda sambil mengedipkan sebelah matanya.


Alya tersenyum sambil mengangguk, dia dan Belinda memang sudah seperti bestie, tidak ada yang di sembunyikan Alya kepada Belinda dan itu yang membuat keduanya sangat dekat.


Alya sudah duduk di gazebo yang ada di belakang rumah, dia melihat ke kolam ikan koi milik Aiden yang sekarang sudah sangat besar-besar dan menggemaskan.


Tidak lama kemudian, Belinda datang dengan nampan berisi dua gelas teh dan satu piring berisi kentang goreng yang Belinda buat sendiri.


“Ayo di minum dulu.” Ucap Belinda sambil tersenyum ke arah Alya.


“Terimakasih mi..” ucap Alya sambil mengambil gelas yang berisi teh hangat itu.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Belinda tiba-tiba membuat Alya menoleh ke arahnya.


“Maksudnya mi?” tanya Alya dengan kening yang berkerut.


“Mami tau kalo kamu sedang tidak baik-baik saja sayang,, ada masalah yang mengganggumu?” tanya Belinda.


Alya hanya bisa menghela nafas panjang, dia tau kalau dia tidak bisa berbohong kepada maminya.


“Jadi? Ada apa sayang?” tanya Belinda.

__ADS_1


“Mi, kalau tiba-tiba aku membatalkan pertunanganku dengan Tommy apa tidak masalah?” tanya Alya.


Belinda terkejut mendengar ucapan putrinya, pasalnya putrinya sangat menyukai Tommy sampai dia berusaha untuk merayu papinya yang awalnya tidak setuju dengan hubungan mereka.


__ADS_2